Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar
TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA – Sebanyak 16.515 anak berusia 0 hingga 17 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), tercatat terdampak gempa Flores.
Data tersebut dihimpun Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PMD P3A) Kabupaten Ngada melalui Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Berdasarkan rekapitulasi data dampak gempa yang diperbarui hingga 30 Agustus 2026 pukul 12.00 WITA, dari 16.515 anak terdampak tersebut terdiri atas 8.348 anak laki-laki dan 8.167 anak perempuan.
Kecamatan Soa menjadi wilayah dengan jumlah anak terdampak terbanyak, yakni 2.282 anak. Disusul Golewa 2.195 anak dan Riung 2.172 anak.
Baca juga: Dampak Gempa Flores, Gedung DPRD Manggarai Timur Rusak, Sidang Paripurna Digelar di Lobi
Selanjutnya, Bajawa tercatat 1.605 anak, Bajawa Utara 1.766 anak, Wolomeze 1.480 anak, Riung Barat 1.313 anak, Golewa Selatan 1.133 anak, Aimere 1.087 anak, Golewa Barat 1.070 anak, Inerie 208 anak, dan Jerebu'u 204 anak.
Secara keseluruhan, rekapitulasi mencatat 59.673 jiwa terdampak gempa yang tersebar di 12 kecamatan. Dari 193 desa terdampak, data telah dihimpun dari 185 desa atau sekitar 95,85 persen.
Selain anak-anak, tercatat pula 14.520 kepala keluarga (KK) terdampak bencana.
Besarnya jumlah anak yang terdampak menjadi perhatian dalam proses pemulihan pascagempa. Pemerintah daerah bersama pemerintah provinsi mulai memperkuat pendampingan psikososial, khususnya melalui kegiatan trauma healing bagi anak usia 0 hingga 17 tahun.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam rapat koordinasi antara Dinas PMD P3A Kabupaten Ngada dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3A P2KB) Provinsi NTT di Kantor PMD P3A Ngada, Rabu (9/9/2026).
Kepala UPTD PPPA Ngada, Veronika Milo, mengatakan pendampingan terus dilakukan terhadap korban gempa, terutama anak-anak dan perempuan. Upaya pencegahan kekerasan terhadap kelompok rentan juga terus diperkuat.
“Sejauh ini kita belum ada kasus terkait kekerasan. Kita sangat berharap itu tidak terjadi,” ujar Veronika.
Sementara itu, Tim Dinas P3A P2KB Provinsi NTT melalui Kepala Seksi Tindak Lanjut UPTD PPA, Ita, mengatakan pihaknya akan melakukan intervensi langsung di sekolah maupun lokasi pengungsian.
Pendampingan tersebut akan melibatkan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah NTT, terutama dalam pelaksanaan trauma healing dan konseling kesehatan.
“Kita akan fokus trauma healing dengan konseling kesehatan dengan menggandeng psikolog dari HIMPSI NTT. Selain itu, kita juga serahkan beberapa bantuan untuk anak hingga lansia,” ujar Ita usai rapat koordinasi di Kantor PMD Ngada.
Upaya pemulihan tersebut diharapkan membantu anak-anak dan kelompok rentan kembali menjalani aktivitas secara normal. Pendampingan psikososial, layanan kesehatan, serta pencegahan kekerasan menjadi bagian penting untuk memastikan keselamatan dan pemenuhan hak anak selama proses pemulihan pascabencana di Kabupaten Ngada. (Cha)