TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Rangkaian acara peringatan ke-14 Keistimewaan Yogyakarta yang sudah berlangsung sejak 13 Agustus lalu bakal ditutup di Teras Malioboro Beskalan pada Sabtu (12/9/2026) hari ini.
Tahun ini, peringatan HUT ke-14 Keistimewaan DIY bertajuk "Memetri Kaistimewan". Kegiatan ini menjadi ruang untuk merawat sekaligus memaknai kembali keistimewaan melalui berbagai bentuk kegiatan yang dekat dengan masyarakat.
Peringatan HUT Keistimewaan DIY tahun ini melibatkan banyak instansi, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY serta Pemda kabupaten/kota, komunitas, pelaku UMKM, seniman, akademisi, media, hingga masyarakat yang turut mengambil bagian dalam berbagai kegiatan. Selain itu, dukungan juga datang dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Kolaborasi lintas sektor ini merupakan upaya Pemda DIY untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai keistimewaan sekaligus menghadirkan nilai-nilai keistimewaan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Plt. Kepala Divisi Kehumasan LPS Rhein Valleno Oktoriansyah mengungkapkan, momentum HUT Undang-Undang Keistimewaan (UUK) ke-14 ini menjadi kesempatan bagi LPS untuk lebih dekat dengan masyarakat DIY, termasuk para pelaku UMKM.
LPS melihat adanya keselarasan nilai antara upaya menjaga kepercayaan publik dengan semangat "Keistimewaan untuk Rakyat" yang diusung dalam peringatan HUT Keistimewaan ini.
"Sebagai lembaga yang memiliki mandat menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan dan stabilitas sistem keuangan melalui penyelenggaraan program penjaminan simpanan dan juga polis asuransi, LPS melihat keselarasan nilai antara upaya menjaga kepercayaan publik dengan semangat 'Keistimewaan untuk Rakyat' yang diusung. Selain itu, momentum HUT Undang-Undang Keistimewaan ke-14 ini menjadi kesempatan bagi kami untuk lebih dekat dengan masyarakat DIY, termasuk pelaku UMKM dalam rangka memperluas edukasi mengenai penjaminan simpanan dan literasi keuangan," ucapnya.
Rhein menyebut, melalui dukungan yang diberikan, LPS ingin menyelaraskan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan dan semangat Keistimewaan untuk Rakyat sama-sama dibangun atas dasar transparansi dan tanggung jawab.
Dengan demikian, masyarakat DIY diharapkan selalu percaya dan merasa aman dalam menyimpan serta mengelola dananya pada sistem perbankan. Hal tersebut juga dapat membantu pertumbuhan ekonomi daerah dan memberikan kontribusi bagi kesejahteraan bersama.
"LPS berharap nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi Keistimewaan DIY dapat terus lestari dan menjadi inspirasi tata kelola pembangunan yang mengutamakan kepentingan masyarakat. Kami meyakini bahwa kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, pelaku budaya, UMKM, hingga lembaga negara seperti LPS, adalah kunci untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Yogyakarta secara berkelanjutan, sejalan dengan semangat 'Mulyaning Manah, Mukti Ing Bumi, Wibawaning Jagad'," imbuhnya.
Sementara itu, Paniradya Pati Kaistimewaan DIY, Kurniawan, menyampaikan apresiasinya atas dukungan yang diberikan LPS dalam menyukseskan rangkaian acara Memetri Kaistimewan tahun ini.
"Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama agar nilai-nilai keistimewaan dapat terus lestari, sekaligus menjadi inspirasi dalam membangun kehidupan masyarakat yang semakin berkelanjutan," ucapnya.
Kurniawan menambahkan, puncak Memetri Kaistimewan 14 Tahun UUK DIY sudah dilaksanakan di Balai Budaya Tamanmartani, Sleman, Senin (31/8/2026) silam.
Puncak peringatan tersebut menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan Keistimewaan DIY selama 14 tahun sekaligus memahami tanggung jawab yang menyertainya.
"Keistimewaan bukan hanya tentang perjalanan yang telah dilalui, tetapi juga tentang bagaimana nilai dan kewenangan keistimewaan terus dihadirkan dalam kehidupan masyarakat," imbuhnya.
Sementara itu, penutupan rangkaian Memetri Kaistimewan 14 Tahun UUK DIY akan dilaksanakan di Teras Malioboro Beskalan. Penutupan ini menjadi ruang untuk merefleksikan perjalanan yang telah dilalui sekaligus mempertemukan masyarakat dengan seni, budaya, dan pengetahuan.
Berbagai kegiatan dihadirkan dalam penutupan tersebut, antara lain melalui workshop Mewiru Jarik, Wayang Suket, dan Membuat Dluwang.
"14 tahun UUK DIY juga menjadi momentum bagi kami untuk terus melihat apa yang sudah dilakukan dan apa yang masih perlu diperbaiki. Ke depan, pelaksanaan keistimewaan harus semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kebudayaan perlu berjalan bersama dengan pengembangan pengetahuan, penguatan ekonomi masyarakat, pelayanan publik, pertanahan, tata ruang, serta berbagai bidang lain yang menjadi bagian dari kewenangan keistimewaan," pungkasnya. (*)