Pembangunan Sabo Dam Dikebut untuk Lindungi Warga dari Potensi Banjir Susulan di Tapanuli Tengah
Mochamad Dipa Anggara September 10, 2026 11:32 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Pemerintah mempercepat pembangunan Sabo Dam sebagai infrastruktur pengendali sedimen di wilayah hulu Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, untuk mengantisipasi banjir susulan saat hujan dengan intensitas tinggi.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni pembangunan Sabo Dam Aek Tukka dan Sabo Dam Sigala-gala.

Infrastruktur tersebut disiapkan untuk menahan sekaligus mengendalikan aliran material dari kawasan perbukitan agar tidak kembali berdampak terhadap permukiman dan lahan masyarakat.

Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian mengatakan, wilayah Tapanuli Tengah menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus dalam penanganan pascabencana.

Menurut Tito, pembangunan infrastruktur di wilayah hulu perlu dipercepat mengingat sebelumnya material lumpur terbawa aliran air hingga berdampak pada permukiman, perkantoran, sekolah, rumah ibadah, serta lahan persawahan warga.

"Penanganan di wilayah hulu ini harus kita percepat. Jangan sampai ketika hujan deras turun, aliran air dan material kembali turun dan berdampak ke masyarakat," kata Tito saat meninjau progres rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Tapanuli Tengah, Kamis (10/9/2026).

Tito menjelaskan, Kecamatan Tukka membutuhkan sistem khusus untuk mengantisipasi aliran air dan material dari kawasan perbukitan.

Karena itu, pembangunan Sabo Dam menjadi bagian penting dari upaya penguatan infrastruktur di wilayah hulu.

Pada tahap awal, pemerintah menargetkan pembangunan satu Sabo Dam Aek Tukka dan satu Sabo Dam Sigala-gala dapat diselesaikan pada Desember 2026.

Selanjutnya, Pemerintah juga menyiapkan tambahan dua Sabo Dam pada tahun depan sehingga total terdapat empat Sabo Dam yang akan dibangun khusus di Kecamatan Tukka.

"Setelah itu, tahun depan dibangun lagi dua, jadi totalnya empat, khusus di Kecamatan Tukka ini," ujar Tito.

Selain pembangunan Sabo Dam, penanganan juga dilakukan melalui normalisasi aliran sungai serta pembangunan tanggul penahan sepanjang sekitar 1,6 kilometer.

Langkah tersebut dilakukan secara bersamaan untuk memperkuat sistem pengendalian air dan material dari wilayah hulu hingga ke kawasan yang dihuni masyarakat.

Tito menekankan, program pemulihan pascabencana harus berjalan secara paralel. Penguatan infrastruktur hulu melalui pembangunan Sabo Dam, normalisasi sungai, hingga pemulihan rumah warga dan fasilitas pelayanan dasar harus menjadi satu rangkaian penanganan.

Dengan pembangunan Sabo Dam tersebut, pemerintah berharap aliran material dari kawasan perbukitan dapat lebih terkendali sehingga risiko dampak banjir dan sedimentasi terhadap masyarakat di wilayah Tukka dapat ditekan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.