Ladang Cuan di TPA Winong Boyolali, Sampah Organik Bau Disulap Jadi Maggot dan Kasgot Bernilai Jual
Vincentius Jyestha Candraditya September 09, 2026 08:29 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI – Tangan Hartanto mengais tumpukan sampah organik di sela-sela bak beton. Di hadapannya, larva-larva maggot bergerak memenuhi timbunan sisa makanan yang bercampur dengan plastik pembungkus, sendok sekali pakai, dan berbagai limbah lain.

Sebagian material organik telah berubah menjadi hamparan berwarna cokelat yang dipenuhi maggot. Di sampingnya, sebuah wadah plastik menampung hasil pengolahan. 

Pemandangan itu sekilas terlihat sederhana, tetapi dari proses tersebut lahir dua produk sekaligus, yakni maggot dan kasgot. Hartanto memang tidak berhenti pada bisnis menjual maggot.

‎URAI SAMPAH ORGANIK - Hartanto, pengelola sampah organik menunjukkan maggot hasil budidaya Black Soldier Fly (BSF) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Winong, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (8/9/2026). Sampah sisa makanan dan berbagai limbah organik dari masyarakat dikumpulkan untuk kemudian diolah menjadi pakan maggot. Dari proses itu, lahir dua produk yang memiliki nilai ekonomi, yakni maggot dan kasgot.
‎URAI SAMPAH ORGANIK - Hartanto, pengelola sampah organik menunjukkan maggot hasil budidaya Black Soldier Fly (BSF) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Winong, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (8/9/2026). Sampah sisa makanan dan berbagai limbah organik dari masyarakat dikumpulkan untuk kemudian diolah menjadi pakan maggot. Dari proses itu, lahir dua produk yang memiliki nilai ekonomi, yakni maggot dan kasgot. (TribunSolo.com/Tri Widodo)

Sampah sisa makanan dan berbagai limbah organik dari masyarakat dikumpulkan untuk kemudian diolah sebagai pakan maggot. Dalam sehari, sekitar 2 ton sampah organik dapat diolah.

Dari sampah yang sebelumnya berakhir sebagai limbah, Hartanto mampu menghasilkan sekitar 50 kilogram maggot setiap hari.

Maggot tersebut dijual dengan harga Rp5 ribu per kilogram. Larva BSF itu kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun ikan.

Namun, perjalanan sampah tersebut tidak berhenti ketika maggot selesai memakannya.

Baca juga: Begini Cara Rutan Boyolali Bina Warga Binaan, Belajar Budidaya Maggot hingga Jadi Bekal Usaha

Masih ada kasgot, yakni sisa hasil penguraian sampah organik oleh maggot. Bahan tersebut dapat dimanfaatkan di sektor pertanian sebagai pupuk organik maupun pembenah tanah.

"Selain maggot, kami juga menjual kasgot untuk pertanian," kata Hartanto.

Kasgot tersebut dijual Rp2 ribu per kilogram. Produksinya bahkan mencapai sekitar 100 kilogram setiap hari.

Dengan begitu, dari satu tumpukan sampah organik, Hartanto tidak hanya memanen maggot. Sisa proses penguraian pun masih memiliki nilai ekonomi.

Bagi Hartanto, justru di situlah letak peluang besarnya.

Sampah Tak Berhenti Jadi Pakan

Budidaya maggot BSF selama ini kerap dipandang sebatas usaha menghasilkan larva untuk dijual sebagai pakan. Hartanto memilih jalan berbeda.

Ia menggabungkan budidaya maggot dengan jasa pengelolaan sampah organik.

Sampah yang datang menjadi bahan baku. Maggot mengurainya. Larva yang tumbuh dijual sebagai pakan, sedangkan sisa penguraiannya menjadi kasgot untuk pertanian.

Dengan pola tersebut, sampah bukan lagi sekadar sesuatu yang harus dibuang. Ia berubah menjadi bahan baku yang terus menghasilkan turunan.

"Mengelola sampah organik dengan menggunakan maggot. Hanya saja mengelola maggot itu effort-nya besar," katanya.

Menurut Hartanto, pembudidaya maggot tidak semestinya hanya berpikir sebagai peternak yang menghasilkan larva. Mereka juga perlu memikirkan dari mana pakan maggot diperoleh dan bagaimana sampah organik bisa menjadi bagian dari usaha.

Baca juga: Pria Asal Jumapolo Sukses Budidaya Maggot: Termotivasi Protes Tetangga soal Sampah Warung Makannya

"Teman-teman maggot jangan hanya fokus menjadi peternak maggot, tetapi mulai mengelola pengelolaan sampah organik," ujarnya.

Pengelolaan sampah tersebut sekaligus menjadi sumber pendapatan tambahan. Pembudidaya tidak harus hanya berharap dari penjualan maggot.

"Untungnya tidak hanya mendapatkan pakan, kemudian kita dapat jasa olah sampahnya. Akhirnya maggot ini harganya tidak terlalu mahal," katanya.

Harga yang terjangkau, menurut Hartanto, menjadi penting karena pasar maggot salah satunya berasal dari peternak unggas dan ikan lele.

Di tengah mahalnya pakan pabrikan, maggot menjadi salah satu alternatif yang mulai dilirik.

"Nah, itu yang ditunggu peternak unggas dan lele. Pakan pabrikan hari ini mahal. Dengan adanya maggot yang murah, mereka sangat tertarik. Dan kebutuhannya sangat besar," jelasnya.

Dari Sampah, Menekan Biaya

Pola tersebut mulai diterapkan Hartanto dalam usaha yang dikelolanya. Sampah organik menjadi sumber pakan, sementara maggot tumbuh dan kemudian memiliki nilai jual.

Rantai sederhana itu membuat biaya produksi bisa ditekan. Harga maggot pun dapat dibuat lebih bersaing.

"Kami mulai mengelola itu. Makanya maggot kami bisa bersaing. Harganya tidak terlalu tinggi, akhirnya peminatnya banyak," ujarnya.

Ia melihat persoalan yang kerap dihadapi pembudidaya maggot justru bermula ketika mereka hanya mengejar produksi larva tanpa membangun sistem penyediaan pakan.

Ketika pakan sulit diperoleh, mereka harus membelinya. Biaya produksi pun meningkat dan akhirnya harga maggot ikut terdorong naik.

"Teman-teman maggot banyak yang salah arah. Hanya fokus pada maggotnya, akhirnya cari pakan susah dan harganya mahal. Sehingga harga jualnya tinggi, akhirnya tidak laku," katanya.

Baca juga: Warga Boyolali Ini Dapat Cuan Melimpah dari Sampah Organik, Sehari Rp1,2 Juta via Jualan Maggot

Di TPA Winong, pemandangan itu terasa berbeda. Limbah organik yang biasanya identik dengan bau dan tumpukan justru diperlakukan sebagai bahan baku.

Hartanto menilai pengelolaan sampah tidak boleh hanya berkutat pada sampah anorganik.

"Masalah sampah itu bukan hanya di anorganiknya, tetapi di sampah organik karena menimbulkan bau dan sebagainya," ujarnya.

Melalui maggot, sampah organik tersebut dapat diurai sekaligus memberi nilai ekonomi. Pembudidaya mendapatkan bahan pakan, sementara masyarakat mendapat alternatif pengelolaan sampah.

"Dengan jasa olah sampah ini, teman-teman peternak maggot bisa dapat pakan gratis. Harapannya maggot jadi murah dan peternak akan senang," katanya.

Karena itu, Hartanto mengingatkan agar pembudidaya tidak sekadar mengejar harga jual tinggi.

"Jangan jual maggot mahal. Nanti malah tidak laku," ucapnya.

Baginya, maggot hanyalah satu bagian dari rangkaian usaha yang jauh lebih panjang. Ada sampah yang perlu dikelola, ada larva yang bisa dijual, ada kasgot yang dapat dimanfaatkan petani, dan ada jasa pengolahan yang juga mendatangkan pemasukan.

Hartanto pun melihat peluang tersebut masih terbuka lebar. Pengolahan sampah organik dinilainya belum banyak digarap secara serius, padahal kebutuhan terhadap pengelolaan sampah terus ada.

Ia pun mengajak pembudidaya maggot melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda.

"Jadi teman-teman jangan hanya fokus di maggotnya, tetapi di pengelolaan sampahnya, karena akan banyak cuan di situ," imbuhnya. (twd)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.