Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Seorang wanita memakai baju ungu sedikit keabu-abuan terlihat lesu duduk sambil menunggu dagangan berbagai macam sayuran segar, Rabu (9/9/2026) di Pasar Pasir Gintung, Bandar Lampung.
Baca juga: Kualitas Udara Bandar Lampung Memburuk Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau
Ternyata hujan abu vulkanik imbas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada 5-6 September 2026 lalu berdampak kepada para pedagang Pasar Induk yang berada di Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Tanjung Karang Pusat, Kota Bandar Lampung itu.
Fatimah (47), pedagang sayur di Pasar Pasir Gintung, menceritakan bahwa dirinya tetap berjualan saat abu vulkanik turun pada Minggu (6/9/2026).
"Kami di sini tetap dagang walaupun abu turun. Untuk pembeli sendiri turun, banyak yang enggak ke pasar, cuma ya enggak apa-apa," ujar Fatimah.
Menurut Fatimah, erupsi GAK berdampak pada harga sejumlah komoditas yang terkerek naik, terutama cabai merah.
Harga cabai merah yang sebelumnya berada di kisaran Rp30 ribuan per kilogram kini naik hingga Rp40 ribuan. Dia sendiri menjual cabai merah sekitar Rp50 ribu per kilogram.
"Minggu lalu harganya cuma Rp30 ribuan, sekarang sudah Rp40 ribuan lebih. Saya jual Rp50 ribu," katanya.
Selain cabai merah, kata Fatimah, cabai rawit setan kini berada di kisaran Rp80 ribu per kilogram. Harga tersebut naik dibandingkan harga sebelumnya sekitar Rp65 ribu.
Sementara itu, wortel saat ini dijual sekitar Rp18 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp15 ribu.
Untuk komoditas lainnya, tomat berada di kisaran harga Rp12 ribu, dan labu siam sekitar Rp12 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya hanya Rp10 ribu.
Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Komoditas yang berasal dari daerah lokal Lampung tidak mengalami perubahan harga. Menurut dia, yang mengalami kenaikan itu sayuran dari daerah Pulau Jawa.
Fatimah mengatakan kondisi pasar juga sempat berubah drastis ketika abu erupsi menghujani wilayah tersebut. Pada Minggu, jumlah pembeli di pasar berkurang karena masyarakat memilih berada di rumah.
"Rame banget orang dagang, masalahnya pembelinya berkurang karena pada takut keluar rumah," ujarnya.
Kondisi serupa dirasakan Fani (42), pedagang sayur dan sembako di kawasan tersebut. Fani mengatakan dirinya tetap berjualan sejak Sabtu (5/9/2026) malam ketika hujan abu vulkanik mulai terjadi. Namun, kondisi pasar pada malam itu sangat sepi.
"Mulai malam itu saya tetap dagang. Waktu malam Minggu, sekitar jam lima sore ke atas sudah parah, tapi tidak tutup karena sudah terlanjur belanja, orang-orangpun belum pada sadar," kata Fani.
Setelah malam hari, aktivitas pembeli semakin berkurang. Pedagang makanan sekitar tokonya pun langsung menutup kedai.
"Malam itu enggak ada yang ke pasar sama sekali, takut. Pedagang makanan ada yang buka, tapi cuma dapat satu porsi, dua porsi terus tutup. Karena orang enggak bisa makan di tempat," ujarnya.
Pada Minggu, Fani kembali membuka dagangannya. Aktivitas pasar mulai berangsur normal pada malam harinya, meski masyarakat masih berhati-hati karena abu masih terasa.
Menurut Fani, dampak erupsi tidak hanya dirasakan pedagang sayur, tetapi juga mulai berpengaruh terhadap harga bahan baku makanan.
"Yang naik itu paling cabai. Sayuran naik beberapa saja. Kalau sayuran kan kita dari lokal, dari sekitar Liwa sama Jatinagor. Tapi kalau cabai kita masih ambil dari Jawa, ini yang naiknya paling banyak," katanya.
Ia menduga kenaikan harga cabai dari Jawa turut dipengaruhi kendala distribusi akibat turunnya abu vulkanik.
"Karena mungkin ada kemacetan akibat abu vulkanik, ada solar yang agak susah, jadi ongkosnya naik. Barangnya akhirnya ikut naik," ujarnya.
Fani menyebut harga cabai yang sebelumnya masih berada di bawah Rp30 ribu kini sudah berada di kisaran Rp32 ribu-Rp35 ribu di tingkat pembelian, bahkan harga jual dapat mencapai sekitar Rp45-50 ribu.
"Sebenarnya harga naik juga karena lagi kemarau juga, susah air, banyak yang gagal panen, akhirnya enggak ada barang," katanya.
Tak hanya cabai, sejumlah bahan kebutuhan pokok dan bahan baku makanan juga mulai sulit diperoleh. Fani mengatakan distribusi terigu dan sagu sempat kosong selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu.
"Tepung terigu sama sagu susah. Tepung ketan juga enggak ada sampai sekarang. Tepung beras sudah mulai langka dan mahal," katanya.
Ia mengatakan kenaikan harga bahan baku belakangan terasa terus menerus. Setiap ia berbelanja di agen, selalu ada komoditas yang naik.
"Dulu kalau naik itu mungkin satu bulan, enam bulan, setahun baru naik lagi. Sekarang saat belanja, naik terus," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat pedagang kecil semakin tertekan. Di satu sisi harga bahan baku meningkat, sementara di sisi lain mereka tidak bisa sembarangan menaikkan harga jual karena khawatir pembeli berkurang.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)