SERAMBINEWS.COM – Hari pertama sekolah seharusnya menjadi momen yang membahagiakan bagi seorang anak. Namun bagi Wafaa Yousef Akila, bocah berusia sembilan tahun di Gaza, hari itu justru menjadi hari terakhir dalam hidupnya.
Wafaa baru saja memulai tahun ajaran baru setelah pendidikan anak-anak di Gaza lama terganggu akibat perang.
Seperti anak-anak lainnya, ia kembali ke sekolah dengan harapan sederhana: memiliki buku dan alat tulis baru, belajar bersama teman-teman, serta menjalani hari-hari sekolah seperti anak seusianya.
Namun, Wafaa tidak pernah sampai pada hari kedua sekolah.
Pada Minggu, 6 September 2026, Wafaa mengikuti hari pertamanya di sekolah. Setelah pelajaran selesai, ia bersama ayahnya, Yousef Akila, pergi membeli perlengkapan yang dibutuhkan untuk sekolah, seperti buku catatan dan pena.
Baca juga: Serangan Israel di Gaza Tewaskan Satu Keluarga, Termasuk Dua Anak
Perjalanan sederhana itu berubah menjadi tragedi.
Menurut sumber-sumber Palestina yang dikutip Al Jazeera, sebuah rudal Israel menghantam mobil yang ditumpangi Wafaa dan ayahnya di kawasan Al-Nasr, Kota Gaza.
Wafaa dan ayahnya tewas dalam serangan tersebut. Sejumlah orang lainnya dilaporkan terluka.
Tas sekolah, buku catatan, pena, dan perlengkapan yang seharusnya menjadi bagian dari awal perjalanan pendidikannya justru berakhir di tengah kehancuran.
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Barsh, menyoroti tragisnya keadaan tersebut. Ia mempertanyakan ancaman apa yang mungkin ditimbulkan oleh sebuah tas sekolah, buku catatan, atau pena hingga seorang anak seperti Wafaa harus kehilangan nyawanya.
Kisah Wafaa kemudian menyebar luas di media sosial. Bukan hanya karena usianya yang masih sangat muda, tetapi karena kematiannya menggambarkan kenyataan yang dihadapi anak-anak Gaza setiap hari.
Wafaa berangkat ke sekolah pada hari pertamanya dengan membawa harapan seperti anak-anak lainnya.
Ia pulang untuk terakhir kalinya.
Tidak ada hari kedua di sekolah. Tidak ada kesempatan untuk kembali bertemu teman-temannya. Tidak ada lagi hari-hari belajar, bermain, atau tumbuh bersama keluarganya.
Kematian Wafaa juga terjadi ketika tahun ajaran baru di Gaza dimulai di tengah kehancuran besar akibat perang. Banyak sekolah rusak atau hancur, sementara ribuan anak kehilangan orang tua, saudara, teman, dan tempat tinggal.
Bagi sebagian anak Gaza, kembali ke sekolah bukan sekadar kembali belajar. Mereka harus kembali ke ruang kelas tanpa orang-orang yang sebelumnya selalu menemani mereka.
Kisah Wafaa menjadi gambaran kecil dari penderitaan yang lebih luas dialami anak-anak Palestina.
Sejak perang Israel di Gaza dimulai pada Oktober 2023, puluhan ribu warga Palestina dilaporkan tewas dan ratusan ribu lainnya terluka. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak.
Di saat anak-anak di berbagai belahan dunia memulai tahun ajaran dengan seragam, tas, buku, dan harapan baru, anak-anak Gaza harus menghadapi kenyataan yang berbeda: sekolah yang hancur, keluarga yang tercerai-berai, pengungsian, serta ancaman serangan yang terus membayangi.
Wafaa Akila seharusnya memiliki kesempatan untuk tumbuh, belajar, bermain, dan bermimpi.
Namun, perjalanan membeli buku dan alat tulis bersama ayahnya menjadi perjalanan terakhir mereka.
Wafaa memulai tahun ajaran barunya. Tetapi ia tidak pernah sempat menjalani hari keduanya.(*)