1.487 Sekolah di NTT Masuk Revitalisasi Tahun Ini, Ada Siswa Belajar di Kelas Darurat
Acos Abdul Qodir September 10, 2026 01:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Sebanyak 1.487 sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi sasaran revitalisasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada 2026 dengan anggaran Rp1,2 triliun.

Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan sasaran revitalisasi pada 2025 yang mencapai 580 sekolah.

“Untuk 2026 ini jumlahnya lebih banyak. Anggaran mencapai Rp1,2 triliun,” kata Direktur Sekolah Dasar Kemendikdasmen, Moch. Salim Somad, Rabu (9/9/2026).

Program ini menyasar sekolah dengan bangunan rusak berat maupun ruang belajar yang masih menggunakan bangunan darurat. Salah satunya SDN Mboeng di Manggarai Timur, NTT.

Salim mengatakan pengecekan kondisi sekolah telah dilakukan. Perbaikan diarahkan pada ruang kelas yang rusak berat dan ruang belajar darurat.

Dua Kelas Rusak, Empat Ruang Darurat

SDN Mboeng memiliki 84 siswa dalam enam rombongan belajar (rombel) dan didukung 10 tenaga pendidik.

Sekolah tersebut memiliki lima bangunan permanen. Namun, dua ruang kelas mengalami kerusakan berat sehingga tidak dapat digunakan secara optimal.

Keterbatasan ruang membuat sekolah masih menggunakan empat ruang kelas darurat untuk kegiatan belajar.

Sebagian pembangunan ruang kelas juga berasal dari swadaya masyarakat, terutama orang tua siswa.

“Sebagian pembangunan dari swadaya orang tua siswa,” ujar Salim.

Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan perbaikan sarana pendidikan tidak hanya terkait bangunan permanen, tetapi juga ketersediaan ruang belajar yang layak bagi siswa.

Baca juga: Kemendikdasmen Percepat Pendataan Sekolah Rusak Terdampak Gempa NTT

Sempat Disorot karena Dapat Perangkat Digital

SDN Mboeng sebelumnya menjadi perhatian di media sosial karena kondisi fisiknya masih memprihatinkan, tetapi sekolah tersebut mendapat perangkat digital untuk pembelajaran.

Pemberian perangkat sempat dipersoalkan karena muncul informasi bahwa sekolah belum memiliki sumber listrik yang memadai.

Salim menjelaskan, berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), SDN Mboeng tercatat memiliki sumber listrik. Atas dasar data tersebut, sekolah menjadi salah satu penerima perangkat televisi untuk menunjang pembelajaran.

“Digitalisasi di sekolah berjalan, perbaikan fisik sekolah juga dilakukan,” kata Salim.

Menurut dia, digitalisasi dan revitalisasi sarana-prasarana merupakan dua program yang dapat berjalan bersamaan. Dalam kasus SDN Mboeng, perbaikan ruang kelas diharapkan tetap berjalan bersama pemanfaatan perangkat pembelajaran digital.

Revitalisasi untuk Sekolah dengan Sarana Terbatas

Kemendikdasmen menyatakan revitalisasi 2026 menyasar sekolah-sekolah yang membutuhkan perbaikan sarana dan prasarana, termasuk di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur pendidikan.

Selain memperbaiki bangunan, program tersebut diarahkan untuk mendukung pembelajaran yang lebih layak dan pemerataan akses pendidikan.

Bagi SDN Mboeng, perbaikan diharapkan mengatasi persoalan ruang kelas rusak berat dan penggunaan ruang belajar darurat. Perbaikan fisik juga menjadi bagian dari penataan fasilitas sekolah bersama pemanfaatan teknologi pembelajaran.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.