Marak Keracunan MBG, Gerindra Tegaskan SPPG Tak Standar Disanksi Tegas, Singgung Instruksi Prabowo
Wahyu Gilang Putranto September 11, 2026 09:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Juru bicara Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) Bahtra Banong menyampaikan keprihatinan atas maraknya kasus dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Bahtra menyebut, pihaknya terus mendorong agar dapur penyedia sajian MBG alias Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mematuhi standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

"Sebetulnya, melalui Peraturan BGN Nomor 4 Tahun 2026 mulai dari standardisasi pangannya, semua, sudah diatur jelas," kata Bahtra, dikutip dari program Sapa Indonesia Pagi yang diunggah di kanal YouTube KompasTV, Jumat (11/9/2026).

"Maka dari itu, kami terus mendorong agar semua dapur mematuhi standar SOP yang sudah ditetapkan BGN."

Bahtra menegaskan, Partai Gerindra mendesak agar kasus keracunan MBG tidak berlarut-larut, dan dapur yang tidak memenuhi standardisasi diberi sanksi tegas.

Ia meminta, para petugas harus melakukan pengecekan sajian MBG yang akan disalurkan kepada penerima manfaatnya.

"Maka dari itu, yang paling penting dilakukan adalah melakukan evaluasi secara menyeluruh, mulai dari bahan baku di-kroscek, lingkungan, dapur-dapurnya, bagaimaa penyediaan makanannya, dan yang paling penting bukan hanya sekadar penyediaan makanan, tetapi sampai ke distribusinya ke sekolah-sekolah juga harus dicek secara baik," tutur Bahtra.

"Orang-orang BGN yang ditempatkan di dapur-dapur atau kepala-kepala SPPG harus mengecek betul proses makanan ini mulai dari bahan bakunya dari mana, kemudian model penyajiannya, lingkungan dapurnya bagaimana."

Ia menegaskan, harus ada efek jera bagi dapur-dapur MBG yang melakukan pelanggaran.

Hal ini sejalan dengan langkah Kepala BGN Sudaryono yang menutup sementara 1.999 dapur SPPG di berbagai wilayah Indonesia karena belum mendaftarkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

"Jadi, harus ada efek jera terhadap dapur-dapur yang melakukan pelanggaran-pelanggaran, tidak memenuhi standar SOP, yang kemudian secara terus-menerus mengganggu kinerja BGN secara menyeluruh," ucap Bahtra.

Baca juga: Amnesty Kecam Statement Mitra SPPG Tana Toraja di Tengah Kasus Dugaan Keracunan MBG: Tak Berempati

"Kita harus berbuat tegaslah terhadap dapur-dapur atau SPPG-SPPG yang betul-betul tidak menerapkan standardisasi."

Bahtra mendesak agar kasus keracunan MBG tidak lagi terjadi.

Ia pun menyinggung instruksi Presiden RI Prabowo Subianto untuk memperbaiki tata kelola pelaksanaan program MBG, sehingga kasus keracunan tak berulang.

Selain itu, Bahtra menyebut pentingnya sanksi keras SPPG yang tidak memenuhi standar, kalau bisa diberhentikan, demi menjaga nama baik BGN selaku lembaga yang bertanggung jawab melaksanakan pemenuhan gizi nasional melalui program MBG.

"Ini terjadi secara berulang-ulang. Menurut kami, jangankan ratusan atau ribuan anak, satu orang pun tidak boleh ada yang keracunan akibat dari program MBG ini," ujarnya.

"Maka dari itu, Pak Prabowo sejak awal mendorong agar tata kelolanya betul-betul diperbaiki secara menyeluruh sehingga tidak ada kejadian anak-anak siswa kita terus mengalami keracunan yang berulang-ulang."

"Kami terus mendorong kalau perlu, [SPPG] jangan hanya di-suspend. Kasih sanksi yang berat. Kalau bisa dapurnya diberhentikan karena inilah yang mencoreng citra BGN."

KASUS MBG - Sejumlah siswa SDN Beber, Lombok Tengah diduga keracunan MBG mendapatkan perawatan medis didampingi pihak keluarga, Jumat (11/9/2026). Keluhan atau gejala mulai dirasakan oleh para penerima manfaat satu jam setelah makanan mulai dikonsumsi.
KASUS MBG - Sejumlah siswa SDN Beber, Lombok Tengah diduga keracunan MBG mendapatkan perawatan medis didampingi pihak keluarga, Jumat (11/9/2026). Keluhan atau gejala mulai dirasakan oleh para penerima manfaat satu jam setelah makanan mulai dikonsumsi. (Tribunnews/TribunLombok.com/Ahmad Wawan Sugandika)

Daftar Panjang Kasus Keracunan MBG Sepanjang 2026, Ada 803 Siswa Jadi Korban di Grobogan

Januari 2026

Pada Jumat (9/1/2026), 803 orang siswa/i menjadi korban keracunan MBG di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Mereka mengalami gejala mual, muntah, dan diare pada Jumat malam usai menerima menu MBG di sekolah. 

Kasus lain di bulan Januari 2026:

  • Lombok Tengah, NTB – 38 siswa dari SDN 1 Darmaji dan MI Hidayatusholihin diduga mengalami keracunan.
  • Kulon Progo, DIY – 87 orang, terdiri dari 83 siswa dan 4 guru dari tujuh sekolah di Sentolo, mengalami gejala keracunan.
  • Magelang, Jawa Tengah – 75 siswa dan 5 guru SMPN 10 Kota Magelang mengalami keluhan kesehatan setelah menerima MBG.
  • Tulungagung, Jawa Timur – 9 siswa SMK Sore Tulungagung dibawa ke puskesmas dengan keluhan mual, muntah, dan diare.
  • Cianjur, Jawa Barat – 180 siswa dari enam sekolah dilaporkan mengalami gejala setelah mengonsumsi MBG pada 27 Januari.
  • Kudus, Jawa Tengah – sekitar 600 siswa SMAN 2 Kudus dilaporkan mengalami gejala, sementara 118 siswa memerlukan perawatan di rumah sakit.

Februari 2026

Sebanyak 417 orang menjadi korban keracunan MBG di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat setelah mengonsumsi sajian MBG berupa nasi putih, gulai telur, perkedel tahu, tumis sawi dan wortel, serta puding yang didistribusikan pada Rabu (4/2/2026).

Kasus lain di bulan Februari 2026:

  • Tulungagung – 10 Februari: Sebanyak 24 siswa SDN 3 Bungur mengalami pusing, mual dan mulas setelah mengonsumsi MBG.
  • Aceh Singkil – 11 Februari: Puluhan siswa dan santri dari Ponpes Darul Mustafa serta TK Bunga Al-Qur'an mendapat perawatan setelah diduga mengalami keracunan MBG. Jumlahnya kemudian tercatat 35 pasien.
  • Bandar Lampung – 13 Februari: Ratusan siswa dari tiga sekolah di Kecamatan Kemiling dilaporkan mengalami gejala setelah mengonsumsi MBG.
  • Ngawi – 14 Februari: 67 santri Ponpes Al Hijrah Karangasri diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG. 
  • Cimahi – 25 Februari: Sebanyak 43 orang, termasuk siswa dan satu guru, mendapat penanganan medis setelah mengonsumsi MBG. Pemkot Cimahi kemudian menghentikan sementara operasional SPPG Karangmekar 002.
  • Bireuen – 26 Februari: BGN mengonfirmasi kejadian pada 26 Februari. Saat itu disebut ada beberapa anak yang mengalami sakit perut dan semuanya sembuh sehari kemudian; informasi soal siswa meninggal dinyatakan hoaks. Rekap kasus mencatat 140 korban

Maret 2026 

Sejumlah siswa di berbagai daerah di Indonesia mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG pada Maret 2026, rinciannya:

  • Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah – 12 siswa SD di Tinangkung diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi susu dalam program MBG.
  • Ngada, Nusa Tenggara Timur – 24 orang dilaporkan mengalami dugaan keracunan setelah menyantap makanan MBG.
  • Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur – 7 siswa dilaporkan mengalami dugaan keracunan setelah menyantap MBG.
  • Jombang, Jawa Timur – 31 orang dilaporkan mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi menu MBG di pondok pesantren.
  • Nabire, Papua Tengah – 7 orang, terdiri dari 4 siswa dan 3 guru, dilaporkan mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG.
  • Pemalang, Jawa Tengah – 1 siswa TK dilarikan ke rumah sakit setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG.
  • Enrekang, Sulawesi Selatan – 17 siswa SD mengalami muntah dan diare setelah menyantap MBG.

April 2026

187 orang yang terdiri atas santri, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di Kabupaten Demak, Jawa Tengah dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi MBG dengan menu nasi goreng.

Insiden ini terjadi pada Minggu (19/4/2026), sehari setelah paket makanan didistribusikan dari dapur SPPG Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung.

Kasus lain di bulan April 2026:

  • Jakarta Timur – 72 siswa dari empat sekolah, yakni SMAN 91, SDN Pondok Kelapa 01, SDN Pondok Kelapa 07 dan SDN Pondok Kelapa 09, diduga keracunan setelah menyantap menu spageti MBG pada 2 April 2026.
  • Kabupaten Tangerang – Hampir 100 siswa diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG dari SPPG di wilayah Kecamatan Pinang pada 8 April 2026.
  • Pacitan, Jawa Timur - 139 siswa di Kecamatan Tegalombo mengalami gejala mual, muntah dan diare setelah mengonsumsi MBG pada 9 April 2026; enam hari kemudian hasil laboratorium menunjukkan makanan dan air terkait terpapar bakteri.
  • Mojokerto, Jawa Timur – 79 siswa dari TK Kartika, MI Mi'rojul Ulum, SMA PGRI dan SMK PGRI Mojosari diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG dari SPPG Randubango pada 9–10 April 2026.
  • Bantul, DIY – 19 siswa SDN Monggang, Pundong, mengalami gejala keracunan setelah menyantap MBG pada 8 April 2026; dugaan awal mengarah pada susu kotak yang berbau menyengat.
  • Cilegon, Banten – 49 siswa MTs Al-Inayah diduga keracunan setelah mengonsumsi MBG pada 16 April 2026.

Mei 2026

Sebanyak 252 siswa sekolah dasar di Cakung, Jakarta Timur, diduga keracunan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (8/5/2026).

Gejala keracunan dialami siswa di tiga sekolah, yakni SDN, SDN Cakung Timur 01, SDN Ujung Menteng 02, dan SDN Ujung Menteng 03.

Kasus lain di bulan Mei 2026:

  • Tembok Dukuh, Surabaya, Jawa Timur – 210 siswa dan guru
    Pada 11 Mei 2026, ratusan siswa dari sekitar 12 sekolah mengalami gejala setelah menyantap MBG. Jumlah korban kemudian dilaporkan mencapai 210 siswa dan guru. Dugaan awal mengarah pada menu daging krengsengan.
  • Kota Jambi, Jambi – 8 siswa
    Pada 20 Mei 2026, 8 siswa SMKN 1 Kota Jambi mendapat penanganan medis setelah diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi MBG. Pemerintah daerah masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebabnya.
  • Kaliwates, Jember, Jawa Timur – 18 siswa
    Pada 20 Mei 2026, 18 murid TK diduga mengalami keracunan setelah menyantap MBG. Pemerintah Kecamatan Kaliwates melakukan pemeriksaan ke dapur SPPG Al Mubarok dan dapur tersebut kemudian mendapat rekomendasi untuk ditutup sementara.

Juni 2026 

Pada Kamis (4/6/2026), sejumlah siswa di Kabupaten Bangkalan, Madura, mengeluhkan mual dan pusing setelah menyantap menu MBG yang dibagikan SPPG Kokop Dupok yang terdiri dari nasi putih, sate ayam, bumbu kacang, acar, timun wortel, semangka, dan tempe goreng.

Keluhan awal dilaporkan terjadi di SMAN 1 Kokop. Total, ada 84 siswa dan satu warga yang terdampak.

Kasus lain di bulan Juni 2026:

  • Kepahiang, Bengkulu – Sebanyak 16 orang, terdiri dari siswa, guru, dan penjaga SDN 18 Taba Tebelet, mengalami mual, muntah, gatal-gatal, pusing hingga sesak napas setelah mengonsumsi MBG pada 4 Juni 2026.
  • Simpenan, Sukabumi, Jawa Barat – Tiga anggota satu keluarga mengalami mual, muntah, diare dan pusing setelah mengonsumsi susu dalam paket MBG. Kejadian dilaporkan pada 19 Juni 2026
  • Raja Ampat, Papua Barat Daya – Sebanyak 21 siswa di Distrik Kota Waisai mengalami gatal-gatal dan pusing setelah mengonsumsi menu MBG, pada  4 Juni 2026.

Juli 2026

Kasus dugaan keracunan usai menyantap menu MBG dialami ratusan siswa SMK Negeri 6 Semarang pada Jumat (31/7/2026), tercatat ada 707 orang mengalami gejala mual, pusing, diare hingga muntah-muntah, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru.

Berdasarkan keterangan korban, ayam yang disajikan belum matang karena lantaran masih ada darahnya.

Kasus lain di bulan Juli 2026:

  • Tulungagung, Jawa Timur – 28 Juli 2026: Dugaan keracunan MBG terjadi di Kecamatan Rejotangan. Jumlah korban meningkat dari 66 menjadi 103 orang, terdiri dari penerima manfaat termasuk pelajar, guru, balita, ibu hamil dan ibu menyusui.
  • Solo, Jawa Tengah – 29 Juli 2026 : Kasus terjadi pada siswa SD Islam Internasional Al Abidin. Laporan awal menyebut 108 siswa mengalami keluhan setelah mengonsumsi MBG pada 28 Juli; pemeriksaan laboratorium kemudian menemukan bakteri E. coli pada sampel semangka
  • Deli Serdang, Sumatera Utara – 13 Juli 2026: Tercatat 35 orang mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG.
    Jember, Jawa Timur – 14 Juli 2026 : Sebanyak 29 orang tercatat menjadi korban dugaan keracunan MBG

Agustus 2026

Pada Selasa-Kamis (4-6/8/2026), tercatat 527 orang mengalami dugaan keracunan MBG di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua. 

Korban mengalami mual, muntah, diare, sakit perut, demam hingga lemas setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan SPPG Yayasan Kasih Iman Samuel Papua.

Para korban terdiri dari balita, siswa PAUD, SD, SMP hingga orang dewasa dan mendapat penanganan di sejumlah puskesmas serta rumah sakit.

Kasus lain di bulan Agustus 2026:

  • Rembang, Jawa Tengah: Pada periode 3–8 Agustus, tercatat 302 kasus dugaan keracunan MBG di sejumlah sekolah di Kabupaten Rembang.
  • Kulon Progo, DIY: Sebanyak 182 siswa SMKN 1 Nanggulan tercatat mengalami dugaan keracunan dalam data periode 3–8 Agustus 2026.
  • Bogor, Jawa Barat: Sebanyak 25 siswa dan guru SD Ciherang 01, Desa Ciherang, Dramaga, mengalami keluhan mual, muntah, diare, sakit perut, dan sakit kepala setelah menyantap menu yang diduga berasal dari MBG pada 6 Agustus.
  • Karo, Sumatera Utara: Pada 13 Agustus, 361 siswa dari SMA Negeri 1 Berastagi serta SMA/SMK Swasta Bersama diduga mengalami keracunan setelah menyantap MBG. Dari jumlah tersebut, 270 menjalani rawat inap dan 89 rawat jalan.
    Baca juga: Kondisi 59 Siswa di Pati Usai Dugaan Keracunan MBG, Masih Dirawat di RS, Ini Penjelasan BGN

September 2026

Pada Jumat (11/9/2026), sejumlah siswa diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG yang disiapkan SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tercatat, ada 352 orang yang harus mendapat penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan.

Para korban mengalami sejumlah gejala, seperti pusing, mual, muntah, nyeri pada mulut atau perut, lemas, sesak napas, dan diare. 

Kasus lain di bulan September 2026:

  • Sidoarjo, Jawa Timur – 1 September 2026: Dugaan keracunan terjadi di sejumlah sekolah dan terutama Pondok Pesantren Manbaul Hikam,
  • Tanggulangin. Sedikitnya 730 santri/pelajar dilaporkan terdampak.
  • Sleman, DI Yogyakarta – 7 September 2026: Sebanyak 47 orang dari sejumlah sekolah di Kapanewon Turi mengalami mual, muntah, pusing dan sakit perut setelah menyantap MBG.
  • Blora, Jawa Tengah – 8 September 2026: Dugaan keracunan MBG dilaporkan terjadi di wilayah Tunjungan dan kemudian melibatkan penerima manfaat lainnya. Jumlah korban dilaporkan mencapai 216 orang.
  • Nganjuk, Jawa Timur – 2 September 2026: Sebanyak 127 pelajar dilaporkan mengalami gejala keracunan, termasuk sekitar 100 siswa SMAN 3 Nganjuk.

(Tribunnews.com/Rizki A./Endra Kurniawan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.