Sambut HUT Ke-270 Kota Yogya, Pemkot Gelar Lomba Kebersihan Lingkungan dan Sungai Antar-Kemantren
Joko Widiyarso September 09, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Lomba Kebersihan Lingkungan dan Sungai antar-kemantren digulirkan Pemkot Yogyakarta sebagai rangkaian peringatan HUT ke-270 Kota Yogyakarta.

​Ajang digelar untuk mendorong kemantren, kelurahan, hingga elemen masyarakat dalam memperkuat kebersihan lingkungan, serta membebaskan sungai dari akumulasi sampah.

​Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, menyampaikan, dalam perlombaan tersebut penilaiannya mencakup berbagai elemen.

Mulai dari titik lokasi terbaik, lingkungan secara umum, sungai beserta bantarannya, hingga keterlibatan aktif OPD pendamping serta unsur masyarakat.

​"Jadi, penilaiannya tidak hanya di titik lokasi saja. Untuk menjaga independensi, tim juri yang dilibatkan berasal dari unsur akademisi," tandasnya, Rabu (9/9/26).

​Proses lomba diawali dengan tahap pengumpulan berkas administrasi pada 1 - 25 September 2026, yang kemudian dilanjutkan verifikasi lapangan pada 28 September - 22 Oktober 2026. 

Pemenang berhak menerima piagam penghargaan dan uang pembinaan, dengan rincian Juara I memperoleh Rp5 juta, Juara II Rp4,5 juta, Juara III Rp4 juta, Juara Harapan I Rp3,5 juta, serta Juara Harapan II Rp3 juta.

​Sementara, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan, ajang ini jadi momentum untuk memperkuat gerakan kebersihan secara berkelanjutan, salah satunya melalui optimalisasi biopori.

​Pada 2026, Pemkot Yogyakarta menargetkan pembuatannya mencapai 1.000 titik biopori, meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya yang berkisar di angka 600 titik. 

"Maka, bapak-Ibu lurah dan mantri pamong praja juga harus mengetahui di mana saja bioporinya. Saya berharap semua mempunyai peta biopori," terangnya.

​Mengenai kondisi aliran air di wilayah perkotaan, Hasto menggarisbawahi pentingnya pemahaman jajaran wilayah terhadap sumber limbah yang masuk. 

Eks Kepala BKKBN RI itu menyampaikan, keberadaan vegetasi alami tidak menjadi masalah selama area perairan terbebas dari limbah padat.

​"Prinsip sungai itu harus bersih dari sampah. Sebetulnya kalau rumputnya masih banyak, tetapi bersih dari sampah, itu juga bagus," pungkas Hasto. (aka)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.