Finlandia Rampungkan Pagar Perbatasan 200 Km dengan Rusia, Perkuat Pertahanan NATO
Tiara Shelavie September 09, 2026 09:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Finlandia telah menyelesaikan pembangunan pagar keamanan sepanjang 200 kilometer di sepanjang perbatasannya dengan Rusia.

Mengutip Euronews, langkah ini memperkuat perbatasan terpanjang NATO dengan sebuah negara yang dituduh meningkatkan serangan hibrida terhadap Eropa.

Proyek tersebut dimulai setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina mengubah situasi keamanan Finlandia.

Kondisi itu mendorong Finlandia meninggalkan kebijakan nonblok militer selama beberapa dekade dan bergabung dengan NATO pada April 2023.

Pada tahun yang sama, lebih dari 1.300 migran tanpa visa tiba di perbatasan timur Finlandia.

Helsinki menuduh Moskow melakukan "perang hibrida" dengan mengatur pergerakan warga negara ketiga menuju perbatasan. Kremlin membantah tuduhan tersebut.

Finlandia menutup perbatasan daratnya dengan Rusia pada akhir 2023.

Selain pembukaan singkat dua titik penyeberangan pada Desember tahun itu, perbatasan tersebut tetap ditutup hingga kini.

"Hari ini situasinya tenang tetapi tegang, dan kami benar-benar tidak tahu bagaimana keadaan besok," kata Menteri Dalam Negeri Finlandia Mari Rantanen kepada wartawan pada Senin dalam sebuah acara media di dekat pos perbatasan Nuijamaa, Finlandia tenggara.

"Situasinya bisa berubah dengan sangat cepat dan itulah sebabnya kami harus benar-benar siap," lanjutnya.

Baca juga: 10 Negara dengan Kualitas Udara Terbaik di Dunia: Bandingkan Indonesia dengan Finlandia

Pagar setinggi 4,5 meter tersebut dibangun secara bertahap dan dilengkapi kamera serta sensor.

Pagar itu mencakup 200 kilometer dari total 1.340 kilometer perbatasan Finlandia dengan Rusia. Sebagian besar penghalang tersebut terkonsentrasi di wilayah tenggara.

"Ini merupakan salah satu bagian dari keamanan perbatasan kami dan membantu kami melakukan pengawasan, sekaligus mencegah orang memasuki wilayah Finlandia jika diperlukan," kata Rantanen.

Menurut otoritas perbatasan Finlandia, pembangunan pagar baru tersebut menelan biaya 356 juta euro, dengan biaya pemeliharaan tahunan diperkirakan mencapai 2-3 juta euro.

Meski teknologi drone berkembang pesat, penghalang fisik masih dinilai sebagai "solusi terbaik untuk pengendalian massa", kata manajer proyek Badan Penjaga Perbatasan Finlandia, Erkki Matilainen.

Rantanen mengatakan pagar tersebut masih dapat diperpanjang dan menyerukan dukungan finansial yang lebih besar dari Uni Eropa bagi negara-negara yang berada di perbatasan timur blok tersebut.

"Yang khususnya kami butuhkan adalah pendanaan Uni Eropa untuk negara-negara anggota di kawasan timur agar proyek-proyek seperti ini dapat dibiayai," ujarnya.

Pekan lalu, Helsinki mengusulkan perpanjangan Undang-Undang Keamanan Perbatasan hingga akhir 2028.

Undang-undang tersebut memungkinkan Finlandia, dalam situasi luar biasa, membatasi penerimaan permohonan suaka di wilayah tertentu di perbatasan ketika kedaulatan atau keamanan nasional negara dianggap berada dalam ancaman.

Undang-undang itu menuai kontroversi. Para pakar hukum memperingatkan bahwa aturan tersebut berisiko melanggar kewajiban Finlandia terhadap hak asasi manusia internasional dan hukum Uni Eropa.

Penghalang serupa juga telah dibangun di sejumlah wilayah lain di sepanjang sisi timur NATO dan Uni Eropa.

Negara-negara yang berbatasan dengan Rusia dan Belarus memperkuat perbatasan mereka di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan kawasan.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.