TRIBUNJAMBI.COM – Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran kian liar.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan gempuran rudal balistik berhulu ledak amunisi tandan (cluster munition) ke pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Yordania, Rabu dini hari (9/9/2026).
Serangan balasan ini dipicu aksi AS menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran di Selat Hormuz.
Serangan IRGC diluncurkan serentak dari tujuh lokasi di wilayah Iran, mencakup Yazd, Khomein, Zanjan, Qom, Isfahan, Khorramabad, hingga Tabriz.
Target utamanya yakni Pangkalan Udara Muwaffaq Salti (Al-Azraq) dan Pangkalan Pangeran Hassan di Yordania yang menjadi markas pengerahan jet tempur F-35, F-16, dan F-15 milik militer AS.
Penggunaan rudal cluster yang pecah di udara dan menyebarkan puluhan bom kecil (bomblets) membuat hulu ledak ini berdaya rusak luas serta sulit dicegat sistem pertahanan udara.
Media pemerintah Iran, IRNA, mengonfirmasi bahwa IRGC mengeksekusi "operasi penghukuman" menyasar hangar perawatan serta shelter pesawat AS.
“Garda Revolusi menyerang pangkalan Amerika Al-Azraq di Yordania dengan serangan rudal berat,” rilis media IRNA mengutip pernyataan resmi IRGC.
Pencegatan Patriot dan Balasan Atas Pengeboman Tanker
Militer Yordania mengklaim sistem pertahanan udaranya menembakkan puluhan rudal Patriot dan berhasil menghancurkan 18 dari 20 rudal balistik Iran.
Baca juga: Iran Gertak Trump: Selat Hormuz Tak Bisa Direbut Lewat Cuitan dan Kapal Induk
Baca juga: Kualitas Udara Siang Ini: Kota Jambi, Tebo Hingga Sengeti Sangat Tidak Sehat, Pontianak Berbahaya
Dua rudal tersisa jatuh di area tak berpenghuni tanpa menimbulkan korban jiwa.
Namun, klaim Teheran mengenai hancurnya fasilitas penerbangan AS belum terverifikasi independen.
Aksi balasan Iran ini dipicu oleh operasi militer Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Selasa (8/9/2026) yang menghancurkan lima kapal pengangkut minyak mentah Iran di dekat Pulau Kharg dan Jask.
CENTCOM berkali-kali menegaskan gempuran ke armada tanker dilakukan usai IRGC menembakkan rudal ke kapal perang Angkatan Laut AS.
Guna memperketat tekanan, Iran turut memerintahkan seluruh awak kapal tanker terafiliasi AS di Kuwait dan Bahrain untuk segera angkat kaki, mengesahkan Selat Hormuz dan sekitarnya sebagai zona perang terbuka.
Konflik ini merupakan bagian dari ketegangan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, berpusat di Selat Hormuz.
Apa yang semula berupa perang kapal tanker kini berkembang menjadi serangan terbuka terhadap pangkalan militer.
Iran memandang serangan terhadap aset militer AS sebagai pembalasan atas aksi Amerika terhadap target militer dan maritim Iran.
Perang kapal tanker telah berlangsung dengan saling serang terhadap kapal minyak, ancaman terhadap pelayaran komersial, dan sekarang serangan langsung ke infrastruktur militer.
Kuwait dan Bahrain, yang keduanya menjadi tuan rumah kehadiran militer AS yang signifikan, kini ikut terseret dalam ancaman.
Fokus pasar saat ini adalah minyak. Harga minyak mentah berjangka Brent naik $1,57, atau 1,6 persen, menjadi $99,49 per barel pada perdagangan awal Rabu.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level $94,63 per barel, naik $1,60 atau 1,72 persen.
Harga minyak telah melonjak untuk sesi keempat berturut-turut dan naik seperempat nilainya sejak awal Agustus seiring memudarnya harapan penyelesaian permanen konflik.
Setiap pengalihan rute atau penangguhan transit melalui koridor Teluk akan memperketat biaya pengiriman dan asuransi serta menambah premi risiko geopolitik baru pada patokan minyak mentah.
Ancaman Iran terhadap kapal tanker yang terkait dengan AS di sekitar pelabuhan Kuwait dan Bahrain memperkuat risiko gangguan yang berkelanjutan, bukan hanya sekali saja.
Danny Citrinowicz adalah seorang pakar intelijen dan peneliti senior asal Israel yang berfokus pada isu Iran dan kawasan Timur Tengah, menilai serangan rudal Iran ke Yordania merupakan bagian dari strategi peningkatan eskalasi yang terencana dan terkoordinir sebagai respons atas tekanan Amerika Serikat.
"Skala serta koordinasi peluncuran rudal dari berbagai titik membuktikan bahwa Teheran telah memulihkan kemampuan operasional militer mereka. Langkah ini tidak sekadar bentuk penyampaian sinyal diplomasi, melainkan upaya terencana untuk menembus sistem pertahanan udara lawan serta menimbulkan kerusakan nyata," tulisnya di platform X, Rabu (9/9/2026).
Dari sisi operasional, Danny menilai, kecepatan eksekusi serangan mengindikasikan bahwa Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) telah menyusun daftar opsi balasan secara matang sejak awal.
"Iran bertindak berdasarkan perhitungan strategis untuk memutus pola tindakan AS yang menargetkan kapal-kapal tanker mereka, sekaligus menunjukkan bahwa intimidasi militer tidak akan memulihkan daya cegat Washington."
Konflik ini, sambungnya, diperkirakan terus membentang ke tahap berikutnya, yang berpotensi meluas hingga ke operasi penyerangan kapal tanker di pelabuhan kawasan Teluk.
Baca juga: Perkuat Koordinasi, Sekda Batang Hari Buka Sosialisasi Tim Pengelola Rumah Bunda
Baca juga: Kebakaran Lahan 7 Hektar di Pemayung, Pengendara Tertimpa Pohon Tumbang
Baca juga: Cara Cek Penerima Bansos Lewat NIK, Pemerintah Sedang Siapkan Bantuan Rp5,4 Juta