Tak Lagi Tergantung AC Boros Listrik, Mahasiswa FMIPA UI Ciptakan Pendingin dari Tanah dan Matahari
dodi hasanuddin September 11, 2026 12:35 AM

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI -  Lima mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mengembangkan ADEM (Adaptive Energy-efficient Microclimate System), yakni prototipe sistem pendingin hibrida yang memadukan kestabilan suhu tanah dan tenaga surya. 

Inovasi ini dirancang sebagai alternatif pendinginan ruangan yang lebih hemat energi, terutama untuk bangunan di wilayah tropis seperti Indonesia yang membutuhkan pendinginan tinggi.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) 2026 berjudul “ADEM: Prototipe Sistem Pendinginan Pasif Modular Berbasis Subsoil Heat Exchange untuk Efisiensi Energi Ruangan”.

Baca juga: Lansia Bekasi Tulis Ulang Makna Hidup, Mahasiswa UI Ubah Edukasi Diabetes Jadi Sesi Berbagi Cerita

Tim yang diketuai Abdurrasyid Dzaki Amir ini menggabungkan mekanisme pertukaran panas dengan tanah, ventilasi bertenaga surya, serta sistem kontrol otomatis dalam satu sistem pendinginan.

ADEM bekerja dengan memanfaatkan suhu tanah yang relatif stabil pada kedalaman tertentu. Udara dari luar dialirkan melalui jaringan pipa PVC yang ditanam di bawah tanah dan disusun berkelok (serpentine).

Lintasan yang lebih panjang memungkinkan pertukaran panas antara udara dan tanah berlangsung lebih optimal sebelum udara dialirkan ke dalam ruangan. Proses ini diharapkan dapat menurunkan beban kerja sistem pendingin aktif seperti AC.

“Prinsip ADEM memanfaatkan perbedaan suhu antara udara permukaan dan suhu tanah. Dengan mendinginkan udara terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan, beban sistem pendingin aktif dapat dikurangi,” kata Abdurrasyid.

Baca juga: Mahasiswa UI Ajarkan Anak Binaan LPKA Tangerang Kelola Amarah dengan Tactical Breathing

Untuk menjaga sirkulasi udara, ADEM dilengkapi turbin ventilator yang digerakkan motor DC dan memperoleh daya dari panel surya. Sistem tersebut memungkinkan aliran udara tetap terjaga, termasuk ketika kondisi angin rendah.

Pada saat yang sama, sensor suhu pada bagian inlet dan outlet mengukur perubahan temperatur secara real-time dan mengirimkan data ke mikrokontroler ESP32 untuk mengatur kerja ventilator sesuai kondisi lingkungan.

“Sistem ini kami rancang agar adaptif. Ketika suhu udara luar meningkat, kebutuhan sirkulasi juga meningkat. Pada kondisi dengan intensitas matahari lebih tinggi, panel surya dapat menghasilkan daya yang lebih besar untuk mendukung kerja ventilator,” ujar Abdurrasyid.

Berbeda dari sistem pendingin ruangan konvensional yang menggunakan kompresi refrigeran dan membutuhkan daya listrik relatif besar, ADEM mengutamakan mekanisme pendinginan pasif melalui pertukaran panas dengan tanah.

Baca juga: Jadi Pemandu Museum Sehari, 8 Siswa Disabilitas Depok Rasakan Dunia Kerja Lewat Program BINTANG UI

Penggunaan energi surya pada sistem ventilasi juga menjadi bagian dari upaya mengurangi kebutuhan energi dari sumber listrik konvensional.

Abdurrasyid mengembangkan ADEM bersama Satria Erlangga Munggaran, Michael Gianvittorio Siringoringo, Steven Anthony Suhartoyo, dan Muhammad Rayhan Pasha Nuruddin.

Kelima mahasiswa tersebut berasal dari Program Studi S1 Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI.

Pengembangan ADEM dilakukan dengan bimbingan Syahril Siregar, S.Si., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Fisika FMIPA UI.

Baca juga: Pisahkan Uang Usaha dan Uang Dapur! FEB UI Bekali 50 UMKM Sukabumi Kunci Keuangan Sehat

Syahril menilai pengembangan teknologi pendinginan yang hemat energi relevan dengan kebutuhan Indonesia, mengingat tingginya kebutuhan energi untuk menjaga kenyamanan termal bangunan di wilayah tropis.

“Riset seperti ini penting karena sektor bangunan menyumbang porsi besar konsumsi energi, sementara sistem pendinginan ruangan menjadi salah satu pengguna energi utamanya. ADEM menunjukkan bahwa mahasiswa dapat merancang solusi yang aplikatif, inovatif secara teknis, dan sesuai dengan kondisi iklim Indonesia,” kata Syahril.

Baca juga: Cegah Demensia, Mahasiswa UI Hadirkan Terapi Musik dan Seni di Panti Werdha Cilodong

Prototipe fungsional menjadi salah satu luaran utama program PKM-KC ini. Ke depan, tim ADEM berharap sistem tersebut dapat dikembangkan agar lebih optimal dan berpotensi diterapkan pada berbagai jenis bangunan, seperti hunian, fasilitas pendidikan, tempat ibadah, dan ruang komunitas.

Melalui ADEM, mahasiswa UI tidak hanya mengembangkan alternatif teknologi pendinginan, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya lokal dan energi terbarukan untuk meningkatkan efisiensi energi bangunan.

Inovasi ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya pengurangan konsumsi energi sekaligus emisi karbon di Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.