Iran Pamer Rudal Mach 5, AS Hadapi Ancaman Baru di Teluk Persia
Ansari Hasyim September 11, 2026 01:03 AM

 

SERAMBINEWS.COM – Iran dilaporkan terus meningkatkan kemampuan militernya di tengah memanasnya konflik dengan Amerika Serikat.

Salah satu perkembangan yang paling menyita perhatian adalah peningkatan kemampuan rudal balistik Qassem Basir, yang diklaim memiliki kecepatan hingga Mach 5 dan jangkauan sekitar 1.200 kilometer atau 745 mil.

Perkembangan ini menambah kekhawatiran terhadap keamanan pasukan dan kapal perang Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan Teheran kini mengadopsi pendekatan militer yang lebih agresif.

Baca juga: Pesta Pernikahan Berdarah Jadi Pemicu:Ratusan Rudal Iran Hantam Pangkalan Militer AS di Timur Tengah

Dalam pernyataannya di televisi pemerintah Iran, Rezaei menyebut angkatan bersenjata Iran akan mengambil tindakan terhadap ancaman bahkan sebelum serangan benar-benar dilakukan.

Pernyataan tersebut menandai perubahan penting dalam doktrin pertahanan Iran.

Qassem Basir Diklaim Makin Cepat dan Akurat

Qassem Basir merupakan rudal balistik berbahan bakar padat yang pertama kali diuji pada 2025. Rudal ini dilaporkan memiliki hulu ledak berbobot sekitar setengah ton.

Menurut laporan media Iran, versi yang telah ditingkatkan memiliki jangkauan dan tingkat akurasi yang lebih baik. Rudal tersebut diklaim mampu mencapai kecepatan sekitar Mach 5, atau hampir 3.800 mil per jam.

Teheran menyebut peningkatan kemampuan Qassem Basir sebagai salah satu titik penting dalam strategi pertahanannya.

Rezaei juga mengklaim Iran telah menguji rudal baru terhadap sebuah kapal perang Amerika Serikat. Namun, belum jelas apakah rudal yang digunakan dalam pengujian tersebut adalah Qassem Basir.

Iran Mulai Mengubah Doktrin Perangnya

Perubahan paling mengkhawatirkan bukan hanya terletak pada kemampuan rudal, tetapi juga pada perubahan doktrin militer Iran.

Selama ini, Iran lebih banyak menekankan serangan balasan setelah terlebih dahulu diserang Amerika Serikat atau Israel. Namun, pernyataan terbaru Rezaei mengindikasikan bahwa Teheran kini mempertimbangkan tindakan pre-emptive, yakni menyerang sasaran yang dianggap sebagai ancaman sebelum serangan benar-benar terjadi.

Strategi tersebut berpotensi meningkatkan risiko salah perhitungan di tengah ketegangan yang sudah tinggi.

Sedikit saja terjadi kesalahan membaca situasi, serangan yang awalnya dimaksudkan sebagai pencegahan dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Zona Eksklusi Baru di Teluk Persia

Di saat yang sama, Iran juga mengumumkan rencana membentuk “zona eksklusi” baru di Teluk Persia.

Batas wilayah tersebut masih belum ditentukan secara rinci. Namun, Iran menyatakan kapal yang memasuki kawasan tersebut dapat dimasukkan ke dalam daftar sanksi.

Pada 7 September, Rezaei menyampaikan bahwa perang ekonomi terhadap Iran akan dibalas dengan pembentukan zona maritim tersebut.

Amerika Serikat menolak klaim Iran itu. Washington menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka dan berada di bawah kendali pasukan Amerika Serikat.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas Baru
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling strategis dalam konflik ini.

Jalur sempit tersebut sebelumnya menjadi rute bagi sekitar 20 persen minyak dunia yang dikirim dari kawasan Timur Tengah. Iran mengklaim memiliki kendali atas selat itu, sementara Amerika Serikat memandangnya sebagai perairan internasional.

Sejak konflik meningkat, lalu lintas kapal komersial di kawasan tersebut merosot tajam. Ketidakpastian mengenai keamanan pelayaran membuat sejumlah perusahaan pelayaran enggan mengambil risiko.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah. Gangguan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz turut memberikan tekanan terhadap harga minyak dan meningkatkan biaya energi di berbagai negara.

Konflik AS-Iran Kembali Memanas

Ketegangan antara Washington dan Teheran sempat mereda sepanjang Agustus. Selama lebih dari sebulan tidak ada serangan yang dikonfirmasi antara kedua pihak.

Situasi berubah pada akhir Agustus ketika pasukan Amerika Serikat menghancurkan dua peluncur roket Iran di sebuah pulau di Selat Hormuz.

Sejak saat itu, serangkaian aksi saling balas kembali terjadi.

Dengan Iran mengembangkan rudal yang diklaim semakin cepat dan akurat, sekaligus mengisyaratkan doktrin serangan pendahuluan, kawasan Teluk Persia kini menghadapi risiko eskalasi baru.

Jika ancaman rudal dan ketegangan di Selat Hormuz terus meningkat, kesalahan perhitungan sekecil apa pun berpotensi memicu konflik yang jauh lebih besar.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.