NASIB SPPG yang Taruh Tempe di Lantai Depan Toilet, Dinkes Rekomendasi Dapur Ditutup Permanen
Septrina Ayu Simanjorang September 11, 2026 09:54 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Beginilah nasib SPPG yang taruh tempe di lantai depan toilet.

Dinkes merekomendasi agar SPPG tersebut ditutup permanen.

Hal nini terungkap saat Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Blora menemukan sejumlah bahan makanan, termasuk tempe, diletakkan di lantai tepat di depan toilet.

Baca juga: DETIK-DETIK Kebakaran di Kawasan Padat Penduduk di Jalan Alfalah Medan, Awal Api dari Lantai 2 Rumah

Penemuan ini dalam pemeriksaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2 di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, setelah ratusan siswa diduga mengalami keracunan usai menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kondisi tersebut dinilai tidak memenuhi prosedur keamanan pangan dan menjadi salah satu temuan dalam inspeksi yang dilakukan setelah muncul laporan dugaan keracunan MBG.

Kepala Dinkesda Blora Edi Widayat membenarkan adanya temuan tersebut saat memberikan keterangan pada Kamis (10/9/2026).

Baca juga: Mulai Oktober 2026, Pemko Medan Siapkan Beasiswa untuk 100 Mahasiswa Berprestasi dan Prasejahtera


"Betul. Ada beberapa hal di dalam persiapan ya, persiapan dan penyimpanan peletakan bahan-bahan makanan yang siap olah yang tidak sesuai dengan prosedur keamanan pangan," kata Edi Widayat, dikutip TribunTrends dari kanal YouTube Kompas.com, Jumat (11/9/2026).

Pemeriksaan dilakukan Dinkesda Blora setelah menerima laporan adanya siswa yang mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan MBG. Petugas kemudian mendatangi SPPG Sukorejo 2 yang menjadi dapur penyedia makanan untuk sejumlah sekolah di wilayah tersebut.

Selain melakukan inspeksi terhadap kondisi dapur, Dinkesda juga mengambil sejumlah sampel makanan untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

Baca juga: Air Laut Diprediksi Capai 2,6 Meter, Warga di Medan Utara Diperingatkan Waspada Banjir Rob

Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi keamanan pangan sekaligus memastikan penyebab dugaan keracunan yang dialami para siswa. Inspeksi juga mencakup pemeriksaan kesehatan lingkungan dan kondisi pengolahan makanan di dapur SPPG.

Penyimpanan Bahan Makanan Jadi Sorotan

Edi menegaskan, aspek keamanan pangan harus diperhatikan sejak awal proses pengolahan makanan. Menurutnya, pengelola SPPG tidak hanya dituntut menyajikan makanan kepada penerima manfaat, tetapi juga memastikan bahan makanan dipilih, disimpan, dan diolah sesuai prosedur.

"Harapan kami dapur-dapur yang beroperasional bukan hanya menyajikan makanan, tapi mulai dari pemilihan bahan makanan, cara penyimpanan bahan makanan yang kering, cara penyimpanan makanan basah, cara penyimpanan daging, ayam, dan lain-lain harus sesuai dengan prosedur," ujar Edi.

Ia menilai proses tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga higiene makanan dan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.

KERACUNAN MBG: Sejumlah siswa MAN 2 Rembang menjalani perawatan intensif di Puskesmas Lasem, Selasa (8/9/2026), setelah mengalami gejala keracunan massal usai mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Total ada 271 siswa yang terdampak, dengan 26 di antaranya dirawat di puskesmas. Selain itu, 7 guru juga dilaporkan mengalami gejala serupa meski tidak sampai dirawat. (TRIBUN MEDAN/TRIBUN JATENG/DOK MAN 2 REMBANG)

"Karena dari situlah berawal apa itu higiene makanan dan keamanan pangan dimulai sebagai satgas MBG Kabupaten Blora," katanya.

SPPG Sukorejo 2 Direkomendasikan Tutup Permanen

Atas temuan dalam pemeriksaan tersebut, Dinkesda Blora telah menyampaikan laporan sementara kepada Badan Gizi Nasional (BGN).

Dalam laporan itu, Dinkesda merekomendasikan agar SPPG Sukorejo 2 ditutup secara permanen. Namun, keputusan akhir terkait penutupan SPPG berada di tangan BGN.

Rekomendasi tersebut disampaikan setelah Dinkesda menemukan sejumlah praktik dalam persiapan dan penyimpanan bahan makanan yang dinilai tidak sesuai dengan prosedur keamanan pangan.

216 Siswa Diduga Keracunan MBG

Sebelumnya, dugaan keracunan MBG terjadi pada Selasa (8/9/2026). Awalnya, sebanyak 136 siswa SMA Negeri 1 Tunjungan dilaporkan mengalami sejumlah keluhan kesehatan setelah menyantap makanan MBG.

Para siswa mengalami gejala seperti lemas, diare, muntah hingga pusing.Pihak sekolah kemudian meminta siswa yang mengalami gangguan pencernaan untuk berkumpul di aula sekolah. Makanan MBG yang dikonsumsi para siswa tersebut diketahui disalurkan oleh SPPG Sukorejo 2.

Kasus tersebut kemudian dilaporkan kepada Satgas MBG Kabupaten Blora untuk dilakukan penanganan dan pemeriksaan lebih lanjut. Jumlah korban kemudian bertambah.

Hingga Rabu (9/9/2026) malam, Kepala Dinkesda Blora Edi Widayat menyebut jumlah siswa yang mengalami dugaan keracunan mencapai 216 orang. Sementara itu, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan masih diperlukan untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa.

Dinkesda Blora juga terus melakukan pemeriksaan terhadap aspek higiene dan keamanan pangan di SPPG yang memasok makanan MBG tersebut.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.