Wacana Penggabungan BMKG-Badan Geologi, DPR Ingatkan Ini
Jonathan Pandapotan Purba September 09, 2026 09:00 PM

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi V DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofwan Dedy Ardyanto, bersuara soal wacana penggabungan pemantauan meteorologi dan sektor kebumian yang dilontarkan Presiden Prabowo Subianto.

Ia mengingatkan bahwa sektor kebumian dan pemantauan cuaca memiliki tugas pokok dan fungsi yang jauh berbeda. Menurutnya, pemetaan sumber daya mineral hingga pengelolaan air tanah juga menjadi cakupan kerja yang selama ini dijalankan, sehingga tidak semata-mata berfokus pada masalah bencana.

"Jangan secara tergesa-gesa. Perlu ada kajian yang matang dan mendalam mengingat adanya cakupan tugas lain yang juga berjalan," kata Sofwan, Rabu (9/9/2026).

Sofwan mewanti-wanti, jika pemerintah tetap berniat melakukan penataan ulang atau efisiensi, ia menyarankan agar langkah tersebut dilakukan secara spesifik pada unit penanganan bencana saja.

"Jika pun ada unit yang harus dilebur menjadi satu, sebaiknya difokuskan pada unit kerja yang secara spesifik menangani kebencanaan geologi, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)," tegas dia.

Sofwan mencatat, penempatan unit geologi di bawah kementerian teknis saat ini tidak terlepas dari sejarah pembentukannya yang berfokus pada eksplorasi mineral dan pertambangan. Selain itu, praktik di sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan Selandia Baru juga konsisten memisahkan antara pemantauan cuaca dan penelitian geologi.

"Di Amerika Serikat misalnya, USGS berfokus pada daratan dan kebumian, sedangkan NOAA menangani atmosfer dan lautan. Sementara itu, model satu pintu yang mirip dengan gagasan Presiden Prabowo lebih menyerupai sistem di Filipina," ungkap dia.

 

Bangun Sistem Mitigasi

Meski demikian, Sofwan menilai wacana penguatan koordinasi ini tetap dapat menjadi momentum positif untuk membangun sistem mitigasi bencana nasional yang lebih terintegrasi. Namun, orientasi utamanya harus tetap pada keselamatan publik.

"Setiap perubahan kelembagaan harus menghasilkan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Informasi mengenai potensi gempa, erupsi, hingga cuaca ekstrem harus dapat diterjemahkan menjadi peringatan dini yang cepat, akurat, dan mudah dipahami," harap dia.

"Yang terpenting bukan sekadar menggabungkan dua pihak, melainkan memastikan integrasi data berjalan baik, peringatan dini bekerja lebih cepat, dan masyarakat terlindungi secara maksimal," sambungnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.