BANJARMASINPOST.CO.ID - Mantan pasangan artis Ruben Onsu dan Sarwendah bisa kehilangan hak asuh jika masih terus berkonflik.
Ini ancaman dari pihak Komisi Nasional Perlindungan Anak atau Komnas Anak yang marah mengetahui konflik antara Ruben Onsu dan Sarwendah terus berlarut-larut.
Penyebabnya, perseteruan Ruben dan Sarwendah mengenai anak dan nafkah anak sudah berlangsung berbulan-bulan lamanya.
Konflik Ruben dan Sarwendah geger sejak sang presenter awalnya berhenti memberikan nafkah anak pada Desember 2025, lantaran mengaku kesulitan bertemu kedua putrinya yang masih berada pada pengasuhan sang ibu.
Namun kini sudah delapan bulan lamanya, kasus tak menemui titik terang.
Padahal Ruben dan Sarwendah sudah membawa penyelesaian kasus ini ke meja hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Baca juga: Sosok Mercedes Roa, Selebgram yang Viral Foto Cium Atta Halilintar, Isu Selingkuh dari Aurel Dijawab
Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Agustinus Sirait dibuat marah menyikapi konflik pasangan yang telah resmi berpisah sejak 24 September 2024 itu.
Menurutnya, konflik antara Ruben dan Sarwendah yang berkepanjangan ini akan menimbulkan dampak bagi anak yang cukup besar.
Jika nantinya pihak Komnas Anak bisa mendapatkan bukti bahwa anak ikut merasakan dampak besar atas masalah ini, Agustinus Sirait akan mengambil tindakan tegas.
Pihaknya akan merekomendasikan negara jika Ruben maupun Sarwendah tidak layak mendapatkan hak asuh anak.
Dengan kata lain, diungkap Agustinus Sirait, Ruben dan Sarwendah dicabut kepemilikan hak asuh anak oleh negara.
"Kalau kita temukan dampaknya kasus ini terhadap anak yang luar biasa, ini kan bergulir setiap hari. Komnas perlindungan anak bisa merekomendasikan kepada negara bahwa kedua belah pihak atau orang tuanya ini tidak layak untuk mendapatkan hak asuh anak," jelas Agustinus Sirait kepada awak media, dikutip Jumat (11/9/2026).
Terlebih, Agustinus Sirait menilai kedua belah pihak masih sama-sama egois dan tidak mementingkan anak dalam konflik ini.
Padahal menurutnya, Ruben dan Sarwendah harusnya bisa sama-sama memberi waktu untuk anak.
Bukan malah saling serang dan menjatuhkan dalam perkara perebutan hak asuh ini.
"Karena tidak memberikan kepentingan terbaik untuk anak, selalu mengedepankan egoisme orang dewasa."
"Apa sih yang dibutuhin sama anak, waktu bersama kedua belah pihak, gitu loh," tegasnya.
Selanjutnya, jika rekomendasi pencabutan hak asuh anak itu diterima negara, baik Ruben maupun Sarwendah bisa kehilangan haknya.
Lalu diserahkan dan diterima oleh negara.
"Dicabut hak asuh anak, nanti bisa diterima oleh negara."
Niat itu bisa benar-benar direkomendasikan oleh pihak Komnas Anak, jika konflik antara Ruben dan Sarwendah masih tak kunjung mereda ke depannya.
"Bisa kita dorong kalau kasus ini sampai berlarut-larut, sampai hari ini udah berapa bulan," tambahnya.
Agustinus Sirait mengingat kasus selebriti soal perebutan anak yang dahulu, dinilai tidak serumit kasus Ruben dan Sarwendah.
Beberapa perkara yang pernah ditangani Komnas Anak selesai hanya satu sampai dua bulan saja.
Kini pihaknya dibuat penasaran dengan motif yang melatarbelakangi Ruben dan Sarwendah, yang seolah enggan menyelesaikan masalah dengan cepat.
"Komnas perlindungan anak biasa mendampingi kasus-kasus seperti ini, kira-kira sebulan-dua setengah selesai."
"Apa motifnya Sarwendah dan Ruben Onsu tidak menyelesaikan kasus ini dengan cepat," tutupnya.
Sidang mediasi antara Ruben dan Sarwendah yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan beberapa waktu lalu, dinyatakan gagal.
Keduanya saling bongkar soal penyebab gagalnya mediasi kala itu.
Dari pihak Ruben Onsu menyebut, mediasi gagal karena sang presenter tidak mau terus-terusan mengiyakan kemauan Sarwendah yang berubah-ubah.
Awalnya Sarwendah menyampaikan syarat jika Ruben ingin bertemu anak harus tetap didampingi oleh ibunya.
Hingga meminta Ruben menjalankan tes kesehatan enam bulan sekali, jika ingin tetap bertemu anak.
Lalu syarat itu sudah langsung disanggupi oleh presenter 47 tahun tersebut.
Namun nampaknya, Sarwendah kembali mengubah syarat.
Soal tes kesehatan yang awalnya diminta dilakukan Ruben enam bulan sekali, berubah menjadi tiga bulan sekali. lalu diubah lagi menjadi sebulan sekali.
Puncak dari permintaan Sarwendah yang berubah-ubah itu, semakin membuat Ruben naik pitam.
Tegas tidak mau terus menuruti kemauan Sarwendah yang berubah-ubah, bapak tiga anak ini kemudian meminta Mediasi digagalkan saja.
"Tidak terlaksana itu (mediasi) karena itu (tidak mau menuruti Sarwendah terus). Bukan karena seperti yang disampaikan kuasa hukum S," jelas Minola, kuasa hukum Ruben.
"Ruben sudah oke (tes kesehatan selama 6 bulan sekali). Tapi sana (Sarwendah) minta tiga bulan sekali.
Lalu Ruben mengiyakan.
Terus barubah lagi jadi satu bulan sekali.
Itu pun masih banyak (syarat). Sampai hakim mediatornya ngomong 'masak sih harus setiap ketemu (cek kesehatan)?'
Ketika di situ (Sarwendah keluar), Ruben bilang 'saya nggak mau meng-iyakan terus. Masa saya harus ngalah terus'. Anggap aja mediasi gagal. Masak (dia) ngotot semuanya harus ngikutin dia," papar Minola.
Baca juga: Pihak Sarwendah Somasi Ruben Onsu, Masalah Cicilan Rumah hingga Aset Jadi Sorotan
Sementara pihak Sarwendah turut buka-bukaan penyebab gagalnya mediasi dengan menyalahkan Ruben.
Sarwendah diwakili kuasa hukumnya, Chris sempat menyatakan gagal mediasi karena Ruben menolak dilakukan pemeriksaan tes kesehatan demi anak.
"Sepertinya ada penggiringan opini terkait masalah mediasi."
"Pihak sana (bilang) gagalnya mediasi disebabkan oleh pihak kami yang tidak ingin mempertemukan anak."
"Padahal faktanya adalah, tidak terjadinya mediasi karena RSO tidak mau memeriksa kesehatannya demi anak," tutur Chris.
Melalui kuasa hukumnya, Chris Sam Siwu, dijelaskan bahwa perpindahan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan dan keamanan anak-anak.
"Situasi-situasi yang tidak aman seperti ini yang tidak baik bagi anak-anak. Ada pihak-pihak lain lah yang mencari orang lain yang enggak ada lagi di rumah itu," kata Chris Sam Siwu di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dikutip dari Tribunnews.com, Rabu (22/7/2026).
Menurut Chris, pihaknya memiliki dokumentasi terkait kedatangan sejumlah orang yang diduga hendak menagih utang ke rumah tersebut.
"Kita juga bawa nih, ini masih hangat belum lama ya, kira-kira 11 Juli. Diduga debt collector memang datang ke rumah menyampaikan adanya tagihan. Lebih kurang ada lima orang yang mendatangi jam 21.52 WIB," ujarnya.
Selain itu, Chris mengungkapkan kliennya juga memperoleh informasi mengenai kondisi rumah yang disebut berpotensi memasuki proses lelang.
"Klien kami mendapat informasi bahwa rumah itu sudah harus dilelang. Jadi klien kami tidak mau dong diberikan gono-gini yang seperti itu. Jadi ya sudahlah, enggak mau ambil pusing," ucapnya.
Sementara itu, Sarwendah mengaku keputusan pindah rumah bukan hal yang mudah, terutama karena harus memberikan penjelasan kepada anak-anaknya.
"Pasti butuh perjuangan saya ya untuk menjelaskan kenapa harus pindah. Saya akan menjelaskan seminim mungkin, sebaik mungkin tanpa memojokkan satu sama lain," tutur Sarwendah.
Chris menambahkan, perpindahan rumah dilakukan agar Sarwendah dan anak-anak dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang.
"Klien kami dengan finansial yang sudah mandiri, ya, klien kami lebih baik untuk pindah. Untuk mencari apa? Mencari kebahagiaan dengan anak-anak," katanya.
"Klien kami sudah hidup dengan anak-anaknya dan juga terkait perpindahannya pun sudah diinformasikan kepada mantan suaminya," pungkas Chris.
(Banjarmasinpost.co.id/Tribunnews.com)