TRIBUNBATAM.id, BATAM – Dua unit jet tempur F-16 serta dua unit pesawat hercules dan Boing intai dikerahkan dalam latihan Penanganan Pasca Force Down yang digelar Komando Operasi Udara Nasional (Koopsudnas) di Terminal Kargo Bandara Internasional Hang Nadim, Kota Batam, Provinsi Kepri.
Dalam latihan itu, dilakukan simulasi sebuah pesawat dicegat dan dipaksa mendarat atau force down oleh pesawat TNI AU.
Latihan itu dipimpin langsung panlima Koosudnas dan Pangkoopsau 1 serta sejumlah pejabat Mabes TNI AU.
Situasi sempat menegangkan, apalagi saat pasukan elit TNI AU dengan K9 memasuki pesawat dan membawa crew pesawat turun hingga ke ruang pemeriksaan.
Selain itu, aksi sejumlah pesawat tempur dan intai serta hercules juga turut menjadi perhatian lantaran terlibat dalam operasi.
Panglima Koopsudnas, Marsdya TNI Minggit Tribowo mengatakan, fokus utama latihan untuk menguji langkah petugas untuk menentukan tindakan penanganan setelah pesawat hasil intersepsi menyentuh landasan.
"Pesawat yang telah dipaksa mendarat atau force down bukan berarti persoalan selesai. Justru setelah pesawat berada di darat, rangkaian penanganan yang melibatkan berbagai instansi dimulai. Itu yang kami latih hari ini," ujar Jenderal Bintang Tiga ini.
Penanganan, kata dia meliputi dari pengamanan pesawat, pemeriksaan awak dan penumpang, pemeriksaan barang bawaan.
Hingga proses hukum dan penyidikan harus dilakukan secara terkoordinasi sesuai kewenangan masing-masing instansi.
Ia menegaskan penegakan hukum dan pengamanan ruang udara nasional tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja.
Menurutnya, masing-masing kementerian, lembaga dan pemangku kepentingan memiliki tugas serta kewenangan yang berbeda sehingga dibutuhkan kolaborasi dan koordinasi yang kuat.
"Latihan penindakan pasca force down ini merupakan bagian dari tugas TNI Angkatan Udara. Tugas tersebut tidak bisa dilaksanakan sendirian, sehingga kita bersama kementerian dan lembaga terkait melaksanakan kolaborasi dalam penegakan hukum wilayah udara nasional," ujar Minggit, Jumat (11/9/2026).
Ia menjelaskan, pelaksanaan tugas tersebut mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai tugas TNI.
Serta regulasi yang mengatur penegakan hukum dan pengamanan wilayah udara nasional.
Lebih detail, ia mengungkap Skenario latihan pagi itu, dirancang secara realistis untuk menguji rantai penanganan secara keseluruhan.
Dimulai dari tindakan pesawat tempur ketika melakukan intersepsi terhadap pesawat yang diduga melanggar wilayah udara Indonesia.
Dilanjutkan dengan pengawalan hingga pesawat tersebut melakukan pendaratan paksa.
Setelah berada di darat, unsur terkait kemudian melaksanakan pengamanan pesawat dan pemeriksaan terhadap awak serta penumpang.
Pemeriksaan barang bawaan hingga proses hukum selanjutnya juga menjadi bagian dari skenario yang diuji.
Dengan demikian, latihan tidak hanya menguji kemampuan pilot dan pesawat tempur dalam melakukan intersepsi.
Tetapi juga menguji kesiapan seluruh sistem ketika menghadapi pelanggaran wilayah udara.
"Ada tiga hal utama yang harus diperhatikan. Pertama, setiap personel harus memahami tugasnya. Kedua, seluruh unsur harus mampu berkoordinasi dengan baik. Ketiga, keselamatan harus menjadi prioritas," jelasnya.
Menurut Minggit, setiap kekurangan yang ditemukan selama latihan akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kesiapan apabila menghadapi kondisi sebenarnya.
"Yang kami uji bukan hanya kemampuan satu unsur, tetapi kemampuan semua unsur untuk bekerja sebagai satu sistem," tegasnya.
Latihan di Batam juga melibatkan berbagai kementerian, lembaga dan unsur penerbangan sipil.
Kolaborasi tersebut diperlukan karena ketika terjadi dugaan pelanggaran wilayah udara, penanganannya tidak berhenti pada unsur pertahanan dan keamanan saja.
"Begitu kita bicara tentang penegakan hukum di ruang udara, keterlibatannya menjadi semakin banyak kementerian dan lembaga yang terkait. Karena itu sinergitas seluruh stakeholder menjadi sangat penting," katanya.
Koopsudnas menegaskan latihan ini bertujuan menguji dan meningkatkan kesiapan satuan jajaran dalam melaksanakan Operasi Penegakan Hukum dan Pengamanan Ruang Udara (Opsgakkumpamrud), khususnya pada tahapan setelah sebuah pesawat dilakukan force down.
Ia membeberkan alasan memili Batam menjai lokasi latihan lantaran Batam memiliki posisi strategis karena berada di kawasan perbatasan dan berdekatan dengan jalur penerbangan Internasional.
Aktivitas penerbangan yang tinggi membuat kesiapan pengamanan ruang udara di kawasan ini menjadi perhatian penting.
Koopsudnas menyebut Lanud Hang Nadim TNI AU juga pernah beberapa kali melaksanakan tindakan force downterhadap pesawat asing di wilayah tersebut.
Karena itu, latihan di Batam sekaligus menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan koordinasi antara unsur pertahanan udara dengan lingkungan penerbangan sipil serta instansi pemerintah lainnya. (TribunBatam.id/Bereslumbantobing)