Istanbul (ANTARA) - Presiden Maladewa Mohamed Muizzu telah meminta Perdana Menteri Inggris Andy Burnham untuk mengadakan pembicaraan mengenai kedaulatan Kepulauan Chagos, menurut kantor kepresidenan Maladewa, Selasa (8/9).
Menurut pernyataan tersebut, Muizzu menekankan pentingnya "dialog yang bermakna" antara Inggris dan Maladewa terkait kedaulatan kepulauan itu, sembari menyatakan kekhawatiran atas keputusan Inggris untuk melanjutkan penyerahan Kepulauan Chagos kepada Mauritius.
Pada Mei 2025, Inggris dan Mauritius menandatangani kesepakatan untuk mengalihkan kedaulatan kepulauan di Samudra Hindia tersebut kepada Mauritius.
Kesepakatan itu, yang mengakhiri lebih dari dua abad kekuasaan Inggris, merupakan imbalan atas izin AS dan Inggris untuk terus mengoperasikan pangkalan militer Diego Garcia yang strategis selama 99 tahun ke depan.
Maladewa menentang kesepakatan Inggris-Mauritius tersebut, yang belum mulai berlaku dan masih menunggu ratifikasi domestik.
Muizzu menyoroti sejarah bersama dan ikatan budaya antara Maladewa dan Chagos, serta dukungan jangka panjang negaranya terhadap konservasi laut dan ekspedisi penelitian ilmiah di wilayah tersebut.
"Dalam kaitan ini, dia menegaskan kembali komitmen Maladewa untuk menjaga kemitraan yang dapat diandalkan dan konstruktif dengan Inggris terkait masalah-masalah yang menyangkut Chagos, sembari tetap melindungi kepentingan sah negara Maladewa dan rakyatnya," menurut pernyataan tersebut.
Dia menyatakan harapan bahwa interaksi yang diperbarui antara kedua negara akan berkontribusi pada stabilitas dan keamanan di Samudra Hindia, "terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian global."
Kepulauan Chagos, sebuah gugusan tujuh atol yang terdiri dari lebih dari 60 pulau di bagian tengah Samudra Hindia, terletak sekitar 500 kilometer di selatan Maladewa.
Sumber: Anadolu





