Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Kebijakan Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang menutup total aktivitas wisata secara mendadak memicu keluhan dari para pelaku usaha biro perjalanan wisata.
Adapun TNWK ditutup untuk wisatawan umum mulai Jumat (16/1/2026), menyusul meningkatnya konflik gajah liar dan manusia di kawasan ini.
Namun, keputusan penutupan ini dinilai terlalu tiba-tiba, sehingga menyebabkan kerugian materiil yang tidak sedikit bagi para agen travel.
Salah satu pelaku biro jasa wisata dari Travelesia, Resky, mengungkapkan kekecewaannya lantaran Surat Edaran (SE) penutupan baru terbit tepat H-1 sebelum jadwal keberangkatan tamu di akhir pekan.
"Kami sangat menyayangkan karena surat edaran itu justru turun di hari Jumat. Padahal hari Sabtu dan Minggu (16-17 Januari) itu jadwal tamu-tamu kami berangkat, jadi terpaksa harus di-cancel semua," ujar Resky saat dikonfirmasi, Jumat (16/1/2026).
Resky menjelaskan, pihaknya harus membatalkan sedikitnya dua paket perjalanan dengan total lebih dari 60 orang tamu yang sudah melakukan pemesanan (booking).
Dampak dari pembatalan massal ini tidak hanya mengecewakan wisatawan, tetapi juga menghantam sisi finansial biro perjalanan.
"Kalau bicara dampak, hitungan kasarnya kami bisa rugi sampai belasan juta. Itu hanya untuk pembatalan paket yang sudah booking pekan ini saja," imbuhnya.
Menurut Resky, penutupan ini kemungkinan besar merupakan imbas dari dinamika di lapangan pasca meninggalnya Kepala Desa Braja Asri akibat konflik gajah beberapa waktu lalu.
Pasca kejadian tersebut, Reski mengatakan bahwa aktivitas jeep tour di TNWK sebenarnya masih diperbolehkan.
"Kalau informasi dari tim kami pasca kepala desa itu meninggal, sebenarnya jeep tour ke area gajah liar itu masih diperbolehkan, tapi durasinya dipotong yang biasanya 1 jam jadi cuma setengah jam," Jelasnya
Namun, perkembangan situasi di lapangan tampaknya berkembang berbeda, terlebih setelah adanya demo dari masyarakat pada 13 Januarinlalu.
"Ada kemungkinan juga karena prediksi tamu akan membludak pada akhir, makanya ditutup, kata dia.
Resky mengaku, pada dasarnya pihak biro jasa memahami urgensi keselamatan dan penanganan konflik satwa yang sedang dilakukan pihak Balai TNWK.
Ia berharap, konflik antara manusia dan gajah di Way Kambas dapat segera terselesaikan dengan baik tanpa ada lagi korban jiwa.
"Ke depan, kami berharap masalah di Way Kambas cepat selesai, tidak ada lagi konflik, dan segera dibuka kembali agar kami bisa kembali mengais rejeki," pungkasnya.
Sebelumnya, Kepala Balai TNWK, MHR Zaidi, menyatakan penutupan dilakukan untuk memfokuskan seluruh personel dalam penanganan konflik gajah dan perbaikan infrastruktur yang rusak.
TNWK baru akan dibuka kembali jika situasi keamanan sudah kondusif dan fasilitas penunjang telah dibenahi.
( Tribunlampung.co.id / Hurri Agusto )