TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ibu-ibu yang tergabung dalam Suara Ibu Indonesia masih konsisten memukul panci sebagai simbol perlawanan.
Satu tahun lalu, Suara Ibu Indonesia melakukan aksi pukul panci sebagai protes dan penolakan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, satu tahun berlalu tidak ada perubahan, bahkan korban keracunan MBG menurut Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencapai 43.838.
Itulah yang melandasi Suara Ibu Indonesia kembali memukul panci dalam aksi Jalan Sore Pukul Panci.
Para ibu memulai aksinya dari Tugu Golong Gilig, kemudian berjalan ke utara. Sesampainya di simpang empat Jetis yang juga dekat dengan salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), peserta berhenti untuk menyuarakan keresahannya. Setelah itu, peserta melanjutkan perjalanan dan berakhir di Bundaran UGM.
Mewakili Suara Ibu Indonesia, Kalis Mardiasih mengatakan aksi ini membuktikan pemerintah tidak memiliki komitmen untuk mendengarkan akademisi, para ahli, dan segala masukan yang merespons program MBG.
Pemerintah hanya mengganti kepala Badan Gizi Nasional, namun tidak menyentuh akar masalah MBG, yaitu tata kelola yang carut marut hingga sentralisasi SPPG.
“Aksi dengan memukul panci menjadi simbol yang sangat darurat, ketika para ibu telah keluar dari rumah mereka, membawa alat domestik yang biasanya di dalam rumah tetapi hari ini sudah keluar dari rumah meminta keadilan, meminta pengelola negara membuka kuping. Kalau sudah dipukul seperti ini, dan masih tidak mendengar, fiks nggak punya malu,” katanya saat ditemui di Tugu Golong Gilig, Selasa (8/9/2026).
Suara Ibu Indonesia juga menyoroti soal banyaknya korban keracunan MBG, namun hingga saat ini belum ada pihak yang dihukum dan dijadikan tersangka.
“Aksi pertama itu ketika merespons KLB keracunan massal MBG d Bandung Barat. Jumlah korban semakin besar dari sekitar 3.000 korban tahun pertama menjadi 43.000, dan sama sekali tidak ada yang dihukum,” sambungnya.
Dalam aksi tersebut, Suara Ibu Indonesia mendesak agar program MBG dihentikan dan mengalihkan anggarannya untuk mitigasi bencana hingga tuntas.
Tidak hanya itu, Suara Ibu Indonesia juga menuntut aparat penegak hukum menghentikan segala bentuk kekerasan dan intimidasi terhadap masyarakat sipil yang menyuarakan kritik dan protes atas kebijakan pemerintah.
Tuntutan lainnya ialah menghentikan upaya membenturkan konflik horizontal sebagai alat meredam protes masyarakat.
Salah satu peserta aksi, Intan mengungkapkan penerapan MBG saat ini masih sangat carut-marut, banyak keracunan, dan sistemnya belum berjalan baik. Sebagai seorang ibu, ia tidak ingin anak bangsa justru menjadi korban keracunan.
Ia juga melihat sasaran MBG masih belum tepat. Pasalnya masih banyak sekolah-sekolah yang mestinya tidak mendapatkan MBG justru mendapatkan MBG.
“Ada situasi anak belum tercukupi, tetapi kita tahu penerapan MBG ini masih sangat carut-marut, semua harus dapat MBG, sekolah yang seharusnya nggak dapat MBG malah dapat MBG. Seharusnya lebih tepat guna. Dan masih banyak keracunan, satu keracunan saja sudah banyak, sudah 43 ribu. MBG harus dihentikan,” ujarnya.
Tidak hanya ibu-ibu, aksi tersebut juga diikuti oleh mahasiswa, salah satunya Kiera. Sebagai mahasiswa, ia ikut terdampak adanya program MBG. Ia menilai adanya program MBG membuat biaya kuliah semakin mahal dan peluang mendapatkan beasiswa semakin sempit.
“Saya perempuan, dan saya juga calon ibu, saya nggak ingin anak saya kelak merasakan kebobrokan negara yang sekarang dialami oleh rakyat. Saya sebagai mahasiswa juga merasakan dampaknya, UKT semakin mahal, beasiswa juga semakin sudah karena ada pemangkasan anggaran. Secara tidak langsung juga ikut merasakan dampak MBG,” imbuhnya. (maw)