BANJARMASINPOST.CO.ID - Telah viral di media sosial, seorang istri sah menggerebek suaminya saat tengah berduaan dengan wanita lain.
Peristiwa viral ini ternyata terjadi di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.
Sebuah video amatir tersebut diunggah sejumlah akun di platform Facebook dan ramai diperbincangkan sejak Kamis (10/9/2026).
Pada video itu, seorang pria berinisial P (46) diduga tepergok istrinya tengah bersama seorang wanita berinisial L (39).
Keduanya disebut berada di sebuah rumah di Desa Simpang Beliti, Kecamatan Binduriang, Kabupaten Rejang Lebong.
Pada awal rekaman, terlihat istri P mendatangi rumah tersebut bersama sejumlah anggota keluarganya.
Suasana kemudian memanas hingga terjadi keributan.
Baca juga: Siswa SMA Setubuhi Adik Kelas di Musala Sekolah, Rekam Adegan Jadi Video, Polisi Ungkap Nasib Pelaku
Dalam video, L terlihat mendapat perlakuan kasar dari istri P setelah didapati sedang bersama suami orang.
Kejadian itu sontak menarik perhatian warga sekitar.
Sejumlah warga berdatangan untuk melihat keributan yang terjadi di rumah tersebut.
Tak lama kemudian, P dan L digiring keluar dari rumah.
Keduanya kemudian dibawa menggunakan mobil polisi yang telah berada di lokasi menuju Mapolsek untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Video penggerebekan tersebut pun menyebar luas di media sosial dan telah ditonton ribuan kali hingga Jumat (11/9/2026).
Beragam komentar disampaikan warganet setelah menyaksikan rekaman tersebut.
Sebagian warganet menyoroti tindakan P yang diduga berduaan dengan wanita lain meski masih berstatus sebagai suami.
Kapolsek Padang Ulak Tanding, AKP Edi Hermanto Purba, membenarkan adanya kejadian tersebut.
"Iya, digerebek warga. Sekarang diamankan sementara untuk dimintai keterangan," kata Kapolsek saat dikonfirmasi TribunBengkulu.com.
Edi mengatakan polisi mengamankan dua orang dalam kejadian tersebut, yakni seorang laki-laki dan seorang perempuan.
"Keduanya, laki-laki dan perempuan. Yang melakukan penggerebekan itu istri sah laki-lakinya bersama keluarganya," jelasnya.
Edi menegaskan laki-laki dan perempuan yang diamankan tersebut bukan pasangan suami istri.
Hal ini dikarenakan laki-lakinya sudah menikah dan memiliki seorang istri, sedangkan perempuannya berstatus sebagai janda.
Saat ini, keduanya masih berada di Mapolsek PUT untuk menjalani pemeriksaan dan memberikan keterangan kepada polisi.
"Bukan suami istri, karena yang grebek itu istri sahnya, sekarang masih kita mintai keterangan," tutupnya.
Polisi masih mendalami keterangan dari kedua pihak untuk mengetahui secara jelas kronologi kejadian serta kondisi saat penggerebekan berlangsung.
Ketika suami atau istri berselingkuh, reaksi yang diharapkan adalah langsung meluapkan emosi dan menggugat cerai.
Padahal, ada reaksi dan hal-hal yang lebih tepat untuk dilakukan ketika baru mengetahui bahwa pasangan berselingkuh, seperti disebutkan oleh psikolog keluarga sekaligus konsultan pranikah, Sukmadiarti, M.Psi., Jumat (25/7/2025).
“Ketika pertama kali tahu pasangan selingkuh, wajar untuk bereaksi dengan marah-marah. Pasti ktia bakal teriak-teriak dan tantrum ya. Tapi sebenarnya tidak selesai di situ saja,” ucap Sukmadiarti.
Apa yang harus dilakukan saat pasangan berselingkuh?
1. Bicara dengan pasangan
Pernikahan adalah hubungan yang serius. Berbeda dengan saat masih pacaran, umumnya orang-orang yang sudah menikah lebih bisa diajak berbicara saat mereka ketahuan berselingkuh.
Sebab, perselingkuhan bisa berujung pada perceraian. Jika sudah memiliki anak, perceraian tentunya bakal berdampak pada kesehatan mental sang buah hati.
“Ketika sudah lebih tenang, yang perlu dilakukan adalah membicarakannya,” tutur Sukmadiarti.
Pembicaraan tidak hanya tentang perselingkuhan yang baru ketahuan, tetapi juga tentang komitmen dan janji sehidup semati yang diucapkan saat awal menikah.
“Selanjutnya membicarakan harapan, penginnya bagaimana, misalnya rumah tangga yang utuh. Kalau suami atau istri taubat kan bisa kembali ke keluarganya,” sambung psikolog yang berpraktik di Jawa Tengah ini.
2. Boleh saja curhat ke orang yang dipercaya, tapi..
Curhat ke orang-orang yang dipercaya memang mampu membantu mengurangi beban setelah pasangan ketahuan berselingkuh.
Namun, hati-hati dalam memilih tempat curhat. Sukmadiarti mengatakan, tidak semua orang memiliki sudut pandang yang netral. Sering kali, orang-orang terdekat malah bias.
“Misalnya curhat ke ibunya atau ke bapaknya, atau ke mertuanya. Kalau mereka dan lingkungan sekitarnya 'kompor' dan reaktif, korban bakal semakin terpuruk,” ujar dia.
Keterpurukan tidak hanya karena perasaan sedih karena kasih sayang yang diberikan telah dikhianati, tetapi juga karena bingung.
Di satu sisi, korban perselingkuhan masih sedikit berharap bahwa hubungannya bakal membaik karena suami atau istrinya akan taubat, dan tidak lagi berselingkuh. Ia masih ingin mempertahankan pernikahan.
Di sisi lain, orang-orang yang menjadi tempatnya curhat malah "kompor" dan reaktif, mereka bakal menyarankan agar korban langsung menceraikan pasangannya.
Sudut pandang yang bias disebabkan oleh status hubungan mereka dengan korban yang lebih dekat dibandingkan dengan pelaku perselingkuhan.
3. Lakukan konseling pernikahan
Supaya mendapatkan sudut pandang dan saran yang tidak bias, Sukmadiarti menyarankan agar pasangan suami-istri melakukan konseling pernikahan.
Hasil dari konseling tersebut bisa dijadikan sebagai pertimbangan, apakah mereka ingin mengakhiri perselingkuhan dan memperbaiki hubungan, atau bercerai.
“Dengan konseling pernikahan, bisa saling belajar dan memulihkan luka akibat perselingkuhan pasangan. Dua-duanya pasti terluka,” kata Sukmadiarti.
4. Saling memenuhi bahasa cinta
Jika memutuskan untuk mengakhiri perselingkuhan dan memperbaiki hubungan, Sukmadiarti menyarankan agar pasangan suami-istri saling belajar untuk memenuhi bahasa cinta masing-masing.
Dengan saling mengenali dan memenuhi bahasa cinta, pasangan tidak akan mencari pihak ketiga untuk memenuhinya karena merasa tidak dicintai di rumah.
Misalnya adalah suami yang memiliki bahasa cinta words of affirmation. Untuk memenuhinya, istri perlu mengakui, mengapresiasi, dan menghargai mereka dengan menyampaikannya secara langsung.
“Istri enggak pernah ngucapin langsung, tapi memuji suaminya di luar. Suaminya enggak pernah dengar dan enggak pernah merasakan diapresiasi istri,” kata Sukmadiarti.
Contoh lainnya adalah istri dengan bahasa cinta act of service. Bukan berarti istri harus sepenuhnya dilayani bak raja, tetapi suami bisa membantu dalam beberapa hal.
Misalnya, ketika istri sibuk memasak, suami bisa membantu mencuci dan menjemur pakaian atau mengurus anak. Ketika istri sibuk mengurus anak, suami bisa membantu membereskan rumah.
“Kalau suami atau istri punya bahasa cinta physical touch, bisa digandeng atau dipeluk. Kalau quality time, bukan sekadar berduaan saja tapi juga ngobrol untuk membuat pasangan merasa dicintai dan didengar,” jelas Sukmadiarti.
1. Lebih komunikatif
Ketika memutuskan untuk berbaikan, semua korban perselingkuhan pasti memiliki trauma yang membuat mereka sulit memercayai pasangan, terutama bagi mereka yang sudah diselingkuhi berulang.
Untuk mengembalikan kepercayaan pasangan, suami atau istri yang senang berselingkuh perlu melakukan beberapa cara, salah satunya dengan mengubah pola komunikasi dan lebih komunikatif.
Jika sebelumnya lebih banyak merahasiakan kegiatan di luar rumah, sebaiknya kamu lebih terbuka dengan pasanganmu. Ceritakan apa yang bakal atau telah dilakukan, dan bersama siapa saja.
Lalu, tidak ada salahnya untuk memperkenalkan pasangan ke teman-temanmu untuk menghilangkan rasa curiga yang tertanam karena sering diselingkuhi.
“Ketika berada di luar rumah, lebih komunikatif. Memberi kabar, terbuka lagi di mana, dengan siapa, dan pulangnya bisa lebih awal. Ini merupakan pembuktian, dan menunjukkan bahwa dia sudah berubah,” terang Sukmadiarti.
2. Lebih sabar
Cara selanjutnya adalah lebih sabar menghadapi pasangan. Ketika kepercayaannya dikhianati, beberapa individu cenderung terus mengungkit kejadian yang menyakiti hatinya.
Dalam hal perselingkuhan, suami atau istri yang menjadi korban sudah pasti bakal mengungkit masalah itu. Sebagai tukang selingkuh yang taubat, kamu perlu lebih sabar menghadapinya.
“Kalau pasangan yang menjadi korban mau ngungkit-ngungkit masalah perselingkuhan, didengerin, divalidasi, dan dirangkul. Lebih sabar ketika menghadapi mereka yang masih bergejolak,” kata Sukmadiarti.
Namanya perselingkuhan, pasti pasangan yang menjadi korban bakal masih terus mencurigai pasangannya.
Meskipun perselingkuhan sudah terjadi cukup lama, perasaan curiga bakal tetap masih ada, walaupun mungkin tidak terlalu intens seperti ketika pertama kali menjadi korban perselingkuhan.
“Kadang masih curiga, bertanya-tanya, mengungkit. Ini membutuhkan kesabaran dari suami atau istri untuk menerima proses pemulihan pasangannya,” sambung Sukmadiarti.
(Banjarmasinpost.co.id/Tribunnews.com)