Rekonstruksi Aceh Pascabadai Senyar, USK Usulkan Pendekatan Mitigasi Berkelanjutan
January 12, 2026 06:54 PM

PROHABA.CO, BANDA ACEH – Pascabencana Badai Siklon Senyar 2025, Universitas Syiah Kuala (USK) mengambil peran strategis dalam upaya membangun kembali Aceh dengan pendekatan mitigasi bencana jangka panjang, tidak sekadar pemulihan fisik wilayah terdampak.

Dorongan tersebut sejalan dengan keterlibatan aktif USK dalam mendukung Pemerintah Aceh menyusun Dokumen Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Provinsi Aceh.

Rektor USK Prof Dr Marwan menyampaikan bahwa USK mengusulkan pembangunan kembali wilayah terdampak melalui pendekatan Daerah Aliran Sungai (DAS) utama sebagai strategi kunci pengurangan risiko bencana di masa mendatang.

“Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable, yaitu membangun kembali wilayah terdampak dengan kondisi yang lebih baik, lebih aman, dan berkelanjutan,” ujar Prof Marwan.

Dalam mendukung penyusunan R3P Aceh, USK mengerahkan 14 tim pakar lintas disiplin yang tergabung dalam lima gugus kerja tematik rehabilitasi dan rekonstruksi.

Keterlibatan tersebut bertujuan agar proses pembangunan pascabencana tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga memperkuat mitigasi dan pengurangan risiko bencana jangka panjang.

Salah satu fokus utama usulan USK adalah pembangunan dan penguatan infrastruktur pengendalian banjir pada DAS yang melintasi kawasan perkotaan, seperti DAS Krueng Meureudu, DAS Krueng Peusangan, dan DAS Krueng Tamiang. 

Ketiga sungai tersebut dinilai tidak lagi memadai dalam menampung debit puncak banjir tahunan, terutama pada kondisi cuaca ekstrem seperti saat Badai Siklon Senyar.

Usulan tersebut meliputi pengerukan dan normalisasi sungai, pembangunan tanggul banjir, penetapan sempadan sungai sebagai kawasan lindung, perbaikan tutupan hutan di wilayah hulu dan tengah DAS, serta penataan permukiman di kawasan rawan bencana.

Satgas USKK
TURUN KE KAWASAN BENCANA - Tim USK saat turun ke kawasan terdampak bencana di Aceh, beberapa waktu lalu.

Rektor USK juga menekankan pentingnya Aceh belajar dari negara-negara yang memiliki pengalaman panjang dalam mitigasi bencana badai, seperti Jepang dan Taiwan. 

Meski kerap dilanda bencana serupa, negara-negara tersebut dinilai mampu menekan dampak dan jumlah korban secara signifikan.

Selain infrastruktur sungai, USK memberi perhatian serius pada pemulihan kawasan lindung, khususnya hutan di wilayah hulu DAS. 

Melalui pemanfaatan citra satelit, tim USK memetakan tingkat kerusakan hutan akibat badai serta menyusun rekomendasi perbaikan kawasan hutan agar kembali menjalankan fungsi ekologisnya dalam menahan limpasan air dan mengurangi risiko banjir di masa depan.

Tidak hanya pada aspek perencanaan dan kebijakan, USK juga menunjukkan kontribusi nyata sejak awal terjadinya bencana. 

Melalui pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Respons Badai Siklon Senyar, USK bergerak sejak hari kedua pascabencana, tepatnya 28 November 2025, dengan menurunkan relawan, tenaga medis, dan bantuan logistik ke berbagai wilayah terdampak di Aceh.

Hingga saat ini, lebih dari 2.700 personel USK telah dikerahkan ke 18 kabupaten/kota terdampak, termasuk 518 tenaga medis yang terdiri atas dokter, dokter spesialis, perawat, apoteker, serta mahasiswa dari Fakultas Kedokteran, Fakultas Keperawatan, dan Program Studi Farmasi FMIPA USK.

Seluruh layanan kesehatan dan kemanusiaan tersebut diberikan secara gratis sebagai wujud pengabdian USK kepada masyarakat.

Selain itu, Tim Satgas USK telah memulihkan lebih dari 640 sumur warga, membangun enam unit filter air bersih dan delapan sumur bor, menyalurkan lebih dari 18 ton beras, serta mendistribusikan lebih dari 4.000 paket makanan higienis siap saji.

Pendampingan psikososial juga diberikan kepada 1.260 anak korban banjir di empat kabupaten terdampak guna membantu pemulihan kondisi mental dan emosional mereka.

Penggalangan dan penyaluran bantuan kemanusiaan tersebut turut didukung oleh Rumah Amal USK, yang mengelola donasi dari sivitas akademika dan masyarakat umum secara transparan dan akuntabel.

Sebagai bagian dari kontribusi berkelanjutan dalam pemulihan pascabencana, USK melibatkan mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Kebencanaan.

Sebanyak 719 mahasiswa dikerahkan ke sembilan kabupaten/kota terdampak, yakni Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Utara, Langsa, Aceh Tamiang, dan Aceh Tenggara.

Para mahasiswa tersebut terlibat langsung dalam kegiatan pemulihan sosial, lingkungan, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana di masa mendatang.

USK juga memberikan perhatian khusus kepada mahasiswa yang terdampak langsung bencana, baik akibat kerusakan tempat tinggal, kehilangan sumber penghidupan keluarga, maupun dampak sosial ekonomi lainnya. 

Sebagai bentuk empati, USK menetapkan kebijakan pembebasan dan pengurangan Uang Kuliah Tunggal (UKT), disertai pendampingan akademik dan psikososial agar keberlanjutan studi tetap terjaga.

Selain itu, Tim Satgas USK turut melakukan survei dan pendataan kerusakan infrastruktur, lahan pertanian, serta kawasan kehutanan yang terdampak. 

Data tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung proses validasi dampak kerusakan yang tengah dilakukan oleh Tim R3P Provinsi Aceh. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.