Sejumlah Desa di Ketol Aceh Tengah Masih Terisolir, Relawan Antar Bantuan Mengantung di Tali
January 19, 2026 08:51 PM

TRIBUNGAYO.COM - Sejumlah desa di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah dilaporkan hingga kini masih terisolir.

Pasalnya, jembatan darurat hingga kini belum dibangun oleh pemerintah setelah jembatan lama hancur diterjang banjir dan longsor pada 26 November 2025 lalu.

Jalan alternatif adalah dengan menggunakan tali sling sebagai sarana transportasi warga selama sudah 2 bulan terakhir.

Empat relawan dari Banda Aceh pada Minggu (18/1/2026) berangkat ke desa terisolir di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah untuk mengantar bantuan dari donatur.

Mereka terdiri dari Jamaluddin Jamil ST MM, Dr Safwan Gade, Edi dan Hasan Basri M Nur PhD.

Mereka menerima amanah dari donatur PT Artha Graha Jakarta untuk menyalurkan bantuan kepada korban bencana banjir di daerah terisolir yang mimim dari perhatian.

Ketua tim relawan yang juga Ketua KOSGORO Aceh, Jamaluddin Jamil, menyebutkan, pihaknya berkomunikasi dengan pengurus KOSGORO kabupaten dan kemudian menetapkan Desa Bintang Pepara Kecamatan Ketol, Aceh Tengah sebagai salah satu tujuan bantuan.

Tim relawan memutuskan berangkat dengan mobil rental untuk mengangkut bantuan yang terdiri dari pakaian baru, kain sarung, mukena, kelambu, susu balita, makanan dan beberapa jenis kebutuhan pokok lainnya.

Mereka memfoluskan pada satu desa yang terletak di paling ujung yaitu Desa Bintang Pepara agar maksimal manfaatnya. 

“Seluruh rumah di desa ini telah hancur, semua warga mengungsi ke SMPN 32 yang dekat dengan kampung,” ujar Jamaluddin mengutip Serambinews.com, Senin (19/1/2026).

Tim relawan menuju Desa Bintang Pepara dengan melalui jalan rusak, berlobang dan berlumpur.

Bahkan terdapat jembatan menuju desa tersebut telah roboh dan belum dibangun jemabatan pengganti yang setara.

Tim relawan terpaksa menggantung di tali kecil yang terhubung antara kedua sisi sungai agar dapat mencapai desa tujuan.

Bantuan juga diangkut dengan cara yang sama.

“Dag dig dug saat kami menggantung di tali itu, takut terjatuh atau tali terputus. Tapi harus kami beranikan diri agar tiba di lokasi tujuan,” ujar Hasan Basri M Nur, yang juga dosen UIN Ar-Raniry.

Di seberang sungai tim relawan harus naik ojek dan melalui jalan yang sangat rusak sebelum akhirnya tiba di lokasi.

Di sana, tim relawan disambut ramah oleh Kepala Desa atau Reje Misran SH dan 99 KK pengungsi di SMPN 32 Aceh Tengah.

Para pengungsi menyatakan terima kasih kepada donatur atas bantuan yang dikirimkan.

Pengungsi di desa ini terdiri dari tiga etnis yaitu Jawa, Gayo dan Aceh.

Mereka berharap agar segera dibangun huntara dan huntap di lokasi baru (relokasi), selain dibangun jembatan dan jalan tentunya.

“Sudah dua bulan lamanya kami mengungsi ke sekolah ini,” ujar seorang pengungsi sambil menyiapkan makan malam di dapur umum. 

Baca juga: Tim Kemenko Perekonomian Kunjungi Aceh Tengah, Cek Desa Terisolir dan Pembangunan Huntara

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.