Bupati Kulon Progo Sebut Regrouping Sekolah Jadi Langkah Efisiensi dan Optimalisasi Pendidikan
Muhammad Fatoni September 09, 2026 12:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo menjadikan program regrouping atau penggabungan sekolah sebagai salah satu upaya efisiensi anggaran.

Sebab, saat ini cukup banyak sekolah yang mengalami kekurangan pelajar dan berpengaruh pada pembelajaran.

Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, menjelaskan bahwa regrouping sekolah saat ini menjadi sebuah keharusan.

Ia menilai kebijakan itu bisa mewujudkan efisiensi anggaran yang cukup tinggi.

"Sebab dari upaya regrouping sekolah di batch pertama sudah menghemat anggaran hingga Rp 937 juta," ungkap Agung pada Rabu (09/09/2026).

Penghematan terutama dalam hal pemeliharaan infrastruktur sekolah, sebab bangunan sekolah yang harus ditangani menjadi lebih sedikit.

Selain itu biaya operasional sekolah dari daerah bisa lebih ditekan.

Optimalisasi Pendidikan

Agung pun melihat regrouping sebagai langkah optimalisasi sektor pendidikan. 

Pasalnya, banyak sekolah yang saat ini mengalami kekurangan pelajar, dan kondisi ini berdampak pada operasional hingga aktivitas pembelajaran.

"Pelajar bisa tidak mendapat alokasi BOS (Bantuan Operasional Sekolah) karena pelajarnya sedikit, sedangkan guru-guru bisa tidak mendapatkan TPG (Tunjangan Profesi Guru) karena jam mengajarnya sedikit," jelasnya.

Menurut Agung, regrouping menjadi jawaban terhadap tren menurunnya jumlah anak usia sekolah sebagai efek dari program Keluarga Berencana (KB). Belum lagi minat untuk masuk ke sekolah negeri juga cenderung turun.

Regrouping pun dianggap sebagai langkah memberikan kepastian pada para guru, terutama untuk mendapat TPG.

Aspek kenyamanan guru dalam mengajar juga menjadi pertimbangan dalam regrouping.

"Kami usahakan untuk mendekatkan lokasi mengajar agar guru bisa bekerja dengan nyaman dan maksimal," kata Agung.

Baca juga: Tenaga Pengajar Sekolah Rakyat di Kulon Progo Belum Optimal

Gelombang Penolakan

Salah satu sekolah yang jadi sasaran regrouping yaitu Sekolah Dasar Negeri (SDN) Hargomulyo di Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Kokap. 

SDN itu rencananya digabungkan dengan SDN Banjaran yang jaraknya sekitar 3 kilometer (km) dari SDN Hargomulyo.

Meski begitu rencana itu kini harus ditunda karena gelombang penolakan dari para wali pelajar.

Ketua Komite SDN Hargomulyo, Pardiyono menilai langkah regrouping itu tidak tepat, sebab lokasi saat ini justru lebih strategis dibandingkan SDN Banjaran.

"Lokasi SDN Hargomulyo saat ini kan di pusat keramaian, dekat jalan utama, berbeda dengan SDN Banjaran yang lokasinya agak jauh di perbukitan," ujarnya belum lama ini.

Selain optimalisasi, salah satu alasan dilakukannya regrouping adalah karena SDN Hargomulyo terkena jalur Tol YIA-Yogyakarta.

Namun Pardiyono menilai masalah itu bisa diatasi dengan relokasi ketimbang regrouping sekolah.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.