TRIBUNMANADO.CO.ID - Antrean kendaraan untuk beroleh solar marak di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Saking maraknya, itu telah jadi pemandangan biasa.
Namun, bagi para sopir yang sehari-harinya terjebak dalam antrean solar, itu bukan sesuatu yang biasa.
Tapi sebuah pertarungan nasib, demi dapur tetap mengepul.
"Menanti, menanti dan menanti, demi sesuatu yang tak pasti."
Agus mengucapkan kalimat itu sambil berdiri di samping truk kuning miliknya.
Ia sedang mengantre solar di SPBU Politeknik, Jalan AA Maramis, Kelurahan Kairagi Dua, Kecamatan Mapanget, Manado, Jumat (11/9/2026) pagi.
SPBU Politeknik berjarak sekira 7 kilometer dari Bandara Samratulangi, Manado.
Agus mengaku mengutip lirik sebuah lagu. Judulnya ia sendiri sudah lupa.
Yang tidak ia lupa adalah berapa lama ia telah menunggu.
Sejak pukul 03.00 dini hari, truknya sudah berada dalam antrean.
Namun hingga pukul 10.00 Wita, kendaraannya masih berjarak ratusan meter dari SPBU.
"Dan ini sudah pukul 10 pagi, saya masih jauh dari SPBU," katanya.
Raut wajahnya tampak kesal.
Tangannya mengepal, gemas.
Berkali kali ia membanting-banting kaki.
Agus bercerita, antrean kembali panjang baru baru ini.
Sebelumnya antrean lancar lancar saja
"Tapi kini kembali panjang, bahkan lebih gila dari sebelumnya," kata dia
Antrean membuat Agus tak bisa mengangkut pasir untuk hari ini.
Ia pun kehilangan pendapatan. "Biasanya saya sehari bisa tiga ret angkut pasir, tapi kini tidak lagi, solar yang diisi ini hanya untuk mencari esok, begitu seterusnya," katanya.
Sialnya lagi, pendapatan minus, biaya pengeluaran bertambah.
"Selama mengantri ini saya banyak pengeluaran, tadi sudah makan, siang harus makan lagi, belum lagi minum dan rokok," katanya.
Rokok, kata dia, penting untuk mengisi waktu luang.
Dikatakannya orang bisa mati bosan menunggu tujuh jam sehari.
Ia menduga, salah satu penyebab dari antrean panjang adalah adanya mobil mobil yang membawa solar ke penampungan khusus.
"Mobil itu sering membuat kami naik darah karena selalu masuk di tengah antrean, Saya berharap mereka dapat ditindak," kata dia.
Dirinya berharap kelangkaan solar ini dapat segera teratasi karena menggerus pendapatan sopir dan secara tidak langsung menghambat perekonomian.
Nasib berbeda dialami Fery. Ia mengaku baru pertama bawa mobil pick up terbuka untuk sebuah pekerjaan dan langsung terlihat antrian panjang.
"Saya disini sudah antre dari jam 4 subuh," kata dia.
Informasi bahwa penyaluran solar hanya sampai pukul 2 siang membuat hatinya ciut.
Pasalnya ia masih cukup jauh dari SPBU dan gerak antrian sangat lambat.
"Semoga antrean bisa cepat agar sebelum pukul 2 saya bisa dapat solar," katanya. (Arthur Rompis)