TRIBUNJOGJA.COM - Rangkaian tradisi Bersih Desa di Desa Pakah, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, digelar berbeda tahun ini. Selain gunungan (jembulan), kegiatan tahunan menampilkan ogoh-ogoh tikus berdasi yang kemudian dibakar.
Bersih Desa digelar pada Jumat (11/9/2026) setelah salat Jumat dan diikuti masyarakat setempat. Rangkaian kegiatan berlangsung hingga malam hari dengan sejumlah tradisi dan pertunjukan kesenian.
Ketua Karang Taruna Desa Pakah, Putra Ageng, mengatakan pelaksanaan Bersih Desa tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, pada tahun sebelumnya kepanitiaan Bersih Desa ditangani perangkat desa. Sementara tahun ini, kegiatan tersebut diinisiasi dan dilaksa1nakan oleh pemuda-pemudi yang tergabung dalam Karang Taruna.
Salah satu rangkaian kegiatan adalah arak-arakan jembulan. Tradisi tersebut menampilkan belasan gunungan yang berisi hasil bumi dan jajanan pasar.
Jembulan diarak warga dari berbagai RT menuju lapangan desa. Setelah didoakan, isi jembulan kemudian diperebutkan oleh warga.
Warga antusias berebut karena selain hasil bumi, ada juga berabagai doorpize mulai dari entok hingga kambing di gunungan.
Ogoh-ogoh Tikus
Selain jembulan, warga juga membakar dua ogoh-ogoh berbentuk tikus. Ogoh-ogoh tersebut menjadi simbol hama tikus yang selama setahun ini menyerang sawah warga sehingga banyak petani yang gagal panen.
Uniknya, ada pula ogoh-ogoh berbentuk tikus berdasi yang digunakan sebagai kritik sosial terhadap oknum penyelenggara pemerintahan yang tidak jujur dan melakukan korupsi. Ini sekaligus simbol kuropsi harus musnah dari negeri ini.
Rangkaian Bersih Desa kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan Reog Ponorogo pada sore hari.
Pertunjukan tersebut menghadirkan kelompok kesenian Singa Krido Taruna dari Sragen, Jawa Tengah. Atraksi para pembarong dan iringan musik tradisional menarik perhatian ratusan warga yang memadati halaman Balai Desa Pakah.
Pada malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan pengajian akbar yang menghadirkan KH Muhammad Qomarudin.
Pengajian tersebut menjadi bagian dari rangkaian doa bersama untuk keselamatan warga Desa Pakah serta harapan agar masyarakat memperoleh kelimpahan rezeki pada tahun-tahun mendatang.
Salah seorang warga Desa Pakah, Sona, mengapresiasi penambahan pengajian akbar dalam rangkaian Bersih Desa tahun ini.
“Alhamdulillah pengajian yang bagus untuk menumbuhkan kesadaran warga Pakah supaya selalu bersabar dan bersyukur. Bersabar dari apa pun, termasuk karena pertaniannya baru diserang hama tikus dan gagal panen selama setahun. Tapi warga senantiasa tetap bersyukur dengan tidak melupakan sedekah, sedekah kepada tetangga dan keluarga,” ujar Sona.
Ia berharap kegiatan Bersih Desa dapat terus dilestarikan karena dinilai memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
“Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini tetap dilestarikan untuk kebaikan desa,” katanya.
Wayang Kulit
Setelah pengajian, warga kembali mengikuti hiburan berupa pementasan wayang kulit.
Pementasan tersebut menghadirkan dalang Ki Agung Mangku Darsono. Dalang asal Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah ini membawakan lakon 'Patine Rojomolo'.
Dalam cerita pewayangan Jawa, Rajamala adalah sosok raksasa pembawa bencana yang kuat tak tertandingi yang tubuhnya tidak bisa hancur.
Setiap kali ia mati dan jasadnya dimasukkan ke dalam kolam magis, ia akan hidup kembali.
Kisah "Patine Rajamala" menceritakan perjuangan Werkudara yang akhirnya berhasil membunuh Rajamala secara permanen dengan cara menghancurkan tubuhnya agar tidak bisa dimasukkan kembali ke dalam kolam tersebut. (*)