Kekeringan Tulungagung Mulai Merambah Kaki Gunung Wilis, Berharap Bantuan Sumur Bor
Wiwit Purwanto September 11, 2026 10:32 PM

 

SURYA.CO.ID TULUNGAGUNG - Kekeringan di Kabupaten Tulungagung semakin meluas, dari sebelumnya lima desa kini menjadi delapan desa yang mengalami kekurangan air bersih. Bahkan, krisis air mulai melanda desa-desa di kaki Gunung Wilis yang selama ini dikenal memiliki banyak sumber mata air.

Tiga desa di kawasan tersebut kini meminta bantuan distribusi air bersih, yakni Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Desa Picisan, Kecamatan Sendang, dan Desa Sidem, Kecamatan Gondang.

“Tiga desa itu sudah minta kiriman air bersih, sudah dibantu sama Baznas dan BBWS,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung, Sudarmaji, Jumat (11/9/2026).

Di Desa Sidem, kekeringan terjadi di satu dusun yang sulit dijangkau kendaraan. Pengiriman air bersih harus dilakukan secara lansir karena mobil tidak bisa masuk ke lokasi.

Baca juga: DPRD Jatim Desak Pemprov Lakukan Mitigasi Dini, Bencana Kekeringan Sudah Meluas

Warga berharap bantuan sumur bor dapat menjadi solusi untuk mengatasi kesulitan air tersebut.

“Sumber airnya sudah debitnya sangat kecil, tidak mencukupi untuk kebutuhan,” tambahnya.

Kekeringan Meluas ke Wilayah Pegunungan

Sementara di wilayah selatan, kekurangan air bersih juga terjadi di Dusun Tumpuk, Desa Besuki, Kecamatan Besuki. BPBD telah mengirimkan bantuan secara bergilir dengan desa lain yang lebih dulu terdampak kemarau ekstrem.

Sebelumnya, lima desa yang mengalami kekurangan air bersih seluruhnya berada di kawasan pegunungan selatan. Karena berada di dataran tinggi, ketersediaan sumber air di wilayah tersebut sangat bergantung pada kiriman air hujan.

Dua desa berada di Kecamatan Tanggunggunung, yakni Kresikan dan Pakisrejo. Tiga desa lainnya adalah Desa Keboireng, Kecamatan Besuki, Desa Kalidawe, Kecamatan Pucanglaban, dan Desa Sebalor, Kecamatan Bandung.

“Kalau hujan tidak turun, maka desa-desa itu akan terus membutuhkan bantuan air bersih,” tegas Sudarmaji.

Baca juga: Kekeringan Meluas ke Surabaya hingga Gresik, Brimob Polda Jatim Salurkan 37 Ribu Liter Air Bersih

Kepala Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Agil Wuisan, mengatakan kekurangan air bersih terjadi di sembilan RT di Dusun Sumberingin. Lokasinya berada di ketinggian sehingga sumber air cukup dalam dan debitnya terus berkurang.

Namun, kekurangan air tersebut lebih berdampak pada kebutuhan peternakan sapi perah. “Ada sekitar 300 warga yang terdampak. Di sana memang sentra peternakan sapi perah,” ungkapnya.

Peternakan sapi perah membutuhkan pasokan air, sementara sumber air dari sumur sudah tidak mampu mencukupi kebutuhan. Untuk kebutuhan sehari-hari, warga masih dapat mencukupinya.

Sumur Bor Jadi Solusi Jangka Panjang

Agil khawatir kesulitan air bersih semakin memburuk jika hujan tak kunjung turun.

"Tahun lalu sudah mengalami kekeringan juga. Harapan segera turun hujan agar kondisinya membaik," ucapnya.

Kemarau tahun 2024 menyebabkan 20 desa di 10 kecamatan di Kabupaten Tulungagung mengalami kekurangan air bersih. Sementara pada 2025 terjadi kemarau basah sehingga jumlah desa yang kekurangan air bersih turun menjadi sembilan desa di enam kecamatan.

Bantuan sumur bor di desa-desa rawan kekeringan juga membuat jumlah desa yang kesulitan air bersih semakin berkurang. Salah satunya, Polres Tulungagung membuat 22 sumur bor di desa-desa rawan kekeringan pada 2025.

Bantuan juga datang dari berbagai pihak, seperti Alumni Unair maupun tokoh kepolisian asli Tulungagung, Irjen Gupuh Setiyono.

Dampaknya langsung terasa. Desa-desa yang sebelumnya langganan meminta bantuan air bersih seketika berhenti meminta bantuan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.