ACFE Indonesia 111: Rektor UKSW Ungkap Kekuatan Behavioral Accounting dalam Memahami Fraud
abduh imanulhaq September 11, 2026 05:11 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Profesor Intiyas Utami menjadi salah satu potential speaker dalam Call for Papers Seminar 2026 yang diselenggarakan Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) Indonesia Chapter #111.

Kegiatan bertema “Collaborative Anti-Fraud Ecosystem: The Role of Civil Society in the Age of Digital Disruption” tersebut berlangsung secara hybrid di Gedung Dekanat Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Universitas Diponegoro, belum lama ini. 

Kegiatan ini menjadi forum akademik internasional yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa serta pemerhati anti-fraud untuk berbagi gagasan dan penelitian terkait pencegahan serta pemberantasan fraud di tengah perkembangan teknologi digital.

20260911_uksw818191919919919((
Rektor Intiyas membawakan materi dengan metode yang interaktif dengan peserta seminar

Dalam kesempatan tersebut, Rektor Intiyas membawakan materi berjudul “Anti-Fraud Policy Often Focuses on Systems. Behavioral Accounting Asks a More Fundamental Question: What Happens Inside the Decision-Maker Before Fraud Occurs?”

Melalui materi tersebut, ia mengajak peserta melihat fraud tidak semata-mata sebagai persoalan sistem, tetapi juga sebagai fenomena perilaku yang perlu dipahami dari proses pengambilan keputusan seseorang.

Rektor Intiyas menjelaskan, pendekatan behavioral accounting berupaya menjawab pertanyaan mengenai apa yang terjadi dalam diri seorang pengambil keputusan sebelum tindakan fraud dilakukan.

Menurutnya, seseorang tidak melakukan fraud tanpa melalui proses berpikir dan munculnya niat tertentu.

“What happened inside the decision maker before fraud occurs?”

Pertanyaan tersebut, menurut Rektor Intiyas, penting untuk melihat fraud dari perspektif perilaku.

“Tidak mungkin orang mengambil (keputusan) tanpa berpikir, tidak mungkin orang mengambil tanpa punya niat,” jelasnya.

Untuk memahami perilaku tersebut, Rektor Intiyas memperkenalkan pendekatan eksperimen sebagai salah satu metode penelitian dalam behavioral accounting.

Dalam eksperimen, peneliti memberikan treatment atau intervensi tertentu kepada subjek untuk kemudian mengukur respons yang muncul.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat hubungan sebab-akibat antara variabel yang diuji.

Melalui eksperimen, peneliti dapat menguji apakah suatu kondisi tertentu benar-benar memengaruhi perilaku seseorang.

“Yang kita lakukan adalah memastikan bahwa X menyebabkan Y,” ujar Rektor Intiyas.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah endowment effect atau efek kepemilikan.

Melalui simulasi sederhana, Rektor Intiyas menunjukkan bahwa ketika seseorang merasa memiliki suatu barang, persepsinya terhadap nilai barang tersebut dapat berubah.

Hal ini menunjukkan bahwa kondisi tertentu dapat mempengaruhi penilaian dan keputusan seseorang.

Lebih lanjut, ia menjelaskan perbedaan eksperimen dengan survei. Survei memiliki kekuatan dalam melakukan generalisasi dari sampel pada populasi, sedangkan eksperimen lebih kuat untuk menguji hubungan sebab-akibat.

“Jadi tidak ada best. Semuanya tergantung pada syarat dan ketentuan yang berlaku yang kita putuskan,” ungkapnya.

Pembahasan juga mencakup tiga aspek dalam penelitian perilaku, yakni kognitif, afektif, dan behavioral.

Ketiganya dapat digunakan untuk memahami bagaimana seseorang berpikir, merasakan, kemudian mengambil tindakan.

Dalam konteks akuntansi, pendekatan tersebut membantu melihat bagaimana informasi maupun kondisi tertentu dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan.

Rektor Intiyas turut menunjukkan bahwa penelitian eksperimen dapat memanfaatkan perkembangan teknologi, seperti komputer, sistem digital, website, hingga chatbot.

Berbagai teknologi tersebut dapat digunakan untuk menghadirkan skenario atau stimulus tertentu sehingga respon peserta dapat diamati dan diukur.

Bagi Rektor Intiyas, memahami fraud berarti tidak hanya melihat apa yang terjadi setelah pelanggaran dilakukan, tetapi juga memahami mengapa keputusan tersebut bisa muncul sejak awal.

Karena itu, pencegahan fraud membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, auditor, akademisi, dunia bisnis, dan masyarakat sipil dapat saling berbagi informasi dan pengetahuan untuk mendeteksi serta mencegah fraud.

“Kita sebenarnya bagian dari collective intelligence. Kita ini bagian dari yang ikut melakukan ini,” pungkasnya. 

Keterlibatan Rektor Intiyas dalam Call for Papers Seminar 2026 sekaligus membawa perspektif akademik UKSW mengenai pentingnya memahami perilaku manusia dalam proses pengambilan keputusan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem anti-fraud di tengah disrupsi digital.

Kegiatan ini mempertegas kiprah UKSW dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu ke-4 pendidikan berkualitas, ke-9 yaitu industri, inovasi dan infrastruktur, dan ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan.

Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata komitmen UKSW terhadap program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita 4 yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A.

Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah.

Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai "Creative Minority" yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW! (***)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.