SURYA.CO.ID SURABAYA - Perkembangan industri asuransi menuntut fungsi underwriting semakin terintegrasi dengan kualitas data, disiplin proses, dan ketepatan pengambilan keputusan. Perkumpulan Underwriter Jiwa Indonesia (PERUJI) mendorong underwriter tidak hanya menjadi penyeleksi risiko, tetapi juga berperan sebagai mitra strategis dalam menjaga pertumbuhan bisnis dan keberlanjutan perusahaan.
Dorongan tersebut mengemuka dalam Indonesia Underwriting Summit (IUS) 2026 yang digelar di Trans Luxury Hotel, Surabaya, Selasa dan Rabu (8-9/9/2026). Forum yang mengusung tema “Integrated Underwriting Journey – Data, Discipline, Decision” itu membahas penguatan profesi underwriter di tengah perubahan risiko dan kebutuhan industri.
"Perubahan kebutuhan industri menuntut underwriter tidak hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga menggabungkan kualitas data, disiplin proses, dan kemampuan mengambil keputusan," kata dr Dessy Kusumayati, AAAIJ, AAK, UND, CRGP, AMRP, Ketua Perkumpulan Underwriter Jiwa Indonesia (PERUJI) saat tampil dalam Indonesia Underwriting Summit (IUS) 2026 yang digelar Trans Luxury Hotel, Surabaya, Selasa dan Rabu (8-9/9/2026).
Underwriter adalah penjamin emisi di pasar modal atau profesional penilai risiko di industri asuransi.
Dr Dessy menegaskan, underwriter masa kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai risk selector, melainkan harus mampu menjadi strategic business partner yang menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kualitas portofolio, pengalaman nasabah, tata kelola risiko, dan keberlanjutan profitabilitas perusahaan.
Baca juga: Bahas Tantangan Jaringan, Telkom Akses dan Pemprov Jatim Perkuat Kolaborasi
"Melalui IUS 2026, PERUJI ingin mendorong pertukaran pengalaman, pembelajaran praktis, dan kolaborasi agar para underwriter semakin siap menghadapi perubahan risiko dan kebutuhan industri," jelasnya.
Perkembangan teknologi juga dinilai perlu ditempatkan sebagai pendukung profesi underwriter. Teknologi dan data dapat membantu mempercepat proses, membaca pola, meningkatkan konsistensi, dan mengurangi pekerjaan repetitif.
Namun, judgement, accountability, ethics, dan responsibility tetap berada pada manusia.
"Teknologi harus kita jadikan teman, bukan ancaman,” tegas dr Dessy, yang juga menjabat sebagai Director Life and Health Business PT Indoperkasa Suksesjaya Reasuransi (INARE) tersebut.
Pentingnya fungsi underwriting juga menjadi perhatian regulator. Dalam keynote address pada IUS 2026, Deputi Komisioner Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) OJK, Iwan Pasila, menyoroti besarnya skala industri yang perlu dikawal melalui proses seleksi risiko yang tepat.
"Berdasarkan data OJK per Juli 2026, total aset sektor PPDP mencapai Rp2.964,56 triliun dengan total investasi sebesar Rp2.276,91 triliun. Pada periode yang sama, Risk-Based Capital (RBC) Asuransi Jiwa tercatat sebesar 455,23 persen," ungkap Iwan.
Baca juga: Klaim Asuransi Sering Jadi Momen Krusial, Manulife Ungkap yang Perlu Disiapkan Nasabah
Sedangkan RBC Asuransi Umum dan Reasuransi sebesar 322,01 persen. Materi OJK juga menunjukkan target aset asuransi terhadap PDB sebesar 20 persen pada 2045, dibandingkan 9,1 persen pada 2025.
Di tengah skala dan tuntutan pertumbuhan tersebut, Iwan menekankan kualitas seleksi risiko sejak tahap awal menjadi bagian penting dalam menjaga kemampuan industri memenuhi janji perlindungan kepada nasabah.
“Teman-teman di underwriter itu menjadi gawang pertama dan gawang awal yang sangat penting untuk menjaga kita bisa mencapai tujuan kita,” ujar Iwan.
Ia juga mendorong underwriter terlibat dalam memahami kesesuaian target market dan produk serta memanfaatkan data, teknologi digital, dan artificial intelligence (AI) untuk mendukung proses underwriting yang efektif dengan tetap menjaga akurasi data.
Dari sisi industri, Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Albertus Wiroyo, menilai penguatan kompetensi dan kolaborasi lintas fungsi menjadi bagian penting dalam mendorong perkembangan industri asuransi jiwa. Namun, human judgment tetap menjadi inti profesi seorang underwriter.
“Di tangan para underwriter, janji perlindungan asuransi dinilai, ditimbang, dan ditepati. Oleh karena itu, AAJI berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan kompetensi, penyusunan standar industri, penyiapan talenta, serta dialog bersama regulator guna memperkuat profesi underwriter jiwa di Indonesia,” tegas Albertus.
Baca juga: Asuransi Astra dan OJK Perkuat Pemahaman Pelindungan Konsumen di Surabaya
Ketua Panitia IUS 2026, dr Hendrikus Dharmawan, AAK, CRGP, mengatakan forum tersebut mempertemukan sekitar 250 peserta dari berbagai fungsi terkait pengelolaan risiko asuransi, mulai dari underwriting, risk management, actuarial, claims, data analytics, reasuransi, broker, healthcare, hingga regulator dan akademisi.
"Selama dua hari, IUS 2026 membahas sejumlah isu strategis, mulai dari clinical evidence dan underwriting framework, pemanfaatan data analytics dan portfolio intelligence, claims & healthcare, digital health ecosystem, fraud detection, biometrics, hingga transformasi pengelolaan klaim," beber dr Hendrikus.
Presiden Direktur PT Novartis Indonesia, Libby Hsu, menyampaikan bahwa Novartis percaya pengambilan keputusan yang lebih baik berawal dari akses terhadap pengetahuan ilmiah dan bukti klinis yang tepat.
"Di tengah kompleksitas tantangan kesehatan yang terus berkembang, kolaborasi lintas sektor menjadi semakin penting. Karena itu, Novartis berkomitmen mendukung penguatan ekosistem kesehatan dan asuransi melalui edukasi serta pertukaran pengetahuan berbasis sains dan bukti klinis," papar Libby.
Kemitraan dengan PERUJI merupakan langkah penting untuk membantu memperkaya pemahaman para profesional asuransi mengenai perkembangan ilmu kedokteran dan risiko kesehatan, sehingga dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih informatif, berbasis bukti, dan berkelanjutan.