Liputan6.com, Jakarta - PT Venteny Fortuna International Tbk (VTNY) mencatat penurunan laba bersih sebesar 25,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada semester I-2026. Penurunan tersebut terjadi di tengah pendapatan perseroan yang masih tumbuh tipis 1,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Director and Group CFO Venteny, Kaleb Solaiman, mengatakan tekanan terhadap kinerja perseroan tidak lepas dari kondisi ekonomi global dan domestik yang kurang kondusif.
"Kita tidak dapat memungkiri bahwa adanya trade war, lalu kondisi ekonomi yang kurang baik secara global, maupun adanya demo-demo di Jakarta maupun di Indonesia, salah satu yang menyebabkan ekonomi secara global menurun maupun secara domestik juga kami kena impact," kata Kaleb dalam Public Expose 2026 Venteny, Selasa (8/9/2026).
Selain kondisi ekonomi, tekanan inflasi juga turut membebani kinerja Venteny. Di sisi lain, perseroan tetap menambah sumber daya manusia (SDM) untuk mengejar target pertumbuhan penjualan.
Penambahan SDM tersebut kemudian berdampak terhadap peningkatan biaya operasional perseroan.
"Kami tetap mempertahankan untuk mencapai target pertumbuhan penjualan, kami menambah beberapa SDM yang menyebabkan kami punya biaya operasional meningkat, yang mengakibatkan kami mengalami penurunan dibanding semester 1 tahun lalu," jelasnya.
Pada semester I-2026, Venteny membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 105,8 miliar, meningkat 1,8 persen dari Rp 104 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, laba kotor perseroan masih tumbuh 4,4 persen.

Dari sisi segmen bisnis, lini B2B financial service menjadi salah satu penopang pertumbuhan pendapatan Venteny.
Pendapatan dari segmen tersebut meningkat 8,1 persen menjadi Rp 60,9 miliar pada semester I-2026, dibandingkan Rp 56,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebaliknya, segmen B2B2E yang menyasar karyawan mencatat penurunan pendapatan sebesar 5,8 persen.
Dari sisi neraca, Kaleb mengatakan total aset perseroan tumbuh 7 persen, sementara liabilitas meningkat 4 persen dibandingkan semester I-2025. Pada periode yang sama, ekuitas Venteny tumbuh lebih tinggi, yakni 21 persen.
Struktur pendanaan perseroan juga masih didominasi sumber dana luar negeri, khususnya dari Jepang. Porsi pendanaan dari luar negeri mencapai 77 persen, sedangkan 23 persen lainnya berasal dari dalam negeri.
Dalam kesempatan yang sama, Director and Group CTO Venteny Tri Ismardiko Widyawan menjelaskan rencana pembagian dividen maupun aksi korporasi perseroan.
Sejak resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada Desember 2022, Venteny belum memiliki rencana untuk membagikan dividen dalam waktu dekat.
"Untuk saat ini Venteny belum memiliki rencana pembagian dividen dalam waktu dekat. Prioritas kami di 2026 adalah memperkuat struktur permodalan serta modal kerja, serta membiayai ekspansi sistem bisnis produktif di segmen B2B dan B2B2E," kata Tri.
Menurut Tri, perseroan akan memprioritaskan penggunaan dana untuk memperkuat bisnis dan teknologi.
Venteny akan terus berinvestasi pada infrastruktur teknologi, termasuk mengembangkan Venteny Management System dan Loan Origination System sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko kredit.
Selain itu, perseroan akan mengembangkan fitur-fitur baru pada Venteny Super Apps untuk mendukung layanan B2B2E.