TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Sebaran abu vulkanik pasca erupsi Gunung Anak Krakatau telah menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek.
Abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dibandingkan polusi udara atau asap kebakaran hutan (karhutla).
Paparan abu dalam jumlah tertentu dapat mengganggu kesehatan, khususnya saluran pernapasan.
Baca juga: Kasus ISPA di Banten Naik Usai Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau, PJJ di Banten sampai 11 September
"Dampaknya dapat berbeda pada setiap orang, tergantung konsentrasi abu yang terhirup, lamanya paparan, serta kondisi kesehatan masing-masing," kata dia dikutip Rabu (9/9/2026).
Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:
Batuk, tenggorokan terasa gatal atau teriritasi, produksi lendir berlebih, hingga sesak napas.
Paparan langsung dapat menyebabkan mata terasa perih atau mengalami iritasi serta menimbulkan gangguan pada kulit.
Abu yang mencemari makanan atau minuman terbuka dapat ikut tertelan dan menimbulkan gangguan pencernaan.
Gangguan kesehatan akibat abu vulkanik dapat muncul dalam waktu singkat maupun setelah paparan berulang.
Pada kelompok tertentu juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik, antara lain:
Anak-anak dan lansia, yang memiliki sistem pernapasan lebih sensitif.
Petugas lapangan, terutama mereka yang harus beraktivitas di wilayah dengan konsentrasi abu tinggi.
Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, dr. Sardikin menyarankan masyarakat melakukan sejumlah langkah perlindungan diri.
Ketika hujan abu terjadi, sebaiknya masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah.
Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan sebaiknya mendapat perhatian lebih dan membatasi aktivitas di luar ruangan.
Jika harus beraktivitas di luar rumah, gunakan pakaian yang menutupi kulit dan pelindung mata untuk mengurangi kontak langsung dengan abu vulkanik.
Masyarakat perlu memperhatikan gejala yang muncul setelah paparan. Jika mengalami batuk yang terus-menerus, produksi dahak berlebih, dada terasa sesak, atau kesulitan bernapas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Bagi penderita asma, PPOK, maupun penyakit paru lainnya, kewaspadaan perlu ditingkatkan karena paparan abu vulkanik dapat memicu atau memperburuk gejala.