Kekeringan Gorontalo Makin Panjang, Pohuwato hingga Gorontalo Utara Masuk Zona Rawan
Wawan Akuba September 11, 2026 10:43 AM

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Kekeringan meteorologis di Provinsi Gorontalo semakin panjang pada Dasarian I September 2026.

Pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) Stasiun Klimatologi Gorontalo, BMKG, menunjukkan sejumlah wilayah di Gorontalo telah mengalami periode tanpa hujan dalam durasi panjang.

Di wilayah timur, yang meliputi Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, dan Gorontalo Utara, kategori ekstrem dengan durasi lebih dari 60 hari tanpa hujan semakin mendominasi.

Baca juga: Harga BBM per Jumat, 11 September 2026, Cek Harga Pertamax-Dexlite di Gorontalo dan Se-Indonesia

Sementara di wilayah barat, yakni Kabupaten Pohuwato dan Boalemo, sebagian besar wilayah telah masuk kategori sangat panjang dengan durasi 31 hingga 60 hari tanpa hujan.

Beberapa titik di wilayah barat bahkan telah masuk kategori ekstrem, dengan periode tanpa hujan lebih dari 60 hari.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan kekeringan meteorologis tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi semakin meluas di berbagai daerah di Provinsi Gorontalo.

Hujan Hanya 0-10 Milimeter

Kondisi hari tanpa hujan yang panjang tersebut sejalan dengan rendahnya curah hujan yang tercatat pada Dasarian I September 2026.

BMKG mencatat seluruh wilayah Provinsi Gorontalo didominasi curah hujan kategori rendah, yakni hanya 0 hingga 10 milimeter.

Sifat hujan di seluruh kabupaten dan kota juga berada pada kategori bawah normal, dengan persentase 0 hingga 30 persen.

Artinya, curah hujan yang diterima wilayah Gorontalo pada periode tersebut berada jauh di bawah kondisi normal klimatologis.

Seluruh Gorontalo Berstatus Siaga

BMKG juga menetapkan seluruh wilayah Provinsi Gorontalo dalam status siaga kekeringan meteorologis pada Dasarian I September 2026.

Sejumlah wilayah bahkan telah masuk kategori awas.

Kondisi ini menjadi perhatian karena periode tanpa hujan yang semakin panjang dapat meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air, baik untuk kebutuhan masyarakat maupun sektor pertanian.

Kekeringan diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Untuk Dasarian II September 2026, BMKG memprakirakan curah hujan di seluruh wilayah Gorontalo masih berada pada kategori rendah, yakni 0 hingga 10 milimeter.

Sifat hujan juga diprakirakan tetap berada pada kategori bawah normal atau 0 hingga 30 persen.

Peluang terjadinya akumulasi curah hujan sedikitnya 50 milimeter maupun 100 milimeter juga diprakirakan kurang dari 10 persen di seluruh wilayah Gorontalo.

Dengan kondisi tersebut, kekeringan meteorologis berpotensi terus berlangsung pada Dasarian II September 2026.

El Nino Masih Jadi Perhatian

Kondisi kering di Gorontalo berlangsung di tengah dinamika iklim global yang turut menjadi perhatian BMKG.

Analisis suhu muka laut periode Juni-Juli-Agustus 2026 menunjukkan anomali di wilayah Nino3.4 sebesar +2,20 derajat Celsius, dengan SSTA Nino3.4 mencapai +2,74 derajat Celsius.

Kondisi tersebut mengindikasikan adanya fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat.

Baca juga: Harga BBM per Jumat, 11 September 2026, Cek Harga Pertamax-Dexlite di Gorontalo dan Se-Indonesia

BMKG memprediksi fenomena El Nino 2026 masih dapat bertahan hingga awal 2027.

Sementara itu, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) berdasarkan pemutakhiran 1 September 2026 belum menunjukkan aktivitas yang kuat.

Kondisi MJO tersebut membuat kontribusinya terhadap peningkatan aktivitas konvektif dan curah hujan di Gorontalo diprediksi masih terbatas.

Kombinasi durasi hari tanpa hujan yang panjang, curah hujan rendah, dan prakiraan hujan yang masih minim membuat kondisi kekeringan di Gorontalo perlu terus diwaspadai. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.