BANGKAPOS.COM – Mengetahui jadwal puasa Ramadhan 2026 lebih awal menjadi penting.
Tak hanya untuk persiapan spiritual, tetapi juga untuk mengatur agenda pekerjaan dan logistik keluarga.
Memasuki minggu ketiga Januari 2026, masyarakat Indonesia mulai mempersiapkan diri menghadapi bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.
Berdasarkan kalender masehi, tahun ini umat Muslim akan melaksanakan ibadah puasa di awal tahun.
Ketetapan mengenai awal puasa 2026 sendiri secara resmi masih menunggu hasil Sidang Isbat, namun sejumlah rujukan otoritas keagamaan telah merilis estimasi waktu pelaksanaannya.
Banyak masyarakat bertanya mengenai puasa 2026 berapa hari lagi.
Jika merujuk pada Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI, 1 Ramadhan 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Dihitung dari hari ini, Rabu (21/1/2026), maka hitung mundur puasa 2026 menunjukkan waktu sekitar 29 hari lagi.
Jika dikonversikan ke dalam satuan pekan, puasa 2026 berapa minggu lagi jawabannya adalah sekitar 4 minggu ke depan.
Bagi Anda yang bertanya puasa 2026 kurang berapa lagi, sisa waktu kurang dari satu bulan ini merupakan fase krusial.
Dalam periode ini, umat Muslim diimbau mulai mempersiapkan kesehatan fisik serta menyelesaikan kewajiban syariat yang tertunda dari tahun sebelumnya.
Pertanyaan mengenai kapan puasa 2026 atau Ramadhan mulai tanggal berapa kerap muncul karena adanya potensi perbedaan metode penetapan.
Di Indonesia, terdapat dua acuan utama dalam menentukan kalender Islam yaitu metode Hisab dan metode Rukyatul Hilal.
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, yang menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), telah menginformasikan bahwa awal puasa jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Metode ini berpatokan pada peredaran bulan dan perhitungan astronomis semata, tanpa harus melihat hilal secara fisik dengan mata telanjang.
Dalam pandangan Muhammadiyah, bulan baru dianggap sudah masuk apabila telah memenuhi tiga kriteria wujudul hilal secara kumulatif.
Karena menggunakan perhitungan matematis-astronomis, Muhammadiyah biasanya dapat mengumumkan tanggal awal puasa dan Idul Fitri jauh hari sebelum harinya tiba, bahkan melalui Maklumat resmi yang diterbitkan beberapa bulan sebelumnya.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan awal Ramadhan melalui sidang isbat yang dilakukan menjelang masuknya bulan Ramadhan.
Dikutip dari laman Kemenag, dalam praktiknya, sidang isbat melibatkan unsur pemerintah, MUI, perwakilan ormas Islam, dan para ahli, lalu memadukan data hisab serta laporan rukyat (pemantauan hilal).
Untuk kebutuhan acuan awal, publik juga sering melihat Kalender Hijriah 2026 yang disusun Kemenag.
Dalam kalender tersebut, 1 Ramadhan 1447 H dicantumkan jatuh pada 19 Februari 2026.
Potensi perbedaan awal puasa di Indonesia umumnya terjadi karena perbedaan kriteria visibilitas hilal.
Pemerintah Indonesia mengacu pada kriteria baru yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
Kriteria MABIMS menetapkan bahwa hilal dinyatakan sah atau dapat dilihat (imkanur rukyat) apabila ketinggian hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi (jarak lengkung Bulan-Matahari) minimal 6,4 derajat.
Perbedaan sering terjadi ketika posisi bulan sudah berada di atas ufuk (positif) menurut hisab Muhammadiyah, namun ketinggiannya belum mencapai standar 3 derajat atau elongasinya kurang dari 6,4 derajat menurut kriteria MABIMS yang dipakai Pemerintah.
Dalam kondisi seperti itu, Muhammadiyah akan menetapkan besoknya sudah masuk Ramadhan karena bulan sudah wujud.
Sementara Pemerintah akan menetapkan besoknya belum masuk Ramadhan karena hilal dianggap belum memenuhi syarat visibilitas untuk bisa diamati.
Namun, jika pada saat pemantauan posisi bulan sudah tinggi dan memenuhi syarat MABIMS, maka besar kemungkinan awal puasa Ramadhan 2026 akan berlangsung serentak.
Perbedaan metode ini merupakan hal yang lumrah dan sudah sering terjadi di Indonesia.
Hal ini menyebabkan adanya kemungkinan perbedaan satu hari dalam mengawali ibadah puasa di tengah masyarakat.
Sembari menunggu kepastian awal puasa 2026, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Kemenag mengingatkan pentingnya melunasi utang puasa tahun lalu.
Sebelum waktu habis, umat Muslim yang memiliki tanggungan wajib membayarnya dengan puasa qadha.
Salah satu syarat sah pelaksanaannya adalah dengan membaca niat mengganti puasa pada malam hari.
Berikut adalah lafal niat qadha puasa yang dirujuk dari panduan resmi Baznas:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi syahri Ramadhana lillahi ta’ala.
Artinya: "Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT."
Kemenag menegaskan bahwa batas waktu mengganti puasa adalah hingga bulan Syaban.
Sangat tidak dianjurkan menunda-nunda pembayaran utang puasa hingga mendekati hari-hari terakhir menjelang Ramadhan jika tidak dalam kondisi mendesak.
(Kompas.com/Resa Eka Ayu Sartika/Bangkapos.com)