TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Peserta Simposium Nasional Akuntansi (SNA) ke-29 diajak mengenal lebih dekat sejarah dan budaya Kabupaten Siak.
Tak hanya mengikuti forum ilmiah, para peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia juga diajak menjelajahi sejumlah destinasi wisata di Kota Pusaka Siak.
Rombongan peserta SNA ke-29 terlebih dahulu disambut Wakil Bupati Siak Syamsurizal di Balairung Datuk Empat Suku, Komplek Rumah Rakyat, Jumat (11/9/2026).
Syamsurizal mengatakan, kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi para peserta untuk mengenal sejarah, budaya hingga potensi wisata Kabupaten Siak.
“Selamat datang kepada seluruh peserta SNA di Bumi Lancang Kuning. Manfaatkan kesempatan ini tidak hanya untuk berdiskusi ilmu akuntansi, tetapi juga mengenal sejarah, budaya dan potensi wisata Siak,” kata Syamsurizal.
Dalam kunjungan tersebut, peserta diajak melihat sejumlah destinasi wisata unggulan. Mereka diperkenalkan dengan jejak sejarah Kesultanan Siak, budaya masyarakat setempat hingga berbagai potensi pariwisata yang dimiliki daerah tersebut.
Syamsurizal berharap pengalaman selama berada di Siak dapat meninggalkan kesan bagi para peserta.
“Kami berharap setelah pulang dari Siak, para peserta membawa dua hal. Pertama ilmu dari simposium, kedua kenangan indah tentang Siak,” ujarnya.
Menurut Syamsurizal, kegiatan wisata dan budaya tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkab Siak memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat dari luar Siak. Promosi pariwisata dan budaya juga diharapkan dapat membuka peluang investasi sekaligus mendukung pengembangan pendidikan di daerah.
Sementara itu, Ketua IAI Kompartemen Akuntansi Pendidik, Dian Agustia, mengapresiasi sambutan dan fasilitasi yang diberikan Pemkab Siak.
Menurut Dian, SNA tidak sebatas menjadi ruang bertukar gagasan dan hasil penelitian di bidang akuntansi. Forum tersebut juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan mengenal keberagaman budaya di berbagai daerah Indonesia.
“Melalui kunjungan wisata ini, kami ingin peserta pulang membawa ilmu, juga pengalaman dan kekayaan budaya dari Bumi Lancang Kuning,” kata Dian.
Ia menilai pemahaman terhadap nilai-nilai lokal dapat memperkaya proses pendidikan. Termasuk dalam membentuk akuntan masa depan yang berkarakter dan memiliki integritas. (Tribunpekanbaru.com/mayonal putra)