3 Bakteri di Menu MBG Karo: Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan E.coli, Apa Bahayanya?
Array A Argus September 10, 2026 09:27 AM

TRIBUN-MEDAN.COM,- Febiona Br Purba, siswi SMK di Kabupaten Karo yang keracunan MBG (Makanan Bergizi Gratis) dari dapur milik Kodim 0205/Tanah Karo kini mengalami hilang ingatan.

Kabar ini beredar luas di media sosial, termasuk media massa lokal dan nasional yang ada di Indonesia.

Dari hasil pemeriksaan, ditemukan paparan bakteri terhadap makanan yang dikonsumsi oleh Febiona br Purba.

Adapun bakteri di menu MBG yang disantap Febiona diantaranya E.coli, Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus.

Baca juga: Febiola Belum Pulih, Sutarto Desak BGN Bertanggung Jawab atas Penanganan Dugaan Keracunan MBG

Ketiga bakteri ini memang dikenal mampu menimbulkan keracunan, jika terpapar pada makanan.

Mengutip laman resmi Pemerintah Inggris, GOV.UK, yang diterbitkan Food Standards Agency (FSA), dan berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal BMC Infectious Diseases pada 2025, ketiga bakteri di atas tersebut adalah bakteri yang umum ditemukan di lingkungan dan tubuh manusia.

Jika penyajian makanan tidak dilakukan secara higienis, kemungkinan besar bakteri ini akan menempel pada makanan yang disantap oleh manusia.

Febiona Br Purba (16), siswi berprestasi sekaligus Wakil Ketua OSIS SMK Bersama Berastagi, kini harus berjuang melawan dampak keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tiga minggu setelah insiden, ia mengalami hilang ingatan hingga kesulitan berbicara. Sang ibu, Elvinus Lusiana Sitanggang, berkaca-kaca menceritakan bagaimana putrinya tak lagi mengenali kerabat maupun teman sekolah saat dirawat di RSUP Adam Malik, Medan, Senin (7/9/2026).
Febiona Br Purba (16), siswi berprestasi sekaligus Wakil Ketua OSIS SMK Bersama Berastagi, kini harus berjuang melawan dampak keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tiga minggu setelah insiden, ia mengalami hilang ingatan hingga kesulitan berbicara. Sang ibu, Elvinus Lusiana Sitanggang, berkaca-kaca menceritakan bagaimana putrinya tak lagi mengenali kerabat maupun teman sekolah saat dirawat di RSUP Adam Malik, Medan, Senin (7/9/2026). (TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA/KOMPAS.COM)

Baca juga: Kecam Keracunan MBG hingga Siswi Karo Hilang Ingatan, LBH Tuntut Prabowo dan Sudaryono Tanggungjawab

Para penyaji makanan yang tidak menggunakan sarung tangan, ataupun mereka yang berkali-kali menggunakan sarung tangan tanpa menggantinya, juga berpotensi memicu paparan ketiga jenis bakteri ini.

Namun, menurut jurnal yang ada, beberapa strainnya dapat menyebabkan penyakit serius melalui infeksi langsung atau produksi toksin.

Untuk melihat lebih detail penjelasan tentang ketiga bakteri ini, berikut adalah penjelasannya.

Baca juga: Labkes Sumut Ungkap 3 Bakteri yang Diduga Sebabkan Siswa Karo Hilang Ingatan setelah Keracunan MBG

Apa itu E.coli, Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus

Berikut penjelasan masing-masing berdasarkan literatur ilmiah terkini, termasuk penyebab paparan dan gejala yang ditimbulkan.

Baca juga: Siswi Berprestasi SMK di Karo Korban Keracunan MBG Alami Hilang Ingatan hingga Sulit Bicara

1. Escherichia coli (E. coli)

E. coli adalah bakteri Gram-negatif berbentuk batang yang secara alami hidup di usus manusia dan hewan.

Sebagian besar strain tidak berbahaya, tetapi beberapa strain patogen (seperti ETEC, EHEC, STEC, dan UPEC) dapat menyebabkan penyakit serius.

Ketika seseorang mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi kotoran (misalnya daging setengah matang, sayuran mentah, susu tidak dipasteurisasi), maka bakteri ini akan mudah terpapar.

Baca juga: PENGAKUAN Ibu Korban Keracunan MBG, Anaknya Alami Gangguan Ingatan, Bibi dan Teman Jenguk Tak Kenal

Atau, manusia bisa terpapar E.coli karena kntak dengan hewan atau lingkungan yang terkontaminasi.

Bagi mereka yang terpapar bakteri ini umumnya akan mengalami masalah infeksi saluran kemih.

Mereka akan kesulitan buang air kecil, seperti anyang-anyangan, demam.

Bahkan, dalam beberapa kasus, penderitanya akan mengalami diare (ETEC, EHEC, STEC): diare berair atau berdarah, kram perut, mual, kadang demam ringan.

Baca juga: Korban Dugaan Keracunan MBG di Karo Alami Gangguan Ingatan

Kondisi jemaat Gereja BNKP Dima Resort 27, Kecamatan Hiliduho, usai keracunan makanan saat melaksanakan kebaktian subuh Paskah, Minggu (31/03/2024) kemarin. Dari 38 warga yang keracunan, saat ini sembilan masih dirawat.
Kondisi jemaat Gereja BNKP Dima Resort 27, Kecamatan Hiliduho, usai keracunan makanan saat melaksanakan kebaktian subuh Paskah, Minggu (31/03/2024) kemarin. Dari 38 warga yang keracunan, saat ini sembilan masih dirawat. (TRIBUN MEDAN/HO)

Tidak hanya itu, dalam kasus yang lebih serius lagi, bakteri ini dapat menyebabkan gagal ginjal, terutama pada anak-anak, serta dapat memicu sepsis, meningitis neonatal, dan pneumonia.

2. Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus adalah bakteri Gram-positif berbentuk bulat (kokus) yang sering hidup secara normal di kulit dan hidung manusia tanpa menimbulkan gejala.

Namun, bakteri ini dapat menjadi patogen oportunistik yang menyebabkan infeksi mulai dari ringan (misalnya bisul) hingga berat (seperti sepsis atau pneumonia).

Baca juga: DPR Desak Ada Skema Ganti Rugi Korban Keracunan MBG, BGN Fokus Pulihkan Kondisi Korban

Adapun penyebab paparan bakteri ini karena kontak langsung dengan kulit atau luka yang terinfeksi.

Kemudian, seseorang dapat terpapar bakteri ini karena penggunaan alat medis yang terkontaminasi (kateter, jarum).

Bukan cuma itu, mengonsumsi makanan yang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang juga dapat memicu penyebaran bakteri ini.

Dalam kasus keracunan makanan, bakteri ini juga paling banyak ditemukan. 

Untuk gejalanya, umumnya penderita akan mengalami mual, muntah, kram perut, dan diare.

Baca juga: Akhirnya Kasus Keracunan MBG Segera Ada Tersangka, Kepala BGN Sudaryono: Sudah Naik Penyidikan

Gejala ini muncul 1 hingga 6 jam setelah mengonsumsi makanan terkontaminasi toksin.

Tidak hanya itu, apabila terpapar di kulit, bakteri ini dapat memicu bisul, selulitis, dan abses bernanah.

Dalam banyak kasus lainnya, penderita juga dapat mengalami demam, nyeri sendi, sesak napas, hingga hipotensi (pada sepsis).

PERAWATAN KLINIK: Nenek Sri menunggu cucunya di klinik Daffina Lubuk Pakam, Rabu (2/9/2026). Total ada 7 orang siswi SMA Negeri 1 Lubuk Pakam yang dilarikan ke Klinik karena mengalami sakit perut bersamaan.
PERAWATAN KLINIK: Nenek Sri menunggu cucunya di klinik Daffina Lubuk Pakam, Rabu (2/9/2026). Total ada 7 orang siswi SMA Negeri 1 Lubuk Pakam yang dilarikan ke Klinik karena mengalami sakit perut bersamaan. (TRIBUN MEDAN/Indra Gunawan)

3. Bacillus cereus

Bacillus cereus adalah bakteri Gram-positif, berbentuk batang, dan mampu membentuk spora.

Bakteri ini banyak ditemukan di tanah, debu, dan bahan pangan, serta dikenal sebagai penyebab utama keracunan makanan berbasis toksin.

Baca juga: Nasib Kepala Dapur SPPG Usai 512 Santri dan Siswa Keracunan MBG, Terancam Dicopot dan Diganti

Penyebab utama paparan bakteri ini adalah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi dan dibiarkan pada suhu ruang terlalu lama, terutama nasi, pasta, daging, atau produk susu.

Spora B. cereus dapat bertahan dalam proses pemanasan dan berkembang biak saat makanan didinginkan secara tidak tepat.

Oleh karena itu, penyajian makanan yang asal-asalan dapat memicu pertumbuhan bakteri ini. 

Adapun gejala yang ditimbulkan yakni Sindrom emetik dan Sindrom diare.

Baca juga: GAWAT, Tak Hanya Pelajar, Relawan SPPG di Laguboti juga Keracunan Makanan MBG

Sindrom emetik (muntah) disebabkan oleh toksin cereulide yang sudah terbentuk dalam makanan.

Gejala muncul cepat (30 menit–6 jam) berupa mual, muntah hebat, kadang kram perut.

Sedangkan Sindrom diare disebabkan oleh enterotoksin (seperti Hbl, Nhe, CytK) yang diproduksi bakteri di usus.

Gejala muncul lebih lambat (6–15 jam) berupa diare berair, kram perut, kadang mual.(ray/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.