TRIBUN-BALI.COM, BULELENG – Di Kabupaten Buleleng, Bali, upaya menjaga kedaulatan pangan justru dimulai dari hal yang sangat personal tangan-tangan para siswa sekolah dari tingkat sekolah dasar hingga menengah atas.
Siswa-siswi sekolah di Buleleng digerakkan oleh Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN) yang mentransformasikan ketahanan pangan menjadi kurikulum karakter.
Di sekolah-sekolah seperti SDN 3 Banjar Jawa, SMPN 1 Singaraja, SMAN 1 Singaraja dan SMKN 3 Singaraja, pangan bukan lagi sekadar komoditas yang dibeli di pasar, melainkan hasil dari sebuah proses ketekunan.
Baca juga: Insiden Kecelakaan Berujung Orang Hanyut di Buleleng Bali, Polisi Periksa Sopir Avanza
Pada Senin 12 Januari 2026, suasana di beberapa sekolah di Singaraja tampak berbeda.
Sebanyak 4 ton beras mulai didistribusikan kepada para siswa untuk pemenuhan kebutuhan pangan dasar.
Namun, bantuan ini bukan menjadi poin utama.
Beras seberat 5 kilogram per siswa tersebut hadir sebagai simbol penguat fondasi dasar, sementara "benih" utamanya adalah edukasi.
Ketua Pengurus YSPN, Marsekal Madya TNI (Purn) Daryatmo memperkenalkan gerakan “Satu Anak, Satu Polybag” dengan mengajak siswa untuk menanam, merawat, dan memanen pangan mereka sendiri di lingkungan sekolah.
“Pertanian hari ini tidak hanya soal menanam di sawah, tetapi tentang inovasi dan bagaimana generasi muda melihat sektor ini sebagai sesuatu yang relevan dan produktif,” ujar Marsekal Madya TNI (Purn) Daryatmo kepada Tribun Bali, pada Selasa 13 Januari 2026.
Baca juga: ISAK Tangis Keluarga Nantikan Made Serina, Pensiunan Kasi Dinas P2KBP3A Buleleng Meninggal Usai Laka
Langkah ini mendapat atensi serius dari pemerintah pusat dan daerah. Hadirnya Direktur Jenderal Otonomi Daerah, Prof. Dr. Drs. Akmal Malik, M.Si., serta Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng, Drs. Gede Suyasa, M.Pd, menegaskan bahwa model pendidikan pangan berbasis sekolah di Buleleng ini diproyeksikan menjadi percontohan nasional.
Ia menjelaskan, target yang ingin dicapai adalah pendidikan karakter dengan menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan kepemimpinan sejak dini.
Lalu, ekosistem pangan lokal melalui penyaluran benih padi dan pupuk formula untuk lahan 1 hektar di Bali guna memastikan produksi lokal tetap terjaga.
Kemudian, replikasi program di mana keberhasilan di Buleleng diharapkan dapat diterapkan di wilayah lain di Indonesia untuk menciptakan kemandirian pangan yang desentralistik.
Baca juga: Hasil Pantauan Dishub Bali: Jalan Pancasari Buleleng Dapat Dilalui Pasca Banjir
Tantangan terbesar pangan Indonesia di masa depan adalah regenerasi petani. Dengan melibatkan siswa SMA dan SMK, program ini mencoba mendobrak stigma bahwa pertanian adalah sektor yang kuno.
Penyaluran bantuan pangan dan input pertanian benih serta pupuk yang dilakukan YSPN di Buleleng adalah langkah taktis untuk merespons kebutuhan hari ini.
Namun, gerakan edukatifnya adalah strategi jangka panjang untuk memastikan Indonesia tidak hanya kenyang hari ini, tetapi berdaulat di masa depan.
Program ini merupakan bagian dari Self Sufficient Indonesian Food Foundation yang fokus pada penguatan edukasi dan produksi pangan berbasis komunitas.
"Melalui sinergi antara yayasan, pemerintah pusat, dan daerah, gerakan ini bertujuan melahirkan generasi yang siap menjaga kedaulatan pangan nasional," pungkas dia. (*)