TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Deru mesin tua terdengar dari kawasan Kalurahan Tirtonirmolo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (8/9/2026) siang.
Suara tersebut bersumber dari kereta diesel atau sering disebut lori yang dikelola Pabrik Gula Madukismo.
Kereta tersebut menjadi bagian armada untuk membawa wisatawan yang ingin menikmati agrowisata dan wisata edukatif dari PT Madubaru PG-PS Madukismo.
Lokasinya berada di Jalan Padokan, Kalurahan Tirtonirmolo atau berjarak sekitar 100 meter antara Ring Road Selatan sampai simpang empat Madukismo.
Koordinator Pengembangan Aset PT Madubaru PG-PS Madukismo, Mahmud Safrudin, menyampaikan, kereta wisata ini memiliki jam operasional sendiri.
Bahkan, wisatawan yang ingin menggunakan kendaraan tersebut harus melakukan reservasi terlebih dahulu dan informasi lainnya bisa melihat di Instagram @madubaru_official.
"Dalam sehari, maksimal kereta beroperasi sebanyak empat kali. Operasional kereta mulai jam 07.00 WIB sampai 14.00 WIB. Karena durasi per kunjungan itu dua jam. Jadi, kunjungan terakhir jam 14.00 WIB itu, wisatawan keluar kunjungan jam 16.00 WIB," ucapnya, kepada awak media di PT Madubaru PG-PS Madukismo.
Dikatakannya, kereta agrowisata berusia 71 tahun ini menjadi salah satu ikon wisata PG Madukismo. Kereta itu sudah ada sejak Madukismo berdiri. Di mana, Madukismo sendiri dibangun tahun 1955 atas Prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwana IX.
Dulu, di Jogja ada 17 pabrik gula. Namun, 17 pabrik tersebut sudah dibumihanguskan. Kemudian, Madukismo berdiri untuk merekrut tenaga kerja yang dulunya bekerja di 17 pabrik gula tersebut. Dulu, salah satu pabrik gula itu bernama Pabrik Gula Padokan namun sudah dibumihanguskan.
Armada kereta tersebut resmi dioperasikan untuk mendukung kegiatan wisata edukasi. Kereta ditarik lokomotif diesel buatan Jerman Timur yang memiliki kemampuan menarik hingga 15 gerbong dengan kapasitas sekitar 300 penumpang dalam satu kali perjalanan
"Setelah naik kereta tersebut, wisatawan akan diajak untuk mendapatkan edukasi berupa budaya kerja di pabrik Madukismo seperti apa. Lalu, proses bagaimana membuat kristal gula dari bahan tebu," jelas Mahmud.
Artinya, pengunjung tidak hanya dapat merasakan sensasi menaiki kereta diesel klasik, tetapi juga menyaksikan secara langsung seluruh tahapan produksi gula pasir mulai dari proses penerimaan tebu, penggilingan, hingga pengolahan menjadi gula siap konsumsi dapat diamati dari dekat.
Selain itu, pengunjung bisa mengetahui proses pengolahan limbah menjadi spiritus dan alkohol dengan kadar 95,3 persen. Ada pula, proses pemurnian atau memisahkan air murni dan endapan. Endapan akan digunakan sebagai pupuk organik yang dikembalikan untuk tanaman tebu.
"Ada juga limbah cair. Nah, untuk limbah cair sendiri, sebelum dibuang akan diolah melalui limbah instalasi pengolahan air limbah. Jadi, semua tebu yang masuk hingga limbah yang keluar sudah dipikirkan secara matang," terangnya.
Tidak sampai di situ saja, pihaknya juga kerap menyampaikan nilai sejarah Jogja terdahulu. Salah satu sejarah yang disampaikan yakni Ngarsa Dalem IX pernah menyumbangkan biaya untuk kas negara sejumlah 6.000.000 gulden.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati sarana wisata tersebut cukup mengeluarkan uang senilai Rp13 ribu per orang dengan jumlah pemesanan minimal 30 orang. Akan tetapi, apabila jumlah pemesanan kurang dari 30 orang, maka akan dikenakan hitungan biaya paket kunjungan wisata senilai Rp450 ribu.
Agar bisa mendapatkan sensasi wisata yang lebih, wisatawan disarankan untuk datang saat musim penggilingan tebu yang berlangsung pada musim kemarau atau sekitar bulan Mei sampai Oktober.
"Setelah beberapa bulan tebu ditanam, maka akan dipanen saat musim kemarau atau panas. Karena, kami mencari kadar gula tertinggi. Biasanya jatuh pada Mei-Oktober. Dalam sehari, kami membutuhkan 500-600 armada angkutan," jelas Mahmud.
Setiap harinya saat musim penggilingan tebu berlangsung, pihaknya bisa mengolah sebanyak 3.500 ton batang tebu dan mampu menghasilkan kisaran 25.000 ton gula pasir atau sekitar 5.000 karung gula pasir. Adapun bahan tebu diperoleh tidak hanya dari DIY saja namun berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
"Program agrowisata ini terbuka bagi masyarakat umum, komunitas, maupun rombongan dari berbagai daerah," pungkas Mahmud. (nei)