Material Vulkanik Gunung Semeru Capai 36 Juta Kubik, Jalur Ini Diwaspadai
Titis Jati Permata September 11, 2026 05:05 PM

 

 

SURYA.co.id, LUMAJANG – Ancaman pergerakan material vulkanik masih menjadi perhatian di Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang memperkirakan sekitar 36 juta meter kubik material vulkanik berpotensi bergerak dari kawasan lereng hingga bukaan kawah gunung tersebut.

Angka itu merupakan estimasi sementara hasil mitigasi BPBD Lumajang dalam memantau aktivitas Gunung Semeru, gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, menegaskan angka tersebut belum menjadi data pasti. 

Pemetaan secara lebih detail masih diperlukan untuk mengetahui volume material yang menumpuk di sepanjang lereng Semeru.

"Kalau sekitar 36 juta kubik itu saja. Ini kira-kira bisa salah, bisa benar. Itu yang berpotensi untuk turun," kata Isnugroho, Jumat (11/9/2026).

Baca juga: Kebakaran TNBTS Padam, BPBD Lumajang Tetap Siagakan Personel di Ranupani

Pemetaan Material Terkendala Cuaca

Menurut Isnugroho, BPBD Lumajang belum dapat memastikan total material yang berada di lereng Gunung Semeru. 

Pemetaan lebih detail menjadi kewenangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

BPBD sebelumnya telah meminta dilakukan pemetaan menggunakan drone. Namun, kondisi cuaca di kawasan puncak Semeru menjadi kendala.

"Kalau tumpukan material yang ada di lereng Semeru kami nggak bisa pastikan. Karena itu pernah saya request di PVMBG untuk dilakukan pemetaan drone, ternyata cuacanya berkabut, mendung," ujarnya.

Sementara itu, material yang berada di kawasan bukaan kawah berpotensi bergerak mengikuti kondisi lereng dan jalur aliran apabila terjadi fenomena vulkanik tertentu.

Jalur Aliran Material Jadi Perhatian

Isnugroho mengatakan endapan material sudah memenuhi kawasan dari bukaan kawah hingga sekitar kilometer 2.000. Kondisi tersebut membuat jalur pergerakan material perlu terus dipantau.

"Endapan itu sudah memenuhi dari bukaan kawah hingga kilometer 2.000. Itu sudah dipatahkan, sudah penuh," katanya.

Untuk kawasan Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, BPBD menilai kemungkinan material mengarah ke wilayah tersebut relatif kecil apabila terjadi banjir lahar.

Begitu pula dengan jalur Besuk Kembar di Kecamatan Pronojiwo. Menurut Isnugroho, perbaikan daerah aliran sungai (DAS) Curah Kobokan yang sedang dikerjakan menjadi salah satu faktor mitigasi.

"Atau mengarah ke Besuk Kembar, Pronojiwo itu kecil. Karena perbaikan daerah aliran sungai (DAS) Curah Koboan sudah dibuat oleh yang ngerjakan proyek sedang dikerjakan," jelasnya.

Waspadai Arah Timur Gunung Semeru

Di sisi lain, BPBD Lumajang melihat potensi ancaman ke arah timur Gunung Semeru jika terjadi awan panas guguran (APG) maupun aliran lahar.

Jutaan meter kubik material yang menumpuk di kawasan bukaan kawah menjadi salah satu alasan jalur tersebut perlu diwaspadai.

"Endapan material banyak yang numpuk di bukaan kawah. Jika jalur (lahar terbuka) larinya di Kebon Seket, Desa Sumbermujur, Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro. Nah ini yang perlu kita waspadai," imbuh Isnugroho.

Dengan kondisi tersebut, pemantauan terhadap perubahan jalur aliran material menjadi bagian penting dari upaya mitigasi bencana di sekitar Gunung Semeru.

Sirene dan Aplikasi Peringatan Dini Disiapkan

Untuk mengantisipasi potensi bahaya, BPBD Lumajang telah menyiapkan sistem peringatan dini di sejumlah kawasan yang berpotensi terdampak.

Sirene dipasang di kawasan Curah Kobokan dan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, serta Bukit Padat, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Selain sirene, masyarakat di kawasan Supiturang dan Oro-Oro Ombo juga dapat memanfaatkan aplikasi deteksi dini.

"Dan ada aplikasi deteksi dini yang dapat dimanfaatkan masyarakat kawasan Supiturang dan Oro-Oro Ombo jika ada letusan disertai awan panas guguran. Supaya mereka tidak terpengaruh informasi hoaks," tutur Isnugroho.

Erupsi Semeru Terjadi Setiap Hari

Isnugroho menjelaskan Gunung Semeru merupakan gunung api aktif yang aktivitas erupsinya dapat terjadi setiap hari. 

Namun, tingkat bahaya dari setiap aktivitas tersebut berbeda-beda.

Menurut dia, berbagai material atau fenomena yang keluar dari dalam gunung hingga mencapai bukaan kawah termasuk dalam aktivitas erupsi.

"Apapun yang keluar dari perut gunung sampai ke bukaan kawah, baik itu letusan, embusan, guguran, lontaran material, lava pijar, itu dikatakan erupsi. APG salah satu bentuk erupsi. Hanya APG ini skalanya lebih besar karena ada awan panas guguran," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.