TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pada hari kelima pencarian, ratusan tim SAR gabungan bersama anjing pelacak K-9 Belanda mengepung Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, untuk mempercepat pencarian korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh Sabtu lalu.
Operasi besar-besaran ini dilakukan di tengah medan ekstrem dan cuaca yang tidak menentu.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT mengangkut 10 orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Pesawat hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) pukul 13.17 WITA saat penerbangan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.
Dugaan sementara, pesawat menabrak tebing Gunung Bulusaraung sebelum jatuh di lereng curam.
Wakil Menteri Perhubungan Komjen Pol (Purn) Suntana menegaskan pencarian harus dipercepat.
Dalam rapat koordinasi di Kantor Basarnas Makassar, Rabu (21/1/2026), ia menyebut strategi pencarian kini dipecah menjadi empat zona fokus utama dengan melibatkan ratusan personel gabungan.
Selain jalur darat, tiga helikopter TNI, Polri, dan Basarnas disiagakan untuk operasi udara.
Baca juga: “Jalan Dulu Ya Pak” — Pamitan Terakhir Deden Maulana Sebelum Pesawat ATR Hilang
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, menjelaskan sembilan Search and Rescue Unit (SRU) disebar menyisir sektor temuan korban, serpihan pesawat, ekor di kedalaman 200 meter, jalur evakuasi, hingga operasi udara dengan helikopter.
"Seluruh SRU bekerja berdasarkan data koordinat dan hasil temuan di lapangan.
Medan curam dan cuaca ekstrem masih menjadi tantangan, namun operasi tetap dilaksanakan dengan mengutamakan keselamatan personel," kata Arif.
Direktorat Samapta Polda Sulsel juga menurunkan anjing pelacak Dutch Shepherd berusia 4 tahun.
"Kami datang ke sini untuk ikut membantu proses pencarian korban pesawat ATR 42-500," ujar Kanit Polsatwa Ditsamapta Polda Sulsel, Iptu Samuel Ary.
Pada hari kelima pencarian, tim SAR gabungan telah menemukan tiga korban dalam kondisi meninggal dunia.
Salah satunya adalah pramugari Florencia Lolita Wibisono, 33 tahun, yang berhasil diidentifikasi melalui sidik jari, data gigi, properti, serta ciri medis.
Selain korban, tim juga menemukan sejumlah komponen penting pesawat, di antaranya serpihan badan pesawat, Emergency Locator Transmitter (ELT), serta kotak hitam yang terdiri dari Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).
ELT berfungsi memancarkan sinyal darurat, sementara FDR dan CVR menyimpan data penerbangan serta percakapan di kokpit.
Ketiga komponen ini menjadi kunci untuk mengungkap penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500 tersebut.
Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyebut kemungkinan besar tidak ada korban selamat.
Namun ia tetap berharap adanya mukjizat.
"Tidak ada (yang selamat). Saya sampaikan kita masih tetap mengharapkan ada mukjizat, ada korban yang bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup," kata Syafii.