Hari Kunjung Perpustakaan Diperingati Setiap 14 September: Sejarah, Tujuan dan Makna di Era Digital
Lisma Noviani September 09, 2026 03:46 PM

TRIBUNSUMSEL.COM -- Hari Kunjung Perpustakaan diperingati setiap 14 September. Tahun ini Hari Kunjung Perpustakaan 2026 bertepatan Senin 14 September 2026.

Peringatan ini menjadi momentum untuk mengajak masyarakat kembali menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar, mencari informasi, membaca buku, berdiskusi sekaligus mengembangkan pengetahuan.

Di tengah perkembangan teknologi yang membuat informasi dapat diperoleh hanya melalui telepon genggam, pertanyaan pun muncul: apakah Hari Kunjung Perpustakaan masih relevan di era digital?

Jawabannya, masih sangat relevan.

Hanya saja, makna perpustakaan kini tidak lagi sebatas ruangan penuh rak dan buku. Perpustakaan dituntut bertransformasi menjadi pusat pengetahuan yang mampu mengikuti perubahan zaman, termasuk menyediakan koleksi digital, layanan daring dan ruang belajar yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Sejarah Hari Kunjung Perpustakaan 14 September

Dikutip dari laman perpusnas.go.id, sejarah Hari Kunjung Perpustakaan bermula pada 1995, ketika pemerintah mencanangkan 14 September sebagai Hari Kunjung Perpustakaan.

Usulan pencanangan tersebut disampaikan melalui surat Kepala Perpustakaan Nasional kepada Presiden Soeharto dengan nomor 020/A1/VIII/1995 tertanggal 11 Agustus 1995. Selanjutnya, 14 September 1995 menjadi momentum awal peringatan Hari Kunjung Perpustakaan.

Sejak saat itu, setiap 14 September menjadi kesempatan untuk mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya perpustakaan dan budaya membaca.

Peringatan ini bukan sekadar ajakan untuk datang ke gedung perpustakaan, melainkan bagian dari upaya membangun masyarakat yang memiliki budaya belajar sepanjang hayat.

Tujuan Hari Kunjung Perpustakaan

Secara umum, Hari Kunjung Perpustakaan bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perpustakaan sebagai sumber informasi dan pengetahuan.

Beberapa tujuan yang dapat dimaknai dari peringatan ini antara lain:

1. Meningkatkan minat membaca

Masyarakat diajak menjadikan membaca sebagai kebiasaan, bukan aktivitas yang hanya dilakukan ketika mendapat tugas sekolah atau kuliah.

2. Mendorong masyarakat mengunjungi perpustakaan

Perpustakaan diharapkan tidak menjadi tempat yang hanya dikunjungi pelajar ketika membutuhkan buku untuk tugas.

Perpustakaan harus menjadi ruang yang hidup, tempat masyarakat belajar, berdiskusi, mencari informasi dan mengembangkan kreativitas.

3. Memperluas akses terhadap pengetahuan

Tidak semua orang memiliki kemampuan membeli banyak buku atau berlangganan berbagai sumber informasi.

Perpustakaan hadir untuk memberikan akses terhadap sumber pengetahuan secara lebih luas dan terjangkau.

4. Membangun budaya belajar sepanjang hayat

Belajar tidak berhenti setelah seseorang lulus sekolah atau perguruan tinggi.

Perpustakaan dapat menjadi salah satu tempat masyarakat terus belajar sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman.

5. Meningkatkan kecakapan literasi

Literasi pada masa kini bukan hanya kemampuan membaca dan menulis.

Perpusnas menekankan bahwa literasi juga berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis dan menciptakan sesuatu. Karena itu, perpustakaan diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap kualitas hidup masyarakat.

Makna Hari Kunjung Perpustakaan

Jika ditarik lebih jauh, Hari Kunjung Perpustakaan memiliki makna bahwa pengetahuan harus terus dicari dan dipelajari.

Perpustakaan merupakan salah satu tempat yang mempertemukan manusia dengan berbagai gagasan.

Di dalamnya terdapat buku sejarah, ilmu pengetahuan, sastra, agama, teknologi, ekonomi, budaya hingga berbagai karya yang merekam perjalanan peradaban manusia.

Karena itu, perpustakaan sering disebut sebagai gudang ilmu pengetahuan.

Namun, perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku.

Perpustakaan menjadi berarti ketika koleksinya dibaca, dipelajari, didiskusikan dan digunakan untuk menghasilkan pengetahuan maupun solusi baru.

Perpusnas sendiri menyebut perpustakaan sebagai wahana untuk tumbuh dan mengembangkan kreativitas serta munculnya gagasan dan ilmu pengetahuan baru.

Perpustakaan Masih Relevan di Era Digital

Di tengah banjir informasi digital, perpustakaan memiliki tantangan dan peran baru yang semakin penting.

Namun, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan informasi, melainkan:

Apakah informasi tersebut benar?

Apakah sumbernya terpercaya?

Apakah informasi tersebut berdasarkan fakta?

Apakah tulisan tersebut memiliki konteks?

Apakah sebuah video yang viral benar-benar dapat dipercaya?

Di sinilah literasi menjadi penting.

OECD mendefinisikan literasi membaca bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi dan merefleksikan informasi. Dalam dunia digital, kemampuan tersebut semakin kompleks karena pembaca harus mampu membandingkan berbagai sumber, menghadapi informasi yang ambigu serta membedakan fakta dan opini.

Dengan demikian, perpustakaan tidak kalah penting di era digital.

Perpustakaan justru dapat menjadi benteng literasi di tengah derasnya arus informasi.

Tantangan Literasi Indonesia

Data Perpusnas menunjukkan perkembangan positif pada sejumlah indikator.

Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional 2024 mencapai 73,52, meningkat dari 69,42 pada 2023.

Sementara Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) 2024 mencapai 72,44, naik dari 66,7 pada tahun sebelumnya. Data tersebut diperoleh melalui kajian terhadap 174.226 responden berusia 10–69 tahun di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota.

Namun, tantangan kemampuan membaca dan memahami informasi memang masih besar.

PISA Menunjukkan Tantangan Kemampuan Membaca Masih Serius

Hasil PISA 2022 memberikan gambaran berbeda.

Skor membaca siswa Indonesia berada pada angka 359, sementara rata-rata OECD mencapai 476. Skor Indonesia juga turun dibandingkan 2018 yang berada di angka 371.

Lebih jauh, OECD mencatat hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kemampuan membaca, sedangkan rata-rata OECD mencapai 74 persen.

Pada level tersebut, siswa setidaknya mampu menemukan gagasan utama dalam teks dengan tingkat panjang dan kompleksitas tertentu serta mencari informasi berdasarkan kriteria yang diberikan.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan Indonesia bukan sekadar apakah masyarakat membaca atau tidak, tetapi juga seberapa baik seseorang memahami apa yang dibacanya.

Banyak Membaca Belum Tentu Memiliki Literasi Tinggi

Inilah tantangan baru di era media sosial.

Seseorang bisa membaca puluhan bahkan ratusan unggahan setiap hari.

Tetapi membaca status media sosial berbeda dengan membaca buku atau teks secara mendalam.

Literasi membutuhkan kemampuan untuk memahami konteks, memeriksa sumber, membandingkan informasi, mengenali bias, membedakan fakta dan opini serta menarik kesimpulan.

Karena itu, masyarakat yang setiap hari menggunakan internet belum tentu otomatis memiliki kemampuan literasi digital yang baik.

Banjir informasi tidak sama dengan banjir pengetahuan. Informasi baru menjadi pengetahuan ketika seseorang mampu memahami, memeriksa dan menggunakannya dengan tepat.

Tantangan perpustakaan saat ini bukan hanya mengajak masyarakat datang. Perpustakaan juga harus bertanya:

Apa yang membuat masyarakat mau datang?

Anak muda mungkin tidak selalu tertarik dengan perpustakaan yang hanya menyediakan rak buku dan meja baca.

Karena itu, perpustakaan dapat dikembangkan menjadi ruang yang lebih menarik dan inklusif.

Misalnya: menyediakan koleksi buku digital; menyediakan akses internet;  membuat ruang diskusi; mengadakan klub buku; membuat kelas menulis; mengadakan pelatihan literasi digital; menggelar kegiatan untuk anak dan remaja; mengajarkan cara memeriksa fakta; membuat kegiatan komunitas;
menyediakan ruang kreatif; serta mengembangkan layanan berbasis kebutuhan masyarakat.

Perpusnas sendiri mendorong transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial agar perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pada akhirnya, makna Hari Kunjung Perpustakaan tidak harus dipahami secara harfiah sebagai kewajiban untuk datang ke gedung perpustakaan.

Lebih jauh dari itu, peringatan setiap 14 September merupakan momentum untuk menghidupkan kembali budaya belajar dan membaca.

Datang ke perpustakaan adalah salah satu caranya. Membaca buku di rumah juga bagian dari budaya literasi.

Mengakses buku digital juga bisa menjadi bagian dari budaya membaca. Berdiskusi berdasarkan sumber yang kredibel pun merupakan aktivitas literasi. 

Bahkan, ketika seseorang berhenti sejenak sebelum membagikan informasi yang belum tentu benar, itu juga bagian dari literasi.

Masyarakat membutuhkan pengetahuan yang benar, kemampuan berpikir kritis dan kebiasaan belajar sepanjang hayat.

Dan di situlah perpustakaan tetap memiliki tempat penting, bahkan di era digital dan kecerdasan buatan.

Demikian sekilas tentang Hari Kunjung Perpustakaan Diperingati Setiap 14 September: Sejarah, Tujuan dan Makna di Era Digital. (*)

Baca juga: Jadwal Puasa Ayyamul Bidh September 2026 Bertepatan 13, 14, 15 Rabiul Akhir 1448 H Lengkap Niat

Baca juga: Amanat Menpora Erick Thohir untuk Disampaikan pada Upacara Peringatan Haornas 2026 dan Naskah Doanya

Baca juga: Tema dan Logo Hari Olahraga Nasional 2026 Resmi dari Kemenpora Lengkap Link Unduhan PDF Surat Edaran

Baca juga: Arti Taaqquli dan Taabbudi, Istilah Bahasa Arab tentang Sebab-sebab Hukum Allah Beserta Contohnya

Baca juga: Lokasi dan Agenda Kegiatan Indonesia Sports Summit 2026 Digelar Kemenpora, 11-13 September 2026

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.