Jakarta (ANTARA) - Tenaga ahli bidang kecerdasan artifisial dan transformasi digital Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Ir. Hammam Riza, M.Sc., menekankan bahwa keberhasilan dalam upaya pengembangan kecerdasan artifisial (AI) nasional semestinya juga diukur dari kemanfaatan teknologi itu bagi masyarakat.

"Ukuran keberhasilan kita di dalam AI ini, are we ready for AI, itu harus dimulai bukan seberapa banyak paper publikasi yang kita hasilkan, tetapi seberapa jauh pengetahuan itu berubah menjadi kemampuan teknologi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat," katanya dalam acara diskusi "Medcom.id TECHPRESSO Agentic AI, Are We Ready?" di Jakarta Barat, Kamis.

Dia mengemukakan bahwa AI adalah teknologi baru yang terus berkembang dan perkembangannya berlangsung cepat. Jadi, tidak ada negara yang benar-benar siap untuk menghadapinya.

BRIN saat ini mendorong pengembangan teknologi AI supaya Indonesia tidak hanya menjadi negara pasar, tapi juga penghasil solusi yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Selain itu, Hammam menyampaikan bahwa upaya pengembangan inovasi AI nasional harus dibarengi dengan peningkatan keamanan siber agar tidak menimbulkan kerugian.

"Karena semakin banyak AI yang akan kita gunakan, apalagi agentic AI, akan semakin besar pula kebutuhan terhadap privasi, terhadap keamanan, trusted identity, kriptografi, sampai kepada ketahanan keamanan siber," katanya.

Hammam yakin Indonesia bisa menangkap peluang-peluang yang hadir bersamaan dengan pengembangan AI secara optimal serta berperan dalam industri AI global.