Imbas Guru SMK di Jambi Dikeroyok Murid: Disdik Turun Tangan Kirim Tim, Ketua OSIS Minta Dipindah
January 15, 2026 01:32 PM

 

SURYA.co.id – Di balik papan tulis SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, tekanan itu tidak datang tiba-tiba.

Agus Saputra sudah merasakannya jauh sebelum video pengeroyokan viral di media sosial.

Hampir dua tahun lamanya, ia mengaku menjalani hari-hari mengajar di bawah bayang-bayang perundungan verbal dari satu kelas yang seluruh siswanya laki-laki.

Bukan ancaman fisik, melainkan kata-kata yang terus menggerogoti wibawa dan ketenangan seorang pendidik.

Namun Agus memilih bertahan. Ia tetap masuk kelas, tetap mengajar, dengan satu alasan sederhana, menjaga proses belajar mengajar agar tidak runtuh oleh konflik.

Pilihan itu, menurut pengakuannya, justru membawanya ke titik paling rapuh dalam kariernya sebagai guru.

Tamparan di Sekolah

Selasa (13/1/2026) menjadi hari ketika akumulasi tekanan itu meledak.

Agus menyebut kembali menerima perlakuan kasar dari seorang siswa di lingkungan sekolah.

Dalam kondisi emosi memuncak, ia menampar siswa tersebut sebagai bentuk teguran dan pendisiplinan.

Namun ruang sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi arena amuk.

Reaksi datang beruntun. Satu tamparan memicu kemarahan kolektif.

Agus dikeroyok oleh sejumlah siswa SMK pertanian tersebut.

Dalam video yang beredar, terlihat suasana kacau, teriakan, kerumunan, dan seorang guru yang terdesak.

Agus mengaku sempat mengeluarkan celurit, bukan untuk menyerang, melainkan sebagai upaya terakhir agar para siswa menjauh dan situasi tidak semakin memburuk.

Di titik itu, relasi guru dan murid benar-benar runtuh. Batas otoritas hilang. Rasa aman sirna.

Laporan ke Dinas Pendidikan

Usai kejadian, Agus memilih jalur formal. Ia melaporkan peristiwa tersebut ke Dinas Pendidikan, bukan hanya untuk meminta perlindungan, tetapi juga untuk memastikan kronologi kejadian tidak dibentuk oleh potongan video semata.

Langkah itu menjadi sinyal bahwa persoalan ini tidak bisa dilihat hitam-putih.

Ada sejarah panjang, ada dinamika kelas, dan ada kegagalan sistem yang dibiarkan menumpuk.

Dinas Pendidikan Turun Tangan

Ilustrasi Pengeroyokan
Ilustrasi Pengeroyokan (Tribunnews)

Plt Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, M Umar, memastikan pihaknya akan melakukan pendalaman langsung ke sekolah.

“Tim bidang guru dan tenaga pendidikan (GTK) bersama bidang SMK Disdik akan turun ke SMKN 3 Tanjab Timur tersebut,” katanya, dilansir SURYA.co.id dari tribun Jambi.

Umar menegaskan sekolah seharusnya menjadi ruang aman, bukan arena konflik terbuka.

Ia menyebut pembinaan akan dilakukan terhadap pihak-pihak yang terlibat agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kami akan berkoordinasi dengan BKD Provinsi Jambi terkait penanganan hasil dari pembinaan tersebut,” terangnya.

Nada keprihatinan juga disampaikan Kabid Pembinaan SMK Disdik Provinsi Jambi, Harmonis.

“Saya belum tahu persis apa masalahnya. Kita juga sangat menyayangkan dan prihatin atas kejadian semacam ini,” ujarnya.

Ketua OSIS Minta Sang Guru Dipindah

Setelah video pengeroyokan menyebar luas, suara lain muncul, kali ini dari perwakilan siswa.

Ketua OSIS SMKN 3 Tanjung Jabung Timur menyampaikan permintaan maaf melalui video yang diunggah akun Instagram @cicitvjambi.

“Di sini saya sebagai Ketua OSIS di SMK 3 Tanjung Jabung Timur ingin menyampaikan permintaan maaf terhadap instansi yang terlibat, dengan tersebarnya video pengeroyokan terhadap guru,” katanya.

Namun permintaan maaf itu dibarengi dengan tudingan serius.

“Hal tersebut terjadi karena oknum tersebut sering menindas kami di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur,” lanjutnya.

Satu permintaan pun disampaikan secara terbuka.

“Kami hanya ingin beliau dipindahkan ke tempat yang lain, karena kami tidak nyaman beliau ada di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur ini,” tutupnya.

Kronologis Kejadian

Agus mengungkapkan kejadian bermula saat dirinya ditegur seorang siswa dari kelas, saat proses belajar mengajar berlangsung, sekira pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.

Menurutnya, teguran itu bernada tidak sopan dan sempat direkamnya

“Dia menegur dengan tidak sopan dan tidak hormat kepada saya dengan meneriakan kata yang tidak pantas saat dia belajar,” katanya, pada Rabu (14/01/2026).

Agus menuturkan, dirinya masuk ke kelas siswa tersebut dan menanyakan terkait hal itu.


“Kemudian, saya masuk ke kelas saya tanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” tuturnya.

 
“Dia langsung menantang saya, katanya seperti itu. Akhirnya saya refleks satu kali menampar muka dia itulah kejadiannya awal,” lanjutnya.

Agus menjelaskan, pada jam istirahat dirinya ditantang kembali oleh siswa tersebut.

Kejadian tersebut berlarut hingga pukul 13.00 WIB sampai 16.00 WIB.

“Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.

Agus menerangkan, saat mediasi, dirinya menanyakan apa keinginan siswa tersebut.

“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya membeli alternatif kepada mereka, terangnya.

Jalan alternatif itu berupa pembuatan petisi. 

“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.

Agus menambahkan, dirinya sempat diajak komite sekolah seusai mediasi.

“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.

“Ada videonya, ini sudah viral mungkin. Kemudian juga setelah itu, ini kan banyak nih yang viral di video itu, ada juga yang bawa senjata kita jadinya,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.