TRIBUNNEWS.COM - Pasukan Houthi merebut kendali atas kota pelabuhan Mocha (Al Makha) di Yaman pada Kamis (10/9/2026).
Hal itu terjadi di tengah meningkatnya pertempuran antara gerakan Houthi yang bersekutu dengan Iran dan Presidential Leadership Council (PLC), koalisi pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Ratusan perempuan dan anak-anak meninggalkan Mocha untuk mencari perlindungan di Provinsi Lahij dan Aden yang dikuasai pemerintah Yaman.
Meningkatnya kekerasan juga mengancam akan memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah parah di Provinsi Taiz dan Al-Hodeidah, di mana lebih dari 20.000 orang telah mengungsi akibat bentrokan selama dua minggu terakhir.
Mengutip Al Jazeera, letak geografis Mocha menjadikan perebutan kota tersebut sebagai perhatian global.
Kota ini terletak sekitar 75 km di utara Selat Bab al-Mandab, yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Bab al-Mandab merupakan jalur air yang sangat penting bagi pelayaran, dengan sekitar 10 persen perdagangan maritim global melewati selat ini.
Selat tersebut menjadi semakin penting sejak AS memulai perang melawan Iran dan Iran menutup Selat Hormuz.
Dikenal sebagai Gerbang Air Mata, Selat Bab al-Mandab merupakan jalur penting bagi minyak mentah dan bahan bakar yang mengalir dari Teluk ke Mediterania melalui Terusan Suez, serta bagi komoditas Asia dan minyak Rusia.
Jurnalis Yousef Mawry dari Al Jazeera menjelaskan bahwa menguasai Mocha dapat memberi Houthi cengkeraman kuat di sepanjang Bab al-Mandab.
Baca juga: MBS Dua Kali Telepon Trump Minta Serang Houthi, Jawaban AS Bikin Saudi Kecewa
Hal itu juga dapat memutus jalur pasokan anti-Houthi, termasuk jalan yang menghubungkan Mocha dengan Taiz, yang membentang ke selatan dari Mocha, serta jalur pasokan melalui pelabuhan Mocha.
"Ini adalah titik balik saat ini dalam perang," kata analis kebijakan pertahanan Wolfgang Pusztai kepada Al Jazeera.
"Ini mungkin menyebabkan runtuhnya pasukan pemerintah di bagian selatan Yaman."
“Pelabuhan Mocha adalah pelabuhan terakhir yang sepenuhnya berada di bawah kendali pemerintah Yaman yang diakui secara internasional,” kata Pusztai.
Mengutip Guardian, Laut Merah melalui Bab al-Mandab telah menjadi jalur vital bagi Arab Saudi untuk mengekspor minyaknya.
Jika Houthi menguasai selat tersebut, kelompok itu akan mampu menutup jalur pelayaran melalui perairan tersebut atau mengenakan biaya tol.
Hal ini akan memberikan kendali kepada Iran dan sekutunya atas dua jalur pelayaran utama di kawasan tersebut.
Houthi, yang secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah ("Para Pengikut Tuhan"), adalah organisasi politik dan militer Islam Yaman yang dibentuk pada tahun 1990-an.
Mengutip Al Jazeera, pada September 2014, Houthi merebut ibu kota Yaman, Sanaa, dan kemudian menguasai sebagian besar wilayah Yaman utara dan barat.
Hal itu mendorong koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Arab Saudi untuk campur tangan dalam mendukung pemerintah yang diakui secara internasional pada Maret 2015.
Gencatan senjata yang dimediasi PBB pada April 2022 secara signifikan mengurangi pertempuran.
Meskipun perjanjian tersebut secara resmi berakhir enam bulan kemudian, permusuhan skala besar antara Houthi dan pasukan pemerintah yang didukung Saudi tetap relatif terbatas.
Arab Saudi juga terus melakukan negosiasi dengan kelompok tersebut.
Namun, belum ada perjanjian perdamaian komprehensif yang tercapai, sehingga garis depan sebagian besar membeku alih-alih mengakhiri konflik.
Status quo yang rapuh itu berada di bawah tekanan yang meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari.
Ketegangan meningkat lebih lanjut pada Juli dengan serangan angkatan udara pemerintah terhadap Bandara Internasional Sanaa yang dikuasai Houthi, yang mencegah pesawat Iran mendarat.
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, menelepon Presiden AS Donald Trump dua kali pada Kamis (10/9/2026) dan mendesaknya untuk melancarkan serangan terhadap Houthi, lapor Axios, mengutip dua pejabat AS.
Namun, Trump menolak permintaan tersebut.
Para pejabat AS mengatakan bahwa pemerintah tidak berniat mengambil tindakan militer langsung terhadap Houthi saat ini, kata laporan itu.
Laksamana Brad Cooper, komandan Komando Pusat AS, melakukan perjalanan ke Arab Saudi pada Kamis untuk pembicaraan koordinasi mendesak, menurut laporan tersebut.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)