Laporan Wartawan TribunGayo.com Alga Mahate Ara | Aceh Tengah
TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON - Genangan air akibat pembangunan waduk/reservoir Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan I dan II di Kampung Wihni Bakong, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh telah mengubah hamparan lahan menyerupai danau baru.
Di balik pemandangan tersebut, persoalan pelik terkait status kepemilikan hingga ganti rugi lahan warga hingga kini masih menyisakan sengketa panjang dengan PT PLN (Persero).
Persoalan tersebut kembali mencuat ke permukaan dan dibahas secara intensif dalam Rapat Tindak Lanjut Hasil Sosialisasi Genangan Air pada Proyek Pembangunan PLTA Peusangan 1 dan 2 di Desa Wihni Bakong, Kamis (10/9/2026).
Agenda ini dihadiri langsung oleh Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga SE MSi, Wakil Bupati Muchsin Hasan MSP, Ketua DPRK dan jajaran Forkopimda Plus lainya, serta masyarakat terdampak.
Meskipun terbentuknya genangan sempat menarik perhatian warga, dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat di empat desa, yakni Kampung Sanehen, Wihni Bakong, Wih Sagi Indah, dan Lenga.
Sebagian lahan perkebunan milik warga yang terendam dilaporkan hingga kini belum mendapatkan kejelasan status maupun penyelesaian ganti rugi yang tuntas.
Perwakilan Masyarakat Pemilik Lahan, Harjuliska, mengungkapkan bahwa konflik pertanahan ini sejatinya telah terjadi sejak tahun 1998.
Namun, hingga tahun 2026, warga pemilik lahan belum juga memperoleh kepastian hukum maupun kejelasan hak atas ganti rugi atas tanah mereka dari pihak PT PLN.
Dalam kesempatan yang sama, mantan ketua GMNI Aceh Tengah, Saparuda, turut menyuarakan aspirasi masyarakat dengan menyampaikan sejumlah tuntutan.
Keluhan utama berpusat pada dampak pembangunan mega infrastruktur kelistrikan yang mengganggu mata pencaharian serta memutus akses warga menuju lahan perkebunan.
Selain itu, Saparuda juga mendesak PT PLN (Persero) untuk segera membangun pembatas atau barrier serta memasang papan peringatan di sekitar area bendungan.
Langkah mitigasi ini dinilai penting, mengingat kedekatan permukiman warga dengan bibir danau buatan berpotensi tinggi memicu bahaya keselamatan, khususnya bagi anak-anak.
Sementara itu, Reje Wihni Bakong, Hasan Basri juga menyampaikan tuntutan berupa ganti rugi 120-an rumah warga yang belum diselesaikan oleh PLN.
Dalam forum tersebut Hasan Basri membeberkan bahwa seluruh berkas tuntutan ganti rugi rumah warga telah diserahkan kepada pemkab Aceh Tengah melalui kepala Bagian (Kabag) Umum Setdakab Aceh Tengah.
Namun, hingga saat ini belum mendapatkan tindak lanjut.
“Berkasnya sudah kami serahkan kepada bagian umum Setdakab. kami berharap bapak Bupati Haili Yoga bisa menyelesaikan ganti rugi ini,” tambah Hasan Basri dalam pertemuan tersebut.
Menanggapi aduan dan tuntutan yang terus bergulir, Bupati Aceh Tengah Haili Yoga menyampaikan akan berupaya semaksimal mungkin dalam menyelesaikan sengketa lahan maupun sejumlah tuntutan masyarakat lainnya.
“Kalau masih terdapat ganti rugi yang belum dibayarkan, segera diselesaikan, PLN bawa seluruh dokumennya nanti, dokumenya harus jelas," ucapnya.
Haili Yoga menginstruksikan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Aceh Tengah untuk segera menjadwalkan pertemuan dengan perwakilan masyarakat terdampak yang diagenda digelar senin (14/9/2026).
“Pak Sekda tolong, nanti hadiri dialog ini, agar persoalan ini clear, PLTA tolong bawa seluruh dokumen,” ujarnya.
Terkait tuntutan berubah ganti rugi 120-an rumah warga yang disuarakan Hasan Basri, Haili Yoga mengaku telah mendapatkan informasi tersebut.
Dikatakan, kehadiran dirinya di lokasi juga merupakan bagian upaya menyelesaikan persoalan tersebut, dimana, tanggung jawab atas ganti rugi tersebut merupakan tanggung jawab dari PLTA bukan pemerintah Daerah.
Melalui pertemuan tersebut, Bupati Haili Yoga berharap agar persoalan sengketa lahan dan dampak lingkungan dari proyek strategis nasional ini dapat segera dituntaskan tanpa berlarut-larut.
Di samping persoalan ganti rugi lahan yang masih bergulir, keberadaan bendungan PLTA ini mulai menarik perhatian masyarakat sebagai destinasi wisata baru.
Genangan air yang terbentuk menjelma menjadi danau baru yang ramai dikunjungi warga untuk bersantai, memancing, hingga menikmati pemandangan alam.
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menyampaikan bahwa kehadiran PLTA ini membawa dampak positif bagi pengembangan daerah serta peningkatan pendapatan masyarakat.
Hal ini terlihat dari mulai ramainya kunjungan warga, aktivitas memancing, hingga kehadiran para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti mobil kopi di sekitar lokasi.
"Ini kan sebuah danau baru. Tapi kalau setiap wisata, setiap program tentu ada plus minus yang harus kita layani.
Tapi yang terpenting hari ini adalah kalau kita lihat hari ini saja, banyak yang memancing, banyak ada beberapa mobil kopi, UMKM sudah hadir," ujar Haili Yoga di lokasi.
Menurutnya, keberadaan PLTA hadir untuk mendukung pengembangan daerah dan masyarakat, serta berpesan agar warga setempat dapat melayani pengunjung dengan baik.
Ke depan, Dinas Pariwisata juga direncanakan akan memberikan edukasi melalui pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Serta pengembangan desa wisata agar kawasan ini terkelola secara terprogram, berkolaborasi dengan berbagai OPD, serta dikoordinasikan dengan kementerian terkait.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan, turut menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk mengoptimalkan potensi wisata di kawasan tersebut melalui berbagai langkah penataan ke depan.
"Inovasi, kreasi, dan kreativitas lainnya, insya Allah akan kita tata nanti di masa yang akan datang. Terima kasih dan selamat menikmati alam Takengon," ujar Muchsin Hasan. (*)
Baca juga: Harga Emas di Aceh Tengah Terpantau Stabil, Warga Ramai Menjual
Baca juga: Prakiraan Cuaca Aceh Tengah Hari Ini: Dominan Berawan hingga Berawan Tebal dan Suhu Sejuk Khas Gayo
Baca juga: Harga Telur Bebek hingga Ayam Ras di Aceh Tengah Alami Kenaikan