Muara Dangkal, Perahu Tertahan: Harapan Nelayan Batang Kembali Mengalir Usai Sungai Sambong Dikeruk
January 20, 2026 10:55 AM

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Setiap ingin melaut ataupun pulang melaut beberapa nelayan di Kabupaten batang tidak langsung menepi.

Perahu Suparno satu di antara nelayan warga Klidang Lor yang sarat ikan harus menunggu air pasang sambil ditarik perlahan dengan bantuan rekan sesama nelayan. 

Muara Sungai Sambong yang semakin dangkal kerap membuatnya mengelus dada, bukan hanya melelahkan, tapi juga menggerus ongkos melaut.

Pemandangan seperti itulah yang selama berbulan-bulan dirasakan nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Klidang Lor, Kabupaten Batang. 

Namun dengan rencana Pemkab Batang akan melakukan pengerukan, menjadi harapan bagi para nelayan.

Baca juga: Normalisasi Sungai Jadi Solusi Cepat, PUPR Batang Siapkan Anggaran 2026

Deru eskavator memecah kesunyian muara, mengeruk endapan lumpur yang selama ini menjadi penghalang tak kasatmata bagi perahu nelayan.

“Kalau air surut, kapal sering mentok. Mau tidak mau ditarik. Itu bisa nambah biaya sampai ratusan ribu,” kata Suparno kepada Tribunjateng, Selasa (20/1/2026).

Pendangkalan muara Sungai Sambong memang telah menjadi keluhan lama.

Kedalaman air yang kini tinggal sekitar satu meter membuat kapal nelayan kesulitan keluar-masuk dermaga, terutama saat surut. 

Kondisi ini tak hanya memperlambat distribusi hasil tangkapan, tetapi juga menggerus pendapatan nelayan kecil.

Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Batang, Agung Wisnu Bharata, turun langsung meninjau pengerukan.

Ia memastikan proses normalisasi berjalan sesuai rencana demi mengembalikan fungsi muara.

“Karena ini sudah dangkal, kedalamannya mungkin tinggal satu meter, sehingga kapal tidak bisa masuk. Maka hari ini kita cek langsung pengerukan di muara Sungai Sambong, tepatnya di TPI Klidang Lor,” kata Agung.

Bagi nelayan, pengerukan ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan penopang hidup. 

Dengan muara yang kembali dalam, kapal tak lagi perlu ditarik manual, dan biaya tambahan yang selama ini membebani bisa ditekan.

“Tujuan pengerukan untuk mempermudah lalu lintas kapal masuk dan keluar. Kalau tidak dikeruk, kapalnya harus ditarik dan itu butuh biaya tambahan yang cukup besar bagi nelayan,” jelasnya.

Tak hanya berdampak pada ekonomi pesisir, normalisasi muara sepanjang kurang lebih 300 meter ini juga menjadi tameng warga Sambong dari ancaman banjir musiman. 

Di tengah intensitas hujan yang meningkat, aliran sungai yang tersendat berpotensi meluap ke permukiman.

“Kalau muaranya lebih dalam, air hujan bisa cepat mengalir ke laut. Ini untuk meminimalisir banjir di wilayah Sungai Sambong,” ucapnya.

Pengerukan Sungai Sambong sendiri bukan pekerjaan sekali jadi. 

Pemerintah daerah telah menjadwalkan kegiatan ini rutin setiap tahun selama total 75 hari, dengan tahap awal 15 hari pengerjaan intensif di bulan pertama.

Di tepi muara, Suparno kembali tersenyum. 

Baginya, pengerukan ini bukan hanya soal lumpur yang diangkat, tetapi tentang perahu yang kembali lancar berlayar, biaya yang bisa ditekan, dan rasa aman saat musim hujan datang.

Harapan itu kini mulai mengalir, seiring air Sungai Sambong yang perlahan kembali menemukan jalannya ke laut. (Ito)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.