BANGKAPOS.COM--Peta orang terkaya Indonesia kembali berubah. Low Tuck Kwong berhasil menempati posisi teratas dalam daftar Forbes Real-Time Billionaires pada September 2026, menggeser Prajogo Pangestu dan Robert Budi Hartono.
Perubahan tersebut menunjukkan betapa cepatnya posisi para taipan Indonesia berubah mengikuti pergerakan harga saham perusahaan yang menjadi sumber utama kekayaan mereka.
Forbes memang menggunakan sistem pemantauan kekayaan secara real-time.
Nilai kepemilikan saham perusahaan publik diperbarui setiap lima menit ketika bursa terkait dibuka, dengan jeda harga saham sekitar 15 menit.
Sementara kekayaan yang berasal dari perusahaan privat diperbarui setiap hari.
Low Tuck Kwong dikenal sebagai pengusaha batu bara dan pendiri Bayan Resources.
Posisi Low juga menggambarkan besarnya pengaruh sektor energi terhadap kekayaan konglomerat Indonesia.
Dalam daftar tahunan Forbes 2026 yang menggunakan data per 1 Maret, Low Tuck Kwong tercatat memiliki kekayaan US$20,2 miliar dan berada di peringkat 131 dunia.
Forbes menyebutnya sebagai coal king dan pendiri Bayan Resources.
Sementara itu, data real-time Forbes menunjukkan nilai kekayaan para miliarder dapat berubah seiring pergerakan pasar.
Hal tersebut membuat posisi orang terkaya tidak bersifat permanen.
Baca juga: Peluang Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Malaysia Jadi Ancaman Utama
Prajogo Pangestu menjadi salah satu nama yang terus bersaing di posisi teratas.
Dalam data Forbes per 9 September 2026, kekayaan Prajogo tercatat sekitar US$17,2 miliar.
Forbes menyebut sumber kekayaannya berasal antara lain dari petrokimia dan energi melalui kelompok usaha Barito.
Prajogo membangun kekayaannya dari bisnis kayu sebelum mengembangkan kerajaan bisnis ke sektor petrokimia dan energi.
Barito Pacific kemudian menjadi salah satu kelompok usaha terbesar yang terkait dengan kekayaannya.
Di belakangnya terdapat Robert Budi Hartono yang dikenal sebagai salah satu pemilik utama Grup Djarum sekaligus investor besar di Bank Central Asia.
Persaingan ketiganya menjadi menarik karena sebagian besar kekayaan tersebut terhubung dengan perusahaan yang memiliki nilai pasar besar.
Jika kekayaan 10 orang terkaya dalam daftar yang menjadi acuan dihitung secara keseluruhan, nilainya mencapai sekitar US$111,4 miliar atau Rp1.950,28 triliun.
Baca juga: 16 Tim Berebut 4 Tiket Piala Dunia U20, Ini Jalur Timnas Indonesia Menuju Azerbaijan-Uzbekistan
Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya akumulasi kekayaan kelompok taipan teratas Indonesia.
Berikut daftar 10 orang terkaya Indonesia dalam data tersebut:
Kekayaan tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai dari batu bara, petrokimia, perbankan, rokok, makanan, kesehatan, properti, pusat data, telekomunikasi, perkebunan sawit hingga pertambangan nikel.
Perbandingan yang menarik muncul ketika total kekayaan 10 orang tersebut disandingkan dengan penerimaan pajak pemerintah.
Dalam data yang digunakan, penerimaan pajak hingga akhir Agustus 2026 disebut mencapai sekitar Rp1.409,1 triliun.
Sementara total kekayaan 10 taipan tersebut sekitar Rp1.950,28 triliun.
Dengan demikian, secara nominal, akumulasi kekayaan 10 orang terkaya itu lebih besar sekitar Rp541 triliun dibandingkan angka penerimaan pajak yang disebutkan.
Namun, kedua angka tersebut sebenarnya mengukur hal yang berbeda.
Kekayaan Forbes merupakan estimasi nilai bersih aset individu, sedangkan penerimaan pajak merupakan uang yang benar-benar masuk ke kas negara selama periode tertentu.
Karena itu, perbandingan tersebut lebih tepat dibaca sebagai gambaran besarnya nilai kekayaan para konglomerat, bukan sebagai perbandingan kemampuan membayar pajak.
Daftar orang terkaya versi Forbes Real-Time sangat sensitif terhadap pergerakan harga saham.
Ketika harga saham perusahaan yang dimiliki seorang miliarder naik, nilai kekayaan bersihnya ikut terdongkrak.
Sebaliknya, penurunan harga saham dapat memangkas kekayaan di atas kertas dalam waktu singkat.
Forbes menjelaskan bahwa kepemilikan perusahaan publik diperbarui setiap lima menit selama pasar saham terkait beroperasi, sedangkan kekayaan yang terkait perusahaan privat diperbarui sekali sehari.
Inilah yang membuat persaingan antara Low Tuck Kwong, Prajogo Pangestu, Budi Hartono dan taipan lainnya dapat berubah hanya dalam hitungan hari, bahkan jam perdagangan.
Jika melihat daftar tersebut, sektor energi masih menjadi salah satu mesin utama pembentukan kekayaan di Indonesia.
Low Tuck Kwong memiliki Bayan Resources di sektor batu bara, sementara Prajogo Pangestu memiliki bisnis besar di petrokimia dan energi.
Forbes juga mencatat Prajogo memiliki kepentingan di Barito Pacific, Chandra Asri dan bisnis energi terbarukan.
Di sisi lain, munculnya nama Otto Toto Sugiri dan Marina Budiman menunjukkan semakin besarnya peran infrastruktur digital dan pusat data dalam peta kekayaan baru Indonesia.
Dengan demikian, daftar miliarder Indonesia tidak hanya didominasi bisnis konvensional. Energi, petrokimia, perbankan, komoditas hingga ekonomi digital kini sama-sama menjadi sumber kekayaan raksasa.
Posisi Low Tuck Kwong di puncak pun belum tentu bertahan lama. Selama pasar saham bergerak, daftar Forbes Real-Time juga dapat berubah.
Raja kekayaan Indonesia hari ini bisa saja berbeda ketika perdagangan saham kembali bergerak.(*)
Sumber : Kompas.com