TRIBUNJAKARTA.COM - Gelombang kritik terus datang menghampiri Persija Jakarta dari suporter hingga legenda klub usai kalah dari rival abadinya, Persib Bandung dalam pertandingan Super League pekan 17.
Di pertandingan yang berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, Minggu (11/1/2026), skuad Macan Kemayoran harus mengakui keunggulan tuan rumah Persib Bandung dengan skor 1-0.
Serangkaian kritikan dan ketidakpuasan diutarakan oleh berbagai pihak.
Namun, ketidakpuasan ini langsung diredam dan dibalas oleh pernyataan resmi yang dikeluarkan perwakilan pemain Persija Jakarta.
Ketua Umum The Jakmania, Diky Soemarno, menilai persoalan utama Persija bukan hanya soal hasil, melainkan kedalaman skuad yang belum sepadan.
Menurutnya, para pemain pelapis gagal memberi dampak nyata saat dibutuhkan Persija.
“Pemain pelapis harus menjadi pembeda dalam arti positif. Ketika masuk dari bench, mereka harus mampu mengubah permainan, memberi dampak, dan menjadi solusi dari strategi pelatih,” ujar Diky Soemarno, Senin (12/1/2026).
Diky menegaskan, kekalahan dari Persib harus dijadikan alarm keras bagi manajemen dan tim pelatih agar segera berbenah di sisa musim.
Ia menuntut Persija tampil lebih serius pada paruh kedua kompetisi.
“Setiap pertandingan adalah final. Tidak ada lagi sedekah poin, tidak ada lagi meremehkan tim lain,” tegasnya.
Tak hanya itu, suara evaluasi juga datang dari tribun.
The Jakmania mendesak manajemen Persija menilai ulang kontribusi para pemain, termasuk pemain asing yang dinilai belum memberikan dampak signifikan.
“Kontribusi pemain harus jelas. Kalau tidak memberi dampak, harus dievaluasi, apakah dipertahankan, dipinjamkan, atau diganti,” tambah Diky.
Kritik yang lebih pedas dilontarkan legenda Persija, Ismed Sofyan.
Mantan bek kiri Timnas Indonesia itu mengaku kecewa melihat penampilan Macan Kemayoran yang dinilainya kehilangan nyali di laga besar.
“Enggak ada ngototnya, enggak ada gregetnya, keinginan menangnya enggak ada. Sekarang Persija enggak ada nyalinya,” kata Ismed, dikutip dari akun Instagram Jakonline.
Ismed menilai masalah Persija bukan semata urusan taktik, melainkan mental bertanding yang lemah.
Ia bahkan menyarankan agar pemain yang tampil tanpa determinasi digantikan oleh pemain muda akademi.
“Kalau datang ke sana hanya untuk menggugurkan kewajiban, mendingan bawa anak akademi aja,” ucapnya.
Namun, kritik keras tersebut mendapat respons berbeda dari dalam tim.
Bek Persija, Jordi Amat, menegaskan bahwa para pemain telah mengerahkan seluruh kemampuan mereka saat menghadapi Persib.
“Hasilnya memang menyakitkan, tetapi saya bangga dengan penampilan kami. Kami memberikan segalanya di laga derbi, bertanding dengan sepenuh hati, dan pantas mendapatkan lebih,” ujar Jordi, dikutip dari laman resmi Persija, Rabu (14/1/2026).
Ia menilai permainan Persija menunjukkan perkembangan yang nyata sejak awal musim, baik dari sisi mental maupun aspek teknis.
Meski harus bermain di bawah tekanan tinggi, Persija tetap berani tampil progresif dan menyerang.
Sekalipun kalah jumlah pemain sejak menit ke-54, Macan Kemayoran tetap mendominasi permainan.
“Tim ini terus berkembang dan kami akan kembali lebih kuat. Terima kasih atas dukungan kalian, Jakmania,” tuturnya.
Nada serupa disampaikan bomber Persija, Emaxwell Souza.
Ia menekankan bahwa satu kekalahan tidak akan mengubah arah dan tujuan besar tim.
“Belajar, berkembang, dan kembali lebih kuat. Perjuangan berlanjut, dan tujuan kami tetap sama,” ucap Maxwell.
Pernyataan Jordi seolah menjadi bantahan atas anggapan Persija tampil tanpa mental dan determinasi.
Meski demikian, perbedaan pandangan antara suporter, legenda klub, dan pemain memperlihatkan ketegangan narasi yang kini menyelimuti Persija Jakarta.
Dengan kompetisi yang masih panjang, tekanan terhadap Persija dipastikan semakin besar.
Evaluasi menyeluruh, baik dari sisi teknis, mental, maupun komposisi pemain, menjadi tuntutan mutlak jika Macan Kemayoran ingin bangkit dan kembali bersaing di papan atas.