SURYA.CO.ID - Sosok Kepala Desa (Kades) Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mengundurkan diri usai didemo warganya.
Warga menggeruduk balai desa setempat, Senin (5/1/2026), karena dinilai tak amanah.
Kades bernama Baitsul Amri diduga menyelewengkan dana desa (DD) dan pembanyaran pajak bumi dan bangunan (PBB).
Warga datang sambil membawa pengeras suara dan poster bertuliskan di antaranya 'Turunkan Kades'.
Mereka kemudian bergerak menuju pertigaan Desa Benda yang merupakan ruas jalan provinsi Bumiayu–Sirampog untuk menyampaikan aspirasi lewat orasi.
"PBB, warga sudah membayar, ternyata tidak disetor ke pemerintah, entah kemana," kata Imaduddin dalam orasinya, dikutip SURYA.CO.ID dari TribunBanyumas.
Sementara perwakilan pemuda dari Karang Taruna, mengaku belum pernah menerima anggaran dari pemerintah desa.
Sebagai bentuk dukungan atas tuntutan tersebut, warga membubuhkan tanda tangan di atas kain putih yang dibentangkan di jalan raya.
Aksi berlangsung dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian dan TNI.
M Imadudin, koordinator aksi yang juga koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Desa Benda (AMPDB) mengatakan, demo warga ini merupakan tindak lanjut dari audiensi yang sebelumnya telah dilakukan bersama pemerintah desa, BPD, dan camat Sirampog.
Camat Sirampog, Slamet Budi Raharjo, saat dikonfirmasi enggan memberikan tanggapannya terkait aksi demo warga tersebut.
"Nanti dulu ya, Mas, saya tidak bisa komentar," ujarnya sebelum mematikan telepon.
Menanggapi aksi protes itu, Baitsul akhirnya mengumumkan pengunduran diri sebagai Kades Benda.
Hal tersebut disampaikan secara tertulis dan dibacakan di hadapan massa aksi yang berkumpul di halaman Balai Desa Benda, Senin (5/1/2026) pagi.
Para warga bersorak-sorai menyambut pengunduran diri Baitsul.
Di akhir pernyataannya, Baitsul juga meminta maaf atas segala kesalahan selama memimpin desa tersebut.
Terpisah, Kepala Bidang Bina Pemerintahan Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinpermades) Brebes, Dharmawan Adinugroho, membenarkan adanya permohonan diri Baitsul.
Selanjutnya, pengunduran diri ini akan diplenokan Badan Permusyawaratan Desa setempat.
Baca juga: 3 Kejanggalan Klaim HA Pembunuh Anak Politisi PKS di Banten, Reza Indragiri Soroti Motif dan Bukti
Menurut info, Baitsul Amri memiliki gelar Sarjana Hukum Islam.
Ia menjabat sebagai Kades Benda sejak 2019, setelah memenangkan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades).
Meski masih berusia muda, Baitsul memiliki inovasi untuk kemajuan desanya, salah satunya layanan administrasi kependudukan berbasis online.
Selain itu, ia juga memindahkan kantor balai desa ke lokasi yang lebih layak dan representatif. Keputusan ini diambil karena gedung lama dianggap tidak memadai.
Terobosan lain yang cukup populer adalah pembangunan lapangan sepak bola.
Ia bahkan mendirikan klub dan sekolah sepak bola untuk anak-anak desa.
Desa Benda memiliki sejarah yang panjang. Bermula dari era Pemerintahan Hindia Belanda hingga menjadi basis perjuangan kemerdekaan.
Tak hanya menyimpan kisah tentang asal-usul nama, desa ini juga dikenal sebagai tanah para pejuang yang memiliki karakter masyarakat yang khas.
Menurut info di laman resmi Desa Benda, cikal bakal Desa Benda bermula di Kampung Cicurug Kolot (sekarang dikenal sebagai Lembur Kolot).
Pada masa itu, pusat pemerintahan kecamatan atau Orde Districk Cicurug berada di Bojened, yang dipimpin oleh Camat R.A.A. Surya Danuningrat (Dalem Gedung). Beliau merupakan sosok yang kelak menjadi Bupati Sukabumi.
Pemerintahan desa pertama dipimpin oleh Lurah Wirya. Meski tahun pastinya belum teridentifikasi secara eksplisit, catatan keluarga menunjukkan aktivitas administrasi seperti transaksi jual beli tanah di wilayah ini sudah terjadi sejak tahun 1896.
Perubahan besar terjadi pada tahun 1913. Pusat pemerintahan desa berpindah ke Kampung Bangkong Reang, dan nama desa resmi berganti menjadi Desa Benda.
Terdapat dua narasi sejarah yang berkembang di tengah masyarakat mengenai asal-usul nama "Benda":
Faktor Alam: Nama Benda diambil dari banyaknya Pohon Benda (Artocarpus elasticus) yang tumbuh di wilayah tersebut. Pohon yang sejenis dengan kluwih atau sukun ini tumbuh subur, dengan pohon terbesar berada di lokasi yang kini menjadi Kampung Benda.
Istilah Perjuangan: Versi lain menyebutkan "Benda" berasal dari istilah bahasa daerah nga-ben yang berarti beradu atau berperang. Hal ini merujuk pada keberanian warga setempat yang sering terlibat bentrokan fisik (gulat/perang) melawan penjajah Belanda.
Desa Benda dikenal sebagai sarang pejuang. Beberapa nama yang tercatat dalam sejarah lokal antara lain:
Masa Pra-Kemerdekaan: Mama Duang (Burhan) yang dikenal totalitas menghibahkan hartanya untuk perjuangan, H. Muchtar, RE. Djardi (Entong), Agus Usto, Atjo, Rubana, dan Bapak Otto.
Masa Pasca-Kemerdekaan: H. Suja’i, H. Nasir, H. Ari, Madjid, Mandor Ba’i, Endang Baehaki, dan tokoh-tokoh lainnya.
Hingga saat ini, Desa Benda memiliki aset tanah desa (sawah bengkok) seluas 7,75 Hektare.
Tanah ini dirintis pada masa Lurah Murda/Jakaria dan dikelola secara produktif oleh Lurah Hasidin (1942–1945). Hasil dari Bank Desa kala itu digunakan untuk membeli lahan yang kemudian ditanami pohon kelapa yang masih produktif hingga kini.
Masyarakat Desa Benda sendiri dikenal memiliki watak yang unik: keras, percaya diri, namun sangat menghargai hasil karya orang lain.
Karakter ini diduga kuat terbentuk dari sejarah panjang perlawanan dan kemandirian desa dalam menghadapi dinamika zaman
===
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.
Klik di sini untuk untuk bergabung