TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Seluas 205,25 hektare lahan di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), terbakar selama musim kemarau pada Agustus 2026.
Ratusan lahan yang terbakar tersebut tersebar di lima kecamatan di kabupaten berjuluk Wonua Sorume atau Bumi Anggrek ini.
Di antaranya, di ibu kota Kabupaten Koltim, Kecamatan Tirawuta, tepatnya di Desa Poni Poniki dengan luas 5 hektare.
Kemudian, di Kecamatan Ladongi, meliputi Kelurahan Welala seluas 40 hektare, Desa Pombeyoha 28 hektare, serta Kelurahan Raraa sampai Desa Wande 9 hektare.
Kecamatan Lalolae meliputi Desa Talodo 5 hektare, Desa Wesalo 82 hektare, dan Desa Keisio 19 hektare.
Baca juga: 123 Warga Lalolae Kolaka Timur Terkena ISPA Akibat Asap Karhutla, Keluhkan Batuk hingga Sesak Napas
Kecamatan Tinondo, tepatnya di Kelurahan Tinengi seluas 2,25 hektare, dan di Kecamatan Lambandia, Desa Lalolera mencapai 10 hektare.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Koltim, Dewa Made Ratmawan, mengatakan, dalam proses pemadaman lahan terbakar, petugas menghadapi sejumlah kendala.
"Seperti kondisi cuaca yang sangat terik disertai tiupan angin kencang," ujar Made, Jumat (11/9/2026).
Selain itu, petugas kesulitan memperoleh sumber air untuk pemadaman, terutama di Desa Keisio, Kecamatan Lalolae.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat proses penanganan membutuhkan waktu lebih lama.
Baca juga: PAUD hingga SMP di Lalolae, Mowewe, Tinondo Kolaka Timur Belajar Daring Akibat Kabut Asap Karhutla
Bahkan, petugas harus mencari dan menggali sumber air secara manual menggunakan tangan serta cangkul.
“Personel kami beberapa hari penanganannya sebelumnya melakukan penggalian sumber-sumber air secara manual atau menggunakan tangan dan cangkul. Itu pun sumber airnya sangat terbatas,” jelasnya.
Untuk menangani kebakaran tersebut, BPBD Koltim mengerahkan seluruh personel yang tersedia.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Koltim yang berjumlah sekitar 26 orang, termasuk kepala bidang dan pejabat struktural, turut terlibat di lapangan.
Penanganan juga dilakukan bersama sejumlah pihak, seperti Manggala Agni, TNI, dan Polri.
Dewa menyebut, berdasarkan kondisi di lapangan, kebakaran tersebut diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari satu hingga dua hari untuk ditangani.
Namun, proses pemadaman dapat berlangsung lebih cepat apabila hujan turun dan membantu memadamkan api secara alami.
“Kami agak pesimis kalau ini bisa diselesaikan dalam waktu satu sampai dua hari. Ini kemungkinan membutuhkan waktu berhari-hari, sekitar satu minggu ke depan tetap akan dilakukan penanganan,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di Kecamatan Lalolae, agar tidak melakukan pembakaran untuk membersihkan lahan pertanian.
Sebab, memiliki risiko tinggi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terlebih saat kondisi kemarau seperti saat ini.
“Kalau sudah terjadi karhutla akan sangat susah dipadamkan,” ujar mantan Kepala Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Setda Koltim ini.
Kolaka Timur dengan Kendari, ibu kota Provinsi Sultra, berjarak sekira 113 kilometer (km), waktu tempuh 3 jam 22 menit berkendara. (*)
(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)