TRIBUNJATENG.COM, PATI - Kasus dugaan keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, masih meluas.
Selain menimpa SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati, insiden serupa juga terjadi di MTs Manbaul Ulum, Bermi, Kecamatan Gembong.
Sebanyak 11 siswa dari sekolah tersebut saat ini menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun Jateng, ketiga sekolah tersebut mendapat pasokan MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama, yakni SPPG Gembong 1 yang berlokasi di Dukuh Ngembes, Desa Gembong.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan MTs Manbaul Ulum, Ahmadi Rozaq, mengonfirmasi bahwa belasan anak didiknya harus mendapatkan penanganan medis intensif setelah mengalami gejala gangguan pencernaan.
Seluruh korban dirawat tersebar di tiga fasilitas kesehatan.
"Secara keseluruhan ada 11 siswa yang dirawat, yakni 8 anak di RS KSH, 2 anak di RSUD Soewondo, dan 1 anak di RS Mitra Bangsa," ujar Ahmadi kepada Tribun Jateng, Kamis (10/9/2026).
Ahmadi menjelaskan, gejala keracunan yang dialami para siswa bervariasi dan tidak muncul secara bersamaan.
Reaksi fisik baru mulai dirasakan para siswa, pada malam hari, seusai mengonsumsi hidangan program MBG tersebut, pada Selasa (8/9/2026) lalu.
Menu yang dihidangkan kala itu adalah nasi bakar ayam suwir, telur ceplok, orek tempe, lalapan, kerupuk udang, dan semangka.
Pihak sekolah baru menyadari kondisi para siswa setelah melakukan pemeriksaan langsung ke kelas-kelas dan juga pondok-pondok pesantren tempat tinggal siswa, pada Rabu (9/9/2026) dan Kamis (10/9/2026) hari ini.
"Reaksinya itu, katanya (menurut para korban—Red) ada yang mual, ada yang pusing, ada yang mencret, banyak variasinya. Tadi saya cek ada enam kelas, terus siswa yang agak lemas langsung saya bawa untuk ditangani," jelasnya.
Pihak madrasah mencatat total penerima program MBG di MTs Manbaul Ulum mencapai sekitar 205 siswa.
Selain 11 siswa yang dirawat di rumah sakit, pihak sekolah juga menyisir para siswa yang tidak masuk sekolah ke sejumlah pondok pesantren tempat mereka tinggal untuk memastikan tidak ada korban susulan yang telantar tanpa penanganan medis.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo menyampaikan, seiring bertambahnya warga sekolah yang mengeluhkan sakit perut dan diare, jumlah pasien yang memerlukan perawatan intensif atau rawat inap juga meningkat menjadi 54 orang.
Tinjauan BGN
Sementara itu, pada Kamis sore, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Mayjen TNI (Purn) Trenggono, menjenguk para siswa yang menjadi korban dugaan keracunan MBG di Kabupaten Pati.
Trenggono, yang didampingi Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, memantau langsung kondisi para pasien yang tengah mendapat perawatan medis intensif di Keluarga Sehat Hospital (KSH) Pati.
Kunjungan pejabat tinggi BGN ini dilakukan seiring melonjaknya jumlah warga sekolah yang tumbang akibat mengonsumsi menu MBG olahan SPPG Gembong 1.
Berdasarkan data resmi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati, per Kamis pukul 13.00, total korban bergejala dilaporkan telah menembus angka 269 orang.
Sebanyak 59 korban menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit, yakni RSUD Soewondo 24 pasien, RS KSH 20 pasien, RS Mitra Bangsa 13 pasien, dan RS Fastabiq Sehat 2 pasien.
Adapun 154 korban lainnya terdata menjalani rawat jalan, yakni di RSUD Soewondo 120 pasien, RS Mitra Bangsa 31 pasien, serta Puskesmas Gembong 3 pasien.
Kasus ini menimpa sedikitnya tiga sekolah, yakni SMPN 1 Gembong, MTsN 3 Pati, dan MTs Manbaul Ulum Bermi.
Seusai menjenguk para korban di UGD dan ruang perawatan KSH Pati, Trenggono memastikan bahwa kondisi kesehatan seluruh pasien yang dirawat telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan dalam penanganan medis yang optimal.
"Sampai sore hari ini (Kamis sore kemarin—Red) masih ada 59 pasien yang dirawat dan semuanya sudah dalam kondisi segera pulih, tidak ada yang mengkhawatirkan," ujar Trenggono.
Menanggapi insiden keracunan yang diduga dipicu oleh keterlambatan distribusi serta pengolahan makanan yang tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP), BGN mengambil sikap tegas.
Trenggono menegaskan, SPPG Gembong 1 langsung dijatuhi sanksi pembekuan operasional (suspend).
Mengingat jumlah korban yang terdampak melampaui 100 orang, peristiwa ini dikategorikan sebagai pelanggaran tingkat berat.
"Suspend ringan itu 10 hari, suspend sedang 20 hari, dan suspend berat 30 hari. Karena korbannya di atas 100 orang, ini sudah pasti masuk kategori berat. Apabila hasil evaluasi menunjukkan fasilitas dan kelayakan dapurnya memang buruk, langsung kami suspend permanen," tegas Trenggono.
Dia menambahkan, BGN di bawah kepemimpinan baru terus berupaya membenahi tata kelola dan penyiapan makanan MBG di seluruh daerah.
Evaluasi ketat dan inspeksi langsung, baik secara virtual maupun peninjauan lapangan, akan terus ditingkatkan untuk memastikan seluruh dapur SPPG disiplin mematuhi SOP.
Trenggono juga menjamin, seluruh biaya pengobatan para korban ditanggung sepenuhnya oleh kolaborasi BGN dan Pemkab Kabupaten Pati.
Status KLB
Sementara itu, Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra menyatakan, Pemkab Pati telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk mempercepat penanganan kedaruratan medis.
"Kami mengutamakan masalah pelayanan kesehatan dan keselamatan nyawa anak-anak didik kita. Makanya sejak awal saya putuskan statusnya adalah KLB agar bisa kami handle secara langsung dan cepat," jelas Chandra.
Sebagai langkah konkret pascainsiden, Pemkab Pati bersama jajaran Forkopimda, Kodim, Polres, dan Dinas Kesehatan akan menerjunkan tim khusus mulai pekan depan untuk menyisir dan mengaudit seluruh fasilitas dapur SPPG di Kabupaten Pati.
"Ada sekitar 172 dapur SPPG di Kabupaten Pati yang akan kami cek ulang kelayakan fasilitas dan kapasitas porsinya. Jangan sampai dapur kecil dipaksakan mengelola 2.500 hingga 3.000 porsi,” kata Chandra.
“Hasil evaluasi lapangan ini nantinya akan kami rekomendasikan langsung ke BGN untuk diambil keputusan tegas," tandasnya. (Mazka Hauzan Naufal)